Kayak Gimana Sih Bentuk Skutik Pertama Honda?

Percobaan Pertama

Di tahun 1946, persis setelah perang dunia II berakhir, sebuah skuter inovatif diperkenalkan ke publik dengan nama Piaggio Vespa. Pada waktu yang bersamaan dibelahan bumi lain, Jepang juga menghadirkan skuter miliknya sendiri, bernama Fuji Rabbit & Mitsubishi Silver Pigeon. Awalnya ketiga skuter ini sama sekali nggak dianggap. Bahkan Vespa yang kita kenal sebagai Legend nya skuter, itu cuma terjual 2.400-an unit doang ditahun pertama.

Nah, diwaktu yang sama juga, datanglah Honda-san yang saat itu masih memproduksi sepeda gowes dengan tambahan motor 50cc. Begitu karyanya ini diterima pasaran, kemudian mendirikan Honda Motor Company tahun 1949 bareng perilisan Honda Dream, nasib Vespa dan skuter Jepang ternyata sudah berbeda jauh. Vespa sukses terjual ratusan ribu unit, dan lisensinya sudah dibeli oleh berbagai negara untuk diproduksi secara lokal.

Honda-san yang memang grand-prix minded awalnya nggak terlalu ambil pusing dengan kiprah Vespa. Buat sang maestro mah yang paling penting itu motor sport 4-Tak dan berpower besar. Tapi, begitu melihat Fuji Rabbit & Mitsubishi Silver Pigeon yang sukses dipasar domestik Jepang, Honda perlahan-lahan melunak. Kemudian memutuskan untuk membuat skuter tandingan saat memasuki era 50-an.

Tapi inget, di era tersebut Soichiro Honda masih menjadi bos besar sekaligus chief para engineer Honda. Atau istilahnya, semua motor yang mau masuk meja produksi, harus mendapatkan acc dari Honda-san dulu, baru bisa diproduksi. So, meskipun cuma produksi skuter doang, standar yang ditetapkan saat itu tingginya selangit. Engineeer Honda nggak boleh asal ikut-ikutan bikin, mereka harus pakai inovasi baru yang belum pernah ditemui dipasaran.

Dan hasilnya bisa ketebak, dibanding bikin skuter yang simpel kayak kedua pesaingnya di Jepang, Honda malah bikin skuter yang paling ribet, paling unik, dan paling musingin di era 50-an.

Ketika Piaggio, Fuji & Mitsubishi masih berfokus ke skuter mungil yang ringan & easy-to-use, Honda justru memilih skuter berukuran jumbo dengan tipe touring – atau yang mirip-mirip Maxi-scooter modern di era sekarang ini. Kemudian disaat pabrikan skuter lain masih menggunakan sasis monokok dari bahan lembaran baja yang dipress, Honda justru memilih sasis baja kombinasi seperti motor sport pada umumnya. Sementara untuk bodinya, mereka menggunakan material FRP atau Fibre Reinforce Plastic, atau saat ini kita kenal dengan nama Fiberglass.

Ya, meskipun sekarang kita rada ilfeel kalau nyebut body motor berbahan Fiberglass, tapi skuter Honda ini jadi yang pertama lho pakai teknologi beginian di sepeda motor. Dan kalau kalian ngeh, tipe body & sasis model beginilah yang kedepannya jadi basis untuk skutik modern, seperti yang bisa kalian lihat sekarang di metik yang dijual di Indonesia.

Harapannya, kombinasi bobot sasis konvensional & body fiberglass ini bisa jauh lebih ringan dibanding sasis monokok, plus juga membuat handlingnya jadi lebih lincah, dan lebih stabil… Harapannya.

Di sektor mesin, kayak biasanya, Honda-san langsung skip konsep skuter 2-Tak berkapasitas mungil seperti yang ditawarkan Vespa & Mitsubishi. Honda memilih pasang mesin 4-Tak silinder tunggal berkapasitas 189cc, dengan power mencapai 7,5 HP.

Kalau dilihat-lihat, karakter mesin yang dipakai Honda ini jauh beda sama skuter yang ada dipasaran, soalnya lebih mirip sama motor sport di era 50-an. Terbukti dari bentuk mesinnya yang tegak ala motor sport, plus tipe koplingnya yang full manual kayak motor sport pada umumnya… Lah, ini sih namanya beneran motor sport yang dipasangin body skuter dong jadinya.

Karena mesinnya tergolong high power plus ditutup body fiberglass, otomatis Honda harus memberikan pendinginan tambahan di mesin ini. Dan jawaban yang mereka berikan adalah kipas mesin yang mirip kayak matik berpendingin udara jaman sekarang.

Motor ini diperkenalkan pertama kali kepasaran pada tahun 1954, dengan nama Honda Juno K. Dan sialnya, nggak mendapatkan respon positif. Konsumen menilai Honda Juno ini terlalu besar & berat karena kombinasi sasis baja & body fiberglass sama sekali nggak membantu ngurangin bobotnya.

Honda Juno juga dinilai terlalu ribet, karena mesinnya identik dengan motor sport yang harus pakai kopling manual, plus ada windscreen gede + ekstra sun shade yang harus disetting manual sesuai kebutuhan.

Padahal di motor modern, yang begini malah diapresiasi ya?

Ditambah dengan harganya yang lebih mahal, plus problem mesin overheat karena kurang pendinginan juga jadi alasan konsumen ogah melirik skuter pertama Honda ini. Berdasarkan data wikipedia, Honda Juno hanya terjual sebanyak 5.000-an unit doang, dimana pesaingnya Fuji Rabbit & Mitsubishi Silver Pigeon yang lebih simpel justru menguasai lebih dari 95% market skuter Jepang.

Terus, apa yang dilakukan Honda selanjutnya? Yes, seperti Honda dijaman dulu Mereka justru membuat Juno jadi lebih kompleks lagi ditahun selanjutnya… Bareng Juno versi KA & KB yang punya mesin baru berkapasitas 220cc dengan power yang lebih gede lagi. Harapannya, kenaikan power ini mampu membuat poin minus bobotnya yang terlalu berat jadi nggak terasa. Padahal mah aslinya malah bikin konsumen tambah lieur. Akhirnya, pada akhir tahun 1955, semua tipe Honda Juno K distop produksinya.

8 comments

  1. naek metik itu kagak ada ‘macho2″ nya sama sekali ya kang. coba bawa cb200 (1974) pasti banyak yg ngelirik..

  2. Kalau berkenan bisa sekalian bahas tentang sejarah Honda Dream 50 atau CR110 kang eno, dan kenapa sampai bisa direproduksi ulang tahun 90an itu motor.

Silahkan Berikan Komentar Brosist yaa ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s