1983 – Final Form NR500

Well, sasisnya berubah lagi dari baja tubular, ke aluminium, sekarang pakai carbon fiber. Swingarmnya pakai carbon fiber. Disc brake nya carbon composite berukuran lebar. Velg nya full carbon fiber. Knalpotnya titanium ditambah silencer dari carbon fiber. Sementara bodywork nya itu, bukan plastic ABS kaya di Honda BeAT itu, tapi pakai CFRP alias Carbon Fiber Reinforced Plastic. Jangankan body, bahkan baut pun dibikinnya pakai titanium!
Dan parahnya lagi, part yang nggak memungkinkan dibuat dengan material titanium atau carbon, itu dibikin pakai material magnesium.

Sayangnya, NR500 ini adalah versi GP500 terakhir Honda yang bermesin 4-Tak. Effort motor GrandPrix Honda bermesin 4-Tak harus vakum hampir 2 dekade lamanya, sampai nantinya kembali lagi dengan motor yang lagi-lagi paling fantastis dikelas MotoG, RC211V.
Honda NR500 mungkin adalah kegagalan yang paling spektakuler dari Honda, tapi effort pantang mundur Honda saat comeback ke balap GrandPrix melahirkan seabrek terobosan baru. Dan ini bukan cuma dari sisi teknologi & engineering, tapi juga talenta-talenta muda yang gigih dan bakal jadi sosok besar bagi Honda kedepannya. Konsep oval piston Honda memang gagal, tapi dari konsep tadi juga lahir inovasi baru yang nantinya jadi standar bagi dunia balap Internasional.
Dan menariknya, filosofi ini benar-benar klop dengan nama awal project ini: NEW RACING.
Honda NR500 Final Form (3X)
4-Stroke, 499cc, 100° V4 Oval Piston, Magnesium Engine
Dual Oil & Water Cooling, DOHC 32 Valves, Cam-Gear Train
6-Speed Gearbox, with Back Torque Limiter, Titanium-Carbon Exhaust
Carbon Perimeter Frame, Carbon-Magnesium Front Suspension
Carbon Swingarm, Carbon Composite Disc Brake, Comstar Carbon Wheels
Carbon Fiber Reinforced Plastic (CFRP) Bodywork
135 HP @ 19.000 RPM


Akhirnya terpuaskan lagi membaca narasi bro Eno yg cocok buat saya. Jujur saya termasuk tipe konservatif, lebih suka baca drpd nonton yutub. Keep posting, kangbro.
sama bro, saya lebih suka baca dibanding didongengin orang, makanya saya ga suka podkes yutub, saya termasuk golongan visual learner akut, mending liat foto atw video tanpa sound tapi ada caption, kalo dimixed-up sama sound sebagai narasi saya malah jadi buyar fokus.
thanks buat mang eno yang masih nulis artikel berbobot.