Ini yang Bikin Balapan Moto3 Lebih Spesial Dibanding Moto2!

Moto3 itu sering disebut sebagai balapannya para pemula sebelum nantinya melangkah ke kelas yang lebih tinggi kayak Moto2 atau MotoGP. Balapannya sendiri saya jamin seru dan bakal bikin ketagihan yang nonton, karena dipenuhi aksi slipstream, overtake, bahkan kadang sampai saling senggolan.

Pokoknya balapan Moto2 mah lewat!

Tapi, spek motornya kalau kita baca sekilas justru nggak terlalu spesial, karena cuma pakai mesin 4-Tak, 250cc dengan silinder tunggal… Atau spek yang sama kayak mesin Kawasaki Z250SL saya dirumah. Loh, kok bisa sih kang balapan 250cc silinder jomblo gini masuk ke kejuaraan MotoGP?

Nah, itu karena kita lihat kejuaran Moto3 secara cangkang kulit luarnya aja! Soalnya, meskipun ini balapan kelas pemula, tapi sama sekali nggak ada yang level pemula soal motornya. Terlebih apabila dilihat dari sisi engineering, Moto3 ini punya aspek teknikal yang justru lebih dekat ke MotoGP dibanding Moto2 sekalipun.

Nah, penasaran apa aja faktor yang bikin motor Moto3 ini sangat spesial? Yuk langsung aja kita bahas!

MOTO3 ENGINE

Mesin Moto3

Seperti yang disebutkan tadi, kalau dilihat cuma dari cangkangnya, mesin Moto3 ini punya spek yang mirip Ninja 250SL, KTM RC250, atau CBR250R CBU yang nggak laku di Indonesia… Pakai mesin 250cc, 4-Tak, DOHC 4 Valve dengan pendingin cairan. Tapi, cuma disitu doang kesamaannya! Dari detailnya sama sekali nggak ada yang sama antara keduanya.

Perbedaan pertama bisa kalian lihat dari konstruksi mesinnya sendiri. Motor Moto3 itu punya ukuran blok silinder & head yang jauh lebih slim dibanding motor 250cc silinder jomblo dipasaran. Kenapa lebih slim? Tujuannya untuk mengurangi bobot mesin secara signifikan.

Pasalnya, crankcase, blok silinder & head mesinnya itu nggak boleh dibikin pakai material eksotik kayak Magnesium. Regulasi hanya mengijinkan part ini dibikin pakai alumunium alloy, itupun nggak boleh di CNC atau pakai Billet, harus dibikin pakai cara cetak atau casting buat menghemat cost produksi.

Khusus buat motor kayak NSF250RW bikinan HRC, yang satu ini bahkan pakai penempatan mesin tipe reverse cylinder, atau lubang knalpotnya itu menghadap ke bagian belakang mesin, sementara intake nya justru didepan. Fungsinya buat mempercepat proses intake, lantaran NSF ini sudah pakai RAM Air System. Itu makanya sejak musim 2015 silam, motor ini pakai model undertail.

Perbedaan kedua ada di internal mesinnya, kalau biasanya motor 250cc silinder jomblo itu pakai piston berdiameter 72, 75 atau 76mm, nah motor Moto3 ini pakai piston yang lebih gede. Honda NSF250RW pakai piston 78mm, sementara KTM RC4 81mm. Diameter piston lebar ini memungkinkan motor Moto3 buat pakai ukuran klep lebih lebar buat memaksimalkan proses intake sama exhaust.

2014 Moto3 World Champion, Alex Marquez

Terus kenapa nggak pakai seher lebih gede aja kang, 85mm gitu? Nggak bisa gitu! Soalnya ukuran piston ini juga sudah diatur oleh regulasi. Maksimum ukuran piston yang dibolehkan itu cuma 81mm doang. Boleh casting atau forging, tapi materialnya harus pakai aluminum alloy kayak motor dipasaran.

Selain buat bikin proses intake sama exhaust lebih mumpuni, piston gede ini otomatis juga bikin langkah stroke nya jadi lebih pendek dibanding motor 250cc jomblo dipasaran. Karena langkah stroke nya lebih pendek, otomatis piston speed di putaran RPM tinggi juga lebih aman.

Makanya, motor Moto3 itu bisa berkitir sampai 13.500 RPM. Beda kayak Z250SL saya dirumah yang sudah “batuk batuk” di 10.500 RPM.

ECU & Dashboard Single Spec FIM Moto3

Kenapa cuma 13.500 doang RPM nya? Kenapa nggak 15.000 atau 20.000 RPM sekalian limiter RPM nya? Well, kalau sampai setinggi itu sih pastinya bakal nggak efisien buat laptime karena akselerasi & kurva powerband bakal makin melandai. Tapi alasan kenapa motor Moto3 ini nggak bisa kasih RPM lebih tinggi, karena memang sudah dibatasi regulasi maksimum di 13.500 RPM.

Pembatasan RPM ini dilakukan FIM dengan cara menggunakan ECU yang sama buat semua pabrikan yang ikutan Moto3. ECU nya ini adalah Dell’Orto DoPE 2.0 atau 3.0, komplit dengan speedometer Dell’Orto DoDASH yang juga harus dipakai semua pabrikan. Cuma tuning sama mapping yang dibolehkan buat diedit, tapi limiter RPM nya dikunci secara penuh sama software FIM.

Satu-satunya part mesin yang nggak dikasih diregulasi sama FIM itu cuma setang piston, klep & per klepnya yang boleh dibikin pakai material Titanium. Saya yakin sih semua produsen motor Moto3 pasti pakai Conrod sama Klep Titanium. Ya iyalah, kalau nggak dilarang regulasi pasti sudah kemana-kemana itu part mesin Titanium.

Soalnya, sampai ke penggerak noken asnya juga dilimit sama regulasi. Di kelas Moto3 ini dilarang pakai gear driven camshaft eksotik yang biasanya jadi identitas motor balap Honda dari dulu. Yang diijinkan oleh FIM hanya rantai keteng (chain driven cam)c biasa!

Terus gimana dengan pneumatic valve sama seamless gearbox kayak di MotoGP? Yap, sudah pasti dilarang regulasi. Bolehnya cuma pakai per klep sama gearbox konvensional.

Loh, kalau ECU, RPM, Diameter Piston & material part lain dibatasi sama FIM, terus gimana dong cara produsen motor Moto3 bikin power mesinnya tambah gede? Nah ini, pertanyaan yang kita bahas di halaman selanjutnya!

4 comments

  1. kelas mahal yang kalo nonton di tv sperti iring-iringan siput mau ngantri pertamax yang dipercaya bisa naikkin hp sampai 1000% sesuai dengan perubahan harga yang terjadi

  2. NSF250R (tanpa W) bentuk bodynya ikonik banget, yang RW malah jelek…
    kalo KTM dari generasi awal entah kenapa kok aneh ya, kaya deformed/bantet gitu deh

Tinggalkan Balasan ke Kencleng Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s