Kenapa Nasib Motor Korea Nggak Semulus Mobilnya?

Situasi Dipasar Korea

Apakah Hyosung sama Daelim ini sukses dirumahnya sendiri, seperti kasus Brand India yang mampu melawan ketenaran produk Jepang? Nah aslinya sih mereka itu lumayan juga jualannya.

Pada 6 bulan pertama tahun 2021 kemarin, merk lokal Korea setidaknya mampu kasih perlawanan ke produk impor dari merk Jepang sama Taiwan. Tapi, meskipun di Indonesia kita lebih familiar sama Hyosung, yang mimpin brand Korea disana justru Daelim.

Daelim Besbi versi Ekspor (Spanyol)

Ya, meskipun mereka sekarang cuma fokus jualan skuter matik plus gerombolannya, tapi itu juga yang bikin Daelim laris-manis dipasaran! Mereka sukses melepas lebih dari 30.000 unit motor, dimana sekitar 5000 unitnya itu diekspor ke luar negeri.

Sebaliknya, Hyosung yang mengandalkan produk yang terkesan Blue Ocean justru malah terseok-seok dinegaranya sendiri. Dan bukan cuma market domestik doang, secara ekspor pun Hyosung ini makin parah kondisinya.

Apalagi pas diterjang pandemi kemarin, market share Hyosung itu tercatat nggak sampai 6.000 unit di 6 bulan pertama 2021. Angka yang menurut pengamat dinilai sangat memperihatinkan. Lah kok saya jadi keingetan Suzuki ya? Soalnya mereka berdua bukan cuma punya kesamaan secara penjualan yang melorot drastis, tapi juga keduanya itu pernah kerjasama bareng sampai era 2000-an dulu.

Masalahnya, penjualan motor tahunan di Korea Selatan itu nggak kayak di Indonesia yang bisa sampai jutaan unit pertahunnya. Disana paling cuma 100 ribuan unit motor doang yang terjual setiap tahun.

Rekor tertinggi mereka dalam 15 tahun terakhir itu cuma 143 ribuan unit doang pertahunnya. Itupun terjadi di tahun pandemic 2020 kemarin… Sewaktu masyarakat di Korea butuh alat transportasi personal yang murah-meriah.

Korea Selatan itu lebih terkenal di Industri Roda 4 nya. Makanya kalau nonton drakor itu kebanyakan actor sama aktrisnya pakai mobil, dan tipikal jalanan disana pun jarang ada motor. Itu kata berita kekinian sih, soalnya saya nggak pernah nonton drakor.

Kenapa Industri Mobil Korea Lebih Maju?

Jalanan Korea, mana motornya?

Terus, kalau memang tergolong sukses secara penjualan di negara asal mereka sendiri, kenapa Daelim justru nggak melebarkan sayapnya ke pasar yang potensial kayak China, India atau Indonesia sih kang?

Nah, jangan salah! Meskipun angkanya kelihatan lumayan, tapi aslinya market share sepeda motor di Korea Selatan itu ternyata cuma 5% dari total penjualan produk otomotif secara total. Itu artinya di Kroya eh Korea, pamor sepeda motor kalah jauh dari roda 4.

Kalau saya cari tahu dari Yutuber-yutuber Korea sih masyarakat disana itu concern banget soal safety yang memang selalu jadi bahan pertimbangan antara motor sama mobil. Belum ditambah lagi dengan faktor iklim yang jauh berbeda dari negara tropis kayak Indonesia.

Tapi dibanding 2 alasan tadi, tamparan telak buat eksistensi motor di Korea adalah Hyundai Group. Yap, grup otomotif lokal Korea Selatan yang pegang merk Hyundai & KIA ini aktif banget bikin harga mobil jadi relatif terjangkau.

Kalau sudah gitu ya ngapain juga kan beli motor? Kalau saya hidup dilingkungan begitu ya lebih baik beli mobil sekalian, iya nggak? Intinya, industri roda 4 disana memang jauh lebih masuk akal dibanding roda 2. Atau simpelnya, Korea Selatan itu kultur bermotornya jauh lebih rendah dibanding negara-negara di ASEAN.

Itu sebabnya industri roda 2 disana kebanyakan dimanfaatkan kurir sama bisnis delivery makanan. Sisanya yang beli motor karena passion atau yang level enthusiast itu jumlahnya jauh lebih sedikit. Itu makanya di Korea jumlah mogenya juga lumayan, dan karena yang beli ini level enthusiast, biasanya mereka lebih seneng moge import.

Makanya, basic bisnis kayak Daelim yang jualan skutik sama maxi-scooter itu tetap bisa bertahan dari gempuran merk-merk non lokal Korea. Beda kayak Hyosung yang mainan pasar blue ocean, tapi malah kelihatan makin drop aja penjualannya. Apalagi sewaktu dihantam kondisi pandemi kayak sekarang ini.

Dan jangan lupa, karena industri mobil itu terus mengalami trend kenaikan dibanding sepeda motor yang kelihatan stagnan – bahkan cenderung menurun – ini juga pastinya jadi pertimbangan sendiri buat Hyosung sama Daelim. Soalnya inget, asal-muasal mereka itu dari konglomerat yang bisnis utamanya seputaran area finansial lho ya.

Dan silahkan dikoreksi kalau salah, biasanya tipikal pabrikan motor begini eksistensinya nggak bakal tahan lama. Seandainya bertahan pun, mereka tergolong susah berkembang. Beda kayak merk otomotif papan atas yang eksistensinya sudah teruji meskipun terus-terusan dihantam badai krisis.

Dihantem badai emisi gas buang, mereka tetap maju. Dihantam krisis berkali-kali, tetap bikin inovasi. Dihantam era motor listrik, mereka juga terus maju.

Dan karena pengembangan motor Korea di negara asalnya aja stagnan, terus kalian mau ngarep apaan dari mereka dipasar global? Apalagi di Indonesia yang hampir seluruh market sharenya diisi sama merk Jepang. Yaelah jangan ngarep bisa berkembang. Korbannya sudah banyak soalnya.

Istilahnya ngapain mereka invest di tempat yang jelas-jelas nggak menguntungkan secara jangka panjang?

Pabrik Hyundai Korea Selatan, luar biasa gedenya!

Kondisi ini kontras banget dari industri roda 4 mereka yang terus-terusan berkembang, karena memang di negara asalnya pun mereka maju. Dan bukan cuma dari sisi domestik doang, ekspansi global dari Hyundai Group juga kelihatan makin menggila.. Soalnya mereka itu lebih berani invest, sekaligus lebih pintar melihat trend pasar yang lagi maju.

SUV makin banyak peminat? Ya bikin SUV yang banyak juga tipenya. MPV premium lagi meningkat pamornya, bikin MPV premium yang bagus-bagus. Mobil elektrik lagi booming, bikin juga mobil listrik.

Sementara kalau kita bandingin sama apa yang dilakukan Kolao Holdings buat Hyosung, sama Daelim Group buat merk Daelim atau DNA Motors, buset jauh banget ini levelnya. Dari sisi line-up produk, jelas kalah jauh sama kompetitor. Dari sisi pengembangan produk, juga jauh lebih lambat dari merk non Korea. Dan dari sisi investasi secara global, yaelah makin parah atuh jadinya.

Jadi alasan kenapa brand mobil Korea itu jauh lebih terkenal dibanding motornya disini, permasalahan aslinya bukan cuma kondisi roda 2 Indonesia yang terkesan dimonopoli sama merk Jepang. Tapi sumber masalahnya bahkan sudah jauh lebih dalam dari negara asal mereka sendiri.

Soalnya kalau masyarakatnya sendiri aja cuma sedikit yang pakai motor brand lokal, ya otomatis brand yang dimaksud juga bakal kesulitan buat berkembang. Kayak di negara Konoha contohnya.

3 comments

  1. Hyosung belajarnya ama juki,ya rebah..coba ama honda atau yamaha..mungkin bisa survive kaya hero-nya india

Silahkan Berikan Komentar Brosist yaa ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s