The Story of Honda NR500 (Part 2)

1981 – Light & Shadow

Takazumi Katayama – Honda NR500-3 (2X)

Merasa power yang dihasilkan sudah mencukupi untuk melawan jagoan 2-Tak dari Yamaha & Suzuki, Honda memfokuskan pengembangan NR500 generasi ketiga ini ke satu titik: pengurangan bobot secara signifikan tanpa mengganggu unsur handling dan durability komponen.

Loh, tadi kan katanya competitor juga sudah pakai material eksotis yang super enteng kayak Honda. Terus Honda kudu pake apaan lagi yang lebih enteng dan lebih kuat? Well, soal ini engineer New Racing masih punya kartu as yang selanjutnya: Carbon Fiber.

Ya, sebelum penggunaan karbon fiber di dunia balap dipopulerkan Formula 1 oleh engineer Lotus & McLaren, Colin Chapman & John Barnard – Honda sebenarnya sudah melakukan riset besar-besaran untuk material ini sejak project awal New Racing dimulai. Memasuki musim 1981, riset tersebut mulai membuahkan hasil. Sekarang Honda punya material baru yang belum dimiliki lawan: Carbon Fiber.

Awalnya, Honda itu cuma meriset serat karbon untuk mencetak komponen tertentu yang nggak begitu sulit, kayak sasis monokok, palang velg, dan printilan sambungan sasis kecil lainnya. Tapi setelah mengetahui keunggulan part ini, buset bro, semua part NR500 langsung dipersiapkan buat pakai material carbon!

Dan gokilnya carbon fiber yang dipakai Honda ini bukan cuma dicetak secara layer moulding kaya di balapan F1. Tim Engineering Honda juga sampai sukses bikin material carbon composite, yang nantinya dipakai buat bikin part kaya kampas kopling, sampai ke carbon disc brake. Ya, kalau kalian nggak percaya, Honda NR500 yang lahiran tahun 80-an ini sudah pakai rem cakram dari material carbon composite.

Masih ingat kapan FIM membuat regulasi carbon disc brake sebagai rem standar kelas MotoGP? Ya, baru kemarin di tahun 2014… Atau 33 tahun setelah dipakai NR500! Bukan cuma sampai disitu doang, Honda bahkan sampai membuat tabung shock teleskopik depan pakai material carbon fiber!

Freddie Spencer – Honda NR500-3 (2X)

Untuk mempercepat proses R&D, Honda bukan cuma membawa NR500 ke balapan GP500 doang, tapi juga dijadwalkan untuk ikutan race All-Japan Championship di Suzuka, AMA Road Race di Laguna Seca. Di race All-Japan Championsip, Honda NR500 secara mengejutkan mampu mengalahkan kompetitor 2-Tak dan merebut title juara Suzuka 200km Race! Sementara di Amerika, NR500 juga mampu unjuk gigi bareng anak emas baru Honda, Freddie Spencer. Spencer sukses mengalahkan duet ikonik Kenny Roberts dan Yamaha kuningnya di sesi kualifikasi untuk merebut pole position.

Keberhasilan Honda di All-Japan Championship tak lepas dari strategi pitstop yang harus diambil oleh kompetitor 2-Tak. Dimana NR500 yang bermesin 4-Tak, punya konsumsi BBM yang jauh lebih irit sehingga tak membutuhkan pitstop.

So, apakah itu artinya Honda NR500 sudah benar-benar kompetitif untuk menantang motor GP500 bermesin 2-Tak? Ternyata nggak juga. Di musim 1981, posisi finish terbaik Honda cuma diposisi 13 – alias masih jauh dari poin pertama mereka.

Problemnya? Well, apalagi kalau bukan performa & daya tahan mesin. Selain masih jauh dibawah level performa RG500 & YZR500, Honda NR500 juga masih punya problem fundamental soal daya tahan komponen sewaktu terus digeber sampai ke limit tertinggi. Endingnya, musim 1981 yang awalnya menjadi goal Honda menjadi juara dunia, mereka justru harus pulang ke Jepang tanpa satu poin pun dikelas GP500.

Honda NR500-3 (2X)

4-Stroke, 499cc, 90° V4 Oval Piston, Magnesium Engine

Dual Side-Mounted Radiator, DOHC 32 Valves, Cam-Gear Train

6-Speed Gearbox, with Back Torque Limiter

Steel Tubular Frame, Alumunium Swingarm

Carbon Disc Brake, Comstar Carbon Fiber Wheels

130 HP @ 19.000 RPM

2 comments

  1. Akhirnya terpuaskan lagi membaca narasi bro Eno yg cocok buat saya. Jujur saya termasuk tipe konservatif, lebih suka baca drpd nonton yutub. Keep posting, kangbro.

    • sama bro, saya lebih suka baca dibanding didongengin orang, makanya saya ga suka podkes yutub, saya termasuk golongan visual learner akut, mending liat foto atw video tanpa sound tapi ada caption, kalo dimixed-up sama sound sebagai narasi saya malah jadi buyar fokus.

      thanks buat mang eno yang masih nulis artikel berbobot.

Silahkan Berikan Komentar Brosist yaa ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s