Motor 250cc Ini Silindernya Ada 6 Biji! HONDA RC166

THE BIRTH OF 6 CYLINDER

Yamaha RD56

Kesuksesan Walter Kaaden mendevelop teknologi Rotary Disc Valve & Exhaust Expansion Chamber membuat popularitas motor balap 2-Tak melonjak secara drastis. Hal ini tentunya jadi kabar baik buat Suzuki & Yamaha, pabrikan Jepang yang memang mengandalkan mesin 2-Tak di motor konvensionalnya.

Ketika Suzuki – as always – memusingkan diri sendiri dengan mendevelop motor 250cc square four yang nggak kelar-kelar masalahnya, Yamaha justru lebih cerdik memanfaatkan teknologi 2-Tak tersebut. Pabrikan garputala justru bikin motor yang lebih simpel dengan mesin 2-Tak Twin Silinder plus Rotary Valve sama Expansion Chamber… Namanya adalah Yamaha RD56.

Meskipun speknya simpel, tapi nggak dengan tuningannya. Yamaha kasih semua yang mereka bisa ke motor ini… Autolube atau pompa oli samping terpisah, check! Material kelas dewa, check! part mesin ringan supaya bisa digeber high-RPM, juga check!. Hasilnya, RD56 ini sukses punya power mesin sekitar 50 HP. Atau bahasa simpelnya, bencana buat Honda.

Phil Read – Yamaha RD56

Ya, Honda RC164 yang disiapkan buat GP250 musim 1964, ternyata punya output power yang lebih rendah dari Yamaha RD56. Meskipun demikian, Jim Redman terlihat mampu mengimbangi duo Phil Read & Mike Duff yang jadi joki Yamaha.

Sampai akhirnya kemenangan beruntun Phil Read di seri Jerman Barat, Jerman Timur, dan Ulster GP secara beruntun bikin Jim Redman cuma bisa nangis dipojokan ngelihat betapa ganasnya perfoma motor 2-Tak Yamaha.

Yamaha memenangkan title constructor untuk pertama kalinya dikelas 250cc. Sementara jelang 2 seri penutup di musim 1964, Phil Read melengkapinya dengan titel Juara Dunia Rider.

Sementara dikubu pabrikan sayap, Honda-san mendapat banyak tekanan soal hasil buruk mereka dikelas GP250. Kalah dari pabrikan sesama Jepang aslinya nggak begitu penting… Tapi kalah dari pabrikan yang ngandelin motor 2-Tak. Ini baru bikin Honda-san naik darah, karena filosofi motor 4-Tak powerfulnya mulai terganggu.

Nah, karena mereka nggak mau ikutan pakai mesin 2-Tak, gimana cara Honda bisa hentikan dominasi Yamaha? Well, salah satu cara paling “gampang” adalah dengan forced induction kayak Turbo atau Supercharger, tapi sayangnya ini dilarang dibalapan GP.

So, Honda-san dipaksa buat pakai cara yang bisa dibilang impossible di era tersebut. Yaitu dengan melipat gandakan putaran mesin atau RPM nya jadi 2 kali lipat motor kompetitor… Atau motor 4-Tak yang bisa berkitir sampai 20.000 RPM. Caranya gimana? Yap, dengan menambah jumlah silindernya!

Jim Redman – Honda 3RC164

Sayangnya, ada problem yang bikin project ini terbilang imposible. Pertama, desain motor 250cc multisilinder ini butuh skill & precision engineering yang super duper tinggi. Kalau sebelumnya Honda pakai batas milimeter sebagai acuan manufacturing, sekarang mereka harus pakai satuan micron atau 1 per 1000 milimeter.

Untungnya, Soichiro Honda terkenal sebagai salah satu natural engineer terbaik dunia. So, harusnya nggak ada masalah buat problem ini.

Problem kedua, sekaligus yang paling musingkeun… Project ini bakal butuh budget super massif yang mungkin nggak masuk akal buat ukuran pabrikan baru sekelas Honda. Tapi surprise, untungnya kondisi keuangan Honda waktu itu juga tengah melejit berkat meledaknya penjualan Super Cub di Jepang dan pasar global.

Ironinya, project motor paling eksotik dari Honda ini, bakal dibiayai sama motor paling basic yang mereka jual dipasaran. Dan ini masih berlaku sampai sekarang, thanks untuk kalian semua yang beli jutaan unit skuter matik Honda per tahunnya.

Honda 3RC164 – Monza, Italia

Project motor balap 250cc 6 silinder Honda dimulai pada Agustus 1963, dan diproyeksikan buat dites secara perdana via gelaran Isle of Man TT. Tapi thanks untuk project F1 Honda yang ganggu proses R&D, motor berkode 3RC146 ini baru selesai pada seri Monza, di Italia.

Dan boy oh boy… Honda 3RC146 bukan cuma mengejutkan seisi paddock GrandPrix, tapi juga sekaligus bikin public Italia melongo waktu denger raungan mesin 6-silindernya yang melengking dahsyat. Dan mesin ini bukan cuma kencang suara knalpotnya doang lho ya, topspeednya juga sukses bikin malu RD56 di trek yang terkenal dengn julukan Temple of Speed ini.

Sedihnya, speed dan power 3RC164 ini jadi boomerang buat part lainnya. Ketika debut di sirkuit Monza, motor 250cc 6 silinder ini dihantui sama problem kayak oli mesin overheat, sampai sasis dan pengereman yang nggak mampu handle performa motor ini.

Honda sebenernya nggak tinggal diam, mereka kasih upgrade berupa oil pan yang offside buat pendinginan kayak di RC115, plus upgrade di sasis dan pengereman yang lebih kuat.

Sayangnya, trik yang dilakukan Honda ini justru bikin bobotnya tambah berat. Walhasil, sampai pertengahan musim 1965, Yamaha kembali mampu menguasai kelas 250cc.

2 comments

  1. kalo diinget2 cerita jatuh bangunnya soichiro ngebangun honda dan rc166 ini yang bikin saya jadi FBH

Silahkan Berikan Komentar Brosist yaa ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s