Yamaha RD500, YZR500 0W70 Versi Jalanan!

0W70 For the Road

Kayaknya nggak bakal asik ya kalau nggak kita mulai dari bagian mesinnya. Yap, Yamaha RD500 atau RZ500 atau RD500LC atau replica motor balap GP500 Yamaha ini pakai konfigurasi mesin yang sama persis kayak 0W70 yang dipakai Kenny Roberts di balapan GrandPrix musim 1983. Mesinnya pakai 4 silinder berkonfigurasi V – alias V4 Engine – dengan 2 kruk as terpisah yang disatukan ke gearbox pakai susunan gear.

Kenapa pakai 2 kruk as terpisah sih Kang? Kenapa nggak pakai single crank aja gitu kayak mesin V4 di 4-Tak? Well, alasannya adalah perbedaan dasar antara mesin 2-Tak dan 4-Tak. Soalnya kalau kalian nonton video 2-Stroke Never Die di Channel ENOANDERSON – Motorbike, saya sudah jelaskan mesin 2-Tak itu kruk asnya juga dipakai jadi semacam kompresor untuk menghisap sama mendorong udara plus bbm ke ruang bakar. Jadi setiap kruk asnya itu punya space masing-masing buat proses pembakaran tadi.

Nah, kalau dibikin single crank, otomatis mesinnya juga bakal jadi lebar banget kayak mesin inline. Makanya, Yamaha lebih pilih pakai desain double kruk as mirip kayak konfigurasi Square Four, sekalipun kekurangannya ya bakal jadi lebih berat dan ribet dibanding single crankshaft kayak desain mesin V3 NS500 atau mesin V4 punya Ronax 500.

Kemiripan yang lain antara RD500 dan YZR500 0W70 Kenny Roberts juga ada di spek piston dan langkah strokenya. 0W70 pakai piston 56mm sementara RD500 pakai 56,4mm. Versi replikanya jauh lebih leluasa buat disesuaikan karakternya dibanding versi GP nya, soalnya jelas lah ya, RD500 ini nggak kayak 0W70 yang terus-terusan dicekik sama regulasi FIM. Dan buat mendinginkan mesin sangar ini, Yamaha pakai radiator spek balap ala TZ750 Racer dengan tambahan kipas otomatis plus sensor thermostat biar nggak overheat kalau ketemu lampu merah.

Kesamaan yang lainnya ada di bagian detail mesinnya. Yap, Yamaha RD500 ini aslinya sudah pakai crankcase bertipe magnesium yang konon katanya sama persis kayak punya Yamaha 0W61 & 0W70 yang dipakai di GP500! Kalau masih ada yang nggak percaya, Yamaha bahkan bikin tulisan “magnesium” di cover magnet sama bak kopling nya.

Nah sisanya, detail mesin ini beda jauuuuh banget dibanding versi originalnya di balapan GP500. Perbedaan yang pertama, mesin RD500 ini pakai Reed Valve atau Membran, beda dari YZR500 yang pakai Rotary Disc Valve. Kenapa sih harus dibedakan?

Nah tujuannya buat karakter mesin, dimana Reed Valve itu lebih bersahabat di putaran bawah karena buka tutupnya dipengaruhi material dan kevakuman mesin. Beda dari Rotary Valve yang memang punya karakter meledak-ledak di RPM tinggi, tapi responnya cenderung lambat di putaran mesin rendah. Nah, karena RD500 ini nggak selamanya dipakai buat RPM tinggi dijalan raya – kecuali mau mendekatkan diri sama yang maha kuasa – Yamaha akhirnya pilih pakai katup membran deh dibanding Rotary.

Dan yang uniknya lagi, Reed Valve di RD500 ini ternyata punya 2 spek lho. Di bank silinder depan, atau yang selonjoran itu pakai tipe Crankcase Reed Valve yang langsung divakum sama kruk as. Sementara di bank silinder belakang atau yang berdiri, itu pakai tipe Piston Reed Valve yang buka-tutupnya itu mengikuti naik turun lobang di piston.

Kenapa dibikin beda? Nah kalau soal ini kayaknya cuma Tuhan sama Yamaha yang tau. Tapi kalau saya boleh nebak nih ya, feeling saya itu lebih karena ruang di bank angle 50° nya yang nggak memungkinkan pasang Crankcase Reed Valve. Soalnya ya karburatornya aja dipasang di samping lewat manifold berbentuk huruf L. Dan karena penempatan reed valve nya beda, otomatis karburatornya bisa dibikin bertumpuk atas bawah, jadinya nggak makan space di antara bank angle mesin V4 ini.

Buat antisipasi flow intake yang terkesan kurang direct karena manifoldnya meliak-liuk – apalagi kalau kita bandingin sama tipe downdraft yang jadi idola anak liaran jaman now – Yamaha kasih box air filter yang ukurannya gede banget dibawah tangki supaya udara yang dihisap bisa maksimal.

Kemudian buat memaksimalkan torsi dan horsepower, mesin V4 Yamaha ini juga sudah pakai kombinasi Expansion Chamber plus Yamaha Powervalve System alias YPVS. Nah, Expansion Chamber di Yamaha RD500 ini ada di 2 posisi, 2 silinder depan itu lewat samping kayak biasanya, sementara 2 silinder belakang itu pakai Expansion Chamber yang tersembunyi dibawah jok dan buritan belakang. Supaya (maaf) bokong nggak mateng dikasih hawa panas Expansion Chamber, Yamaha menambahkan lapisan alumunium foil buat menyebarkan hawa panasnya menjauhi rider.

Kemudian ada yang unik lagi nih dari YPVS nya RD500. Karena pakai sistem servo elektronik yang lebih akurat dibanding mekanikal, Yamaha juga memanfaatkan atau istilahnya minjem timing servonya sebagai suplai oli samping ke piston sama kruk as. Jadi semakin tinggi RPM nya, semakin membuka si YPVS nya, dan otomatis mix antara oli dan bahan bakar juga jadi semakin tinggi buat mencegah mesin gancet atau ngejim.

Nah, perbedaan yang selanjutnya dari YZR500, RD500 ini dikasih kompresi statis yang jauh lebih rendah. Kalau versi balapnya itu bisa pakai kompresi 10 atau bahkan lebih tergantung tuning, RD500 ini cuma pakai kompresi 6,6:1. Tujuannya buat memperpanjang lifespan, atau umur mesin itu sendiri. Soalnya ini motor buat dipakai sehari-hari, bukan kayak motor balap GP500 yang dulu itu mesinnya sekali pakai balap langsung rebuild atau bahkan ganti baru.

Perbedaan selanjutnya ada di rasio gear, dimana RD500 ini pakai rasio gear pertama yang super panjang. Fungsinya supaya karakter mesinnya lebih smooth dan meminimalisir power wheelie sewaktu YPVS terbuka di RPM tinggi.

Gimana nggak, sewaktu perilisan, Yamaha mengklaim power RD500 ini sanggup tembus di angka 87 HP! Plus catatan drag 1/4 mil bisa tembus 11,7 detik oleh para jurnalis, atau catatan timing yang sama kayak Superbike kelas 750cc ditangan rider drag spesialis. Menurut majalah Cycle Canada edisi 1984, Yamaha waktu itu sebenarnya mau pasang target power sekitar 100 HP – atau cuma beda sekitar 20 HP dari klaim resmi power YZR500 0W70 punya Kenny Roberts. Gila nggak tuh!

Kenny Roberts – Yamaha RD500

Sayangnya, Yamaha mengurungkan niat tadi karena faktor safety dan teknologi kompon ban yang waktu itu belum siap menghandle motor berpower gila kayak YZR500. Soalnya konstruksi ban radial soft compound itu baru dipakai di balapan kasta tertinggi GP500 pada awal musim 84 – alias persis saat RD500 pertama kali diperkenalkan kepasaran. Jadi selain dikebiri karakter powernya lewat rasio gear, dari internalnya pun aslinya sudah diturunkan level kegokilannya karena faktor safety tadi.

Untuk mengurangi efek kegokilan yang selanjutnya, Yamaha juga membekali sasis RD500 ini pakai material baja, bukan pakai sasis hand-built alumunium kayak versi GP500 nya yang dipakai Kenny Roberts. Dan karena bagian sasisnya penuh sama Expansion Chamber, Yamaha juga merubah posisi shock belakangnya jadi dibawah cradle sasis utama dengan tambahan link Monocross khas ala Yamaha. Efeknya, bobot RD500 ini membengkak jadi 215 Kg – atau bisa dibilang setara kayak kelas moge 750cc waktu itu.

Nah, itu makanya saya bilang diawal ekspektasinya harus diturunin dikit.

Spesifikasi Yamaha RD500 (RZ500, RD500 LC)

Manufaktur : Yamaha

Model : 1GE, 1VW, 53G

Tahun Pembuatan : 1984 – 1987

Engine : 2-Tak, Liquid-Cooled, 50° V4, YPVS, Dual (Crankcase & Piston) Reed-Valve

Bore x Stroke : 56,4 x 50 mm

Kapasitas Silinder : 499,5 cc

Sistem Penyuplai BBM : 4 x Karburator Mikuni VM26SS

Rasio Kompresi : 6,6 : 1

Transmisi : 6 Speed Cassete-type Gearbox

Rasio Gear : 2.400 (1st), 1.684 (2nd), 1.363 (3rd), 1.166 (4th), 1.043 (5th), 0.958 (6th)

Max Power : 87 HP @ 10.250 RPM

Max Torsi : 60,8 N.m @ 9.250 RPM

Topspeed : 230 Km/h

Frame : Steel Beam Double Cradle Frame

Berat Kosong : 215 Kg

Kapasitas Tangki BBM : 22 Liter

Suspensi Depan : Air-Assisted Teleskopik Fork, Adjustable Anti-Dive

Suspensi Belakang : Under Cradle Rear Suspension, Monocross

Rem Depan : 2 x Cakram Hidrolik (Disc 267 mm), Kaliper 2 Piston

Rem Belakang : Cakram Hidrolik (Disc 214 mm), Kaliper 2 Piston

Ban Depan : 120/80 – V16 (Yokohama Tyres)

Ban Belakang : 130/80 – V18 (Yokohama Tyres)

Sewaktu pertama kali diperkenalkan lewat pameran di Milan, Yamaha RD500 langsung habis dipesan unitnya oleh konsumen. Karena permintaan yang luar biasa ini, Yamaha bahkan bikin versi Mk.2 nya untuk pasar Eropa yang dirilis tahun mulai tahun 1985 hingga terakhir dijual secara resmi tahun 1987 silam.

Melihat pergerakan Yamaha sekaligus demand yang cukup tinggi dari konsumen, Suzuki & Honda langsung panas dan memutuskan buat bikin tandingan replika GP500. Yang pertama menyusul RD500 adalah kontender dari pabrikan asal Hamamatsu. Yes, the one and only, Suzuki RG500 Gamma!

2 comments

Silahkan Berikan Komentar Brosist yaa ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s