Tadao Baba, Father of the FireBlade!

Waktu masih SMA dulu, saya pernah membaca majalah yang membahas tentang Honda CBR1000RR Fireblade. Tapi bukan si pedang apinya yang bikin saya tertarik buat baca! Soalnya waktu itu, dibanding aspek teknikalnya – yang biasanya bikin saya berjam-jam baca buat dipelajari – justru cerita dibalik penciptaan si Fireblade lah yang bikin saya terinspirasi.

Nah mumpung tahun ini masih memperingati ulang tahun ke-30 Honda Fireblade, daripada bahas motor yang harganya cuma bisa dinikmati segelintir golongan, lebih baik kita bahas dari sudut pandang yang lain aja yuk!

Soalnya gelar Fireblade ini bukan cuma soal motor berharga ratusan juta, atau bahkan milyaran… Tapi jauh lebih down to earth daripada yang kalian kira sebelumnya.

TADAO BABA

Ketika Tadao Baba diterima sebagai karyawan Honda Motor Company tahun 1962 dulu, umurnya baru 18 tahun, dan cuma lulusan high school atau sekelas Sekolah Menengah Atas. Dan seperti halnya di Indonesia, kalau kalian nggak punya orang dalem… Yaudah, siap-siap aja bersahabat dengan jabatan kuli produksi. Ini bukan merendahkan atau gimana lho ya, soalnya saya juga pernah bertahun-tahun jadi operator produksi.

Dan begitupun cerita Baba-san dimulai di Honda. Orang yang nantinya bakal punya julukan The Father of the Fireblade ini, ternyata awalnya memulai karir sebagai operator casting cylinder head di divisi permesinan Honda. Jauh dari impiannnya yang kepengen jadi test rider.

Menurut Baba-san, 3 tahun pertamanya sebagai karyawan Honda adalah momen yang paling membosankan. Sampai akhirnya di tahun 1965, datang angin segar.

Tadao Baba (2002)

Karena banyaknya produk yang disiapkan untuk memasuki era selanjutnya, Honda jadi kekurangan test rider. Dan karena rasa antusias yang tinggi terhadap kerjaan ini, Tadao Baba dipilih sebagai salah satu kandidat test rider di pabrik Honda. Simpelnya, cuma dalam waktu 3 tahun, mimpi Baba-san jadi kenyataan.

Tapi siapa sangka, impian tadi justru cuma jadi batu loncatan Tadao Baba untuk menjadi sosok yang mungkin nggak pernah dibayangkan sebelumnya.

Setelah 5 tahun bergelut sebagai rider development rider Honda yang bertanggung jawab seputar handling, stabilitas motor & jetting karburator… Nama Tadao Baba langsung melejit dikalangan karyawan Honda sewaktu sukses memenangkan kejuaraan balap domestik 125cc Jepang!

Dengan pencapaian tadi, otomatis nama Tadao Baba langsung masuk radar Soichiro Honda. Sang legend yang sekaligus pendiri Honda tadi langsung menempatkan Baba-san sebagai salah satu deputy project manager motor Honda mulai tahun 1975.

Tadao Baba – Soichiro Honda

Soalnya meskipun mereka berdua beda generasi, tapi secara backgound, Soichiro Honda sama Tadao Baba itu punya banyak banget kesamaan. Dua-duanya itu nggak makan bangku universitas dan sama-sama belajar engineering secara otodidak. Yap, Tadao Baba terkenal sebagai karyawan yang bisa mengoperasikan semua alat precision engineering di pabrik Honda, dan belajarnya cuma dari karyawan yang lain!

Dari sinilah friendship antara Honda sama Baba-san mulai terlihat… Bukan cuma sebagai bos & bawahan, tapi juga sebagai teman yang saling mempercayai satu sama lain.

Puncaknya, 10 tahun kemudian, Tadao Baba diminta untuk mengerjakan proyek massif Honda kala itu: Superbike Flagship. Tadao Baba bakal menjadi salah satu team development, dibawah naungan seniornya, Yoichi Oguma… Orang yang bertanggung jawab di project Juara Dunia GP500 bareng Freddie Spencer – NS500.

Yoichi Oguma, bos HRC Rothmans-Honda

Tapi aktualnya dilapangan berkata lain, karena tekanan Yamaha bareng Eddie Lawson sama rookie Wayne Rainey di balapan GP500, Engineer sekaligus Master Strategi Honda akhirnya diminta kembali focus ke balapan GrandPrix… Yang nantinya melahirkan berbagai inovasi di NSR500, termasuk yap, Big Bang Engine!

Dengan kepergian Oguma, otomatis cuma ada 1 orang yang punya filosofi sama technical know-how yang mirip kayak bos HRC tadi. Dan orangnya adalah Tadao Baba.

Yap, ditahun 1987, untuk yang pertama kalinya Tadao Baba dipercaya sebagai LPL (Large Project Leader) Superbike Flagship Honda.

44 comments

      • bener banget kang…

        ini enaknya jadi pengunjung warung kang eno..
        jadi tau sejarah nambah wawasan dan inspirasi…

        mau dipuji lagi gak kang..??
        kalo mau, kirimin mama pulsa dulu ya…
        mama lagi dikantor p*lisi

        kaaaaboooorrrrrrrr

  1. Pesan moral yg ane tangkap dr tadao baba ini , ga masalah dr mana tingkat pendidikan seseorang,,,yg penting dia punya semangat,pasion dan konsistensi, serta pekerja keras, niscaya dia dapat memperoleh mimpinya,,,, daripda pendidikan super tinggi sampe S123 sekalipun kalo korupsi dan males2an ya percuma, ngoahahaha….

  2. brati pendekatan yg dilakukan oleh honda emang berbeda dg yamaha ya untuk superbike nya, Kalo R1 kususnya R1 crossplane, lebih mengutamakan kestabilan di mid corner saat high speed cornering, tapi soal nimble dan agility masih kalah sama CBR, bukti nyata ada pada balap British Superbike seri Thruxton yg sirkuitnya amat memanjakan high speed cornering panjang, beberapa minggu lalu dimana di 2 race Josh broks dg R1 nya dapat juara 1 semua, padahal di stright kalah sama S1KR & ZX 10R, sedangkan di sirkuit cadwell park yg sempit dan banyak kelokan naik turun CBR bisa juara di race 2.

Silahkan Berikan Komentar Brosist yaa ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s