Bukan Cuma Mesin Hybrid yang Gokil di Yamaha Fazzio

Jujur, waktu pertama saya lihat patent desain sama bocoran spek Yamaha Fazzio, saya sih be like,

Yaelah, ini mah matic mesin Mio Gear velg Freego yang dikasih body baru lagi. Okelah, skip aja.

Kang Eno, 3 detik sebelum lihat spek

Tapi begitu lihat spesifikasi detailnya di website resmi Yamaha, waiiiit waaaiittt…! Tunggu dulu, ini mah udah lain lagi ceritanya, bukan mesin Mio lagi nih yang dipakai!

Ya, cuma dalam waktu 3 detik, kayak sistem kerja Hybrid nya Yamaha, saya langsung berubah pikiran. Ini alasannya!

Oiya, kalau kalian niat baca artikel ini buat nyari pembahasan desain yang unyu-unyu, fitur kayak Y-Connect, gantungan barang, galon-able, atau stiker yang bisa dibeli kepisah, saran saya mending lihat review lain yang memang perduli sama tipe ginian. Bisa dimengerti, oke lanjut!

Mesin Baru, or Is It?

Sebenernya nggak ada yang terlalu nyimpang banget dari mesin Mio generasi 125. Tapi nggak tau kenapa, sejak perdana rilis bertahun-tahun lalu, saya nggak pernah sreg aja sama mesin 125 ini. Kayak mesin yang kurang – apa sih bahasa sundanya – “refined” gitu lho… Kasarnya, getarnya, eits tapi bukan gredeg ya. Gredek itu trademarknya Vario, Mio kalau make harus bayar trademarknya ke Honda.

Sebenernya Yamaha juga sudah bikin sedikit ubahan di generasi Gear 125 & FreeGo yang pakai klep buang baru, desain pulley depan-belakang baru (meskipun nggak tau kenapa v-belt nya justru nggak dibikin panjangan dikit), sistem SMG baru, sama ubahan juga dibagian head yang saya belum lihat gimana detailnya. Kata orang di Gear 125 terasa lebih asik sih akselerasinya.

Kata orang ya, saya sih belum nyoba. Soalnya sama sekali nggak ada niat beli metik gak jelas model begitu. Kecuali dikasih gratis.

Mungkin kerjaan engineer Yamaha ini mirip-mirip kayak prakarya Astra Honda Motor di mesin generasi Genio K0J kemarin. Secara spek standaran diatas kertas bagus! Potensi oprekannya juga luar biasa! Tapi aktualnya dilapangan? Lah kok gitu?

Tenaga standarnya saya nggak yakin lebih enak dari generasi eSP kemaren, potensi oprekannya juga jadi memble gara-gara klepnya unyu-unyu.

Waduh, ini jadi melenceng jauh banget pembahasannya. Oke, balik lagi ke laptop.

So, begitu lihat spesifikasi mesin Yamaha Fazzio ini, wah ini, saya langsung senyum-senyum sendiri. Soalnya selain ada sistem hybrid yang sebelumnya cuma bisa kalian temui di motor-motor muahaaall – bukan cuma harganya tapi maintenance nya juga muaahaall. Kali ini Yamaha menerapkan sistemnya ke kelas matik yang jauh lebih murah, plus dengan sistem yang juga jauh lebih terjangkau secara perawatan. Nah, sistem hybrid di Fazzio kita bahas setelah ini ya.

Terus rasa kaget kedua waktu lihat speknya ada di kolom rasio kompresi mesin. Saya kayak yang, ebuset, itu nggak salah rasio kompresi mesin dibikin 11:1!? Kalau ini motor liquid-cooling sih wajar aja, tapi buat mesin yang sumber pendinginan eksternalnya cuma dari angin kipas magnet? Buset, padet banget ini rasio kompresi! Rasio kompresi mesin Genio yang sebelumnya kita anggep gede, mendadak jadi biasa-biasa aja begitu lihat spek Fazzio.

Mesin Yamaha Mio M3 generasi 125 awal

Dengan rasio kompresi mesin yang jauh banget bedanya dari generasi Mio sama FreeGo ini, berarti ada beberapa poin yang bisa kita ambil kesimpulan. Pertama, kemungkinan blok headnya bakal beda jauh sama generasi sebelumnya. Kedua, kalau headnya sama berarti pistonnya yang bakal beda, dan bisa jadi opsi modifikasi ke user Mio generasi sebelumnya.

Dan ketiga, bisa aja semuanya beda. Saya belum nemu perbedannya, soalnya sampai video ini saya rilis, belum ada update di katalog part Yamaha.

Meskipun ya nggak semuanya tiba-tiba jadi poin plus di mesin ini. Soalnya blok diasilnya masih dipertahankan sama Yamaha. Yang artinya kalian tetap harus cek ketinggian oli dari dipstick. Plus, inget, olinya harus ori. Plus jangan lupa juga, filter udara harus rajin ganti kalau daerah kalian berdebu. Ingat, Diasil, Nikasil, DLC, atau plating silinder apapun itu nggak suka sama serbuk debu kecil yang nantinya bisa jadi endapan karbon atau lumpur.

Pokoknya harus banyak yang diingat kalau pakai DiAsilnya Yamaha.

Soalnya kalau ngasal, kalian bukan cuma harus keluar budget buat beli piston sama ringnya satu set kalau kilometer sudah di angka 50.000 km (sesuai panduan Yamaha)… Tapi juga sekaligus beli blok silinder baru sekalian! Soalnya blok silinder DiAsil itu nggak bisa cuma korter ulang sama beli piston oversize kayak di matic Honda atau Suzuki yang keluaran baru.

Sebenernya jujur, buat saya DiAsil nggak semenakutkan itu kok. Buktinya saya pakai Aerox R-version yang sekarang sudah 50.000 kilometer, tapi masih mampu dipaksa drain setiap 3.000 kilometer pakai oli Super Matic standar yang sering dicap “meh” sama pakar diluar sana.

*Dengan catatan waktu ngisi pertama itu cuma sampai level oli tertinggi di dipstick, atau nggak sampai 900ml. Sisanya buat nambahin kalau kelihatan berkurang. Biasanya sih di 1.500 km baru kelihatan berkurang. Kalau sudah ditambahin, ya gas lagi.

9 comments

  1. Bener2 terobati kangennya masa2 dlu artikel sering nongol .. walau skg beralih ke YouTube tapi tetep aja buat yg old-school blog ini lebih menarik .. apalagi bahasanya yang mudah dimengerti .
    Trma ksh Kang eno

  2. Masak sih di Yamaha rekomendasikan ganti piston , ring dan blok di 50.000 km? Pengalaman naik scorpio km sudah lebih dari 50.000 km bahkan mungkin 2x nya ( Krn Speedo di copot) ga ada kendala ga pernah ganti dalaman mesin bahkan kampas kopling blm ganti ( cuma saat ganti oli terlihat serbuk logam tipis begitu pula saat pake aerox terakhir pake km 46.000 Masin masih prima. Merek lain juga sama ga perlu khawatir dg pernyataan mesti ganti komponen mesin tiap 50.000 km asal oli yg digunakan asli dan sesuai speknya.
    Maaf kalau rekan yg lain beda pengalamannya

    • Khusus yang DiAsil emang nggak harus ganti kang, minimal pengecekan, kalau bisa bongkar sendiri lebih bagus. Saya juga ada Aerox sudah 50.000 km tapi masih seger, dan memang belum perlu dibongkar.

      Yang saya tekankan 50k km itu batas habis garansinya diasil kang, jadi ya kalau ngerti teknis harusnya bisa artiin sendiri kenapa.

    • legenda (2001) bapak saya malahan sudah balik 2X kembali ke 00000KM. masih aman saja. tapi memang sih gak pernah kenceng bawanya. paling ea 50-70kpj doang. mesin belum ada kendala,tutup rantai masih utuh walao cat udah pada bulukan.oli pake shel hx7 ga pernah ganti merk laen.

  3. Crankcase & its cylinder head nya kode nya sama dengan freego.
    Fazzio beda nya di piston set nya aja yg berdampak ke kompresi.
    Asumsi Sf masih reliable terhadap load, karena adanya Diasil yamaha yang bertujuan strengthened matl tsb.

Silahkan Berikan Komentar Brosist yaa ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s