Benarkah Suzuki Access & Burgman Street 125 Didesain Orang India?

Saking banyaknya meme dan hujatan yang memojokkan Suzuki Access 125 & Burgman Street 125, duo skutik ini sering disebut sebagai produk racikan desainer India. Benarkah demikian?

Suzuki Burgman Street 125EX – Concept Design

Sebelum menjawab pertanyaan tadi, saya mau tegaskan kalau tidak ada unsur SARA di artikel ini. Siapapun, dari negara manapun, berhak untuk jadi desainer sepeda motor.

Apalagi kalau menuduh desainer dari India sebagai biang kerok penurunan desain motor Suzuki di Indonesia. Kenapa? Karena selain berbau rasisme, ini juga pemikiran yang salah kaprah!

Desain Suzuki Access, Avenis & Burgman Street 125 yang sering dianggap kontroversial, BUKAN didesain oleh orang India. Dan ini juga termasuk part pendukung sisi desain seperti headlamp, stoplamp, sampai bodypart.

India hanya menjadi lokasi riset dan pengembangan (R&D) skuter matik tadi, via Suzuki Motorcycle India Pvt. Ltd (SMIPL).

Terus, siapa dong desainernya?

Akira Muramatsu: Section Chief of the Design Group, Motorcycle Sales and Product Department, Motorcycle Division, Suzuki Motor Corporation. Designer V-Strom 250SX & Access 125.

Kedua skutik tadi – termasuk hampir semua motor Suzuki yang dijual di India – diracik langsung oleh desainer Suzuki Motor Co. Jepang (SMC).

Suzuki Access 125 contohnya, didesain oleh trio Akira Muramatsu, Katsushi Iiboshi & Hiroshi Katsuta dari SMC Jepang.

Sementara Suzuki Burgman Street 125 didesain oleh Shuji Matsuzawa & Yuichiro Tani.

Sebelum project nya dimulai, para desainer Suzuki Motor Co. Jepang biasanya ditugaskan langsung ke India untuk melakukan on-site research (1). Alias survey untuk melihat gimana kebiasaan rider di negara tujuan, sekaligus bagaimana preferensi desain sepeda motor yang diinginkan.

Data tadi kemudian jadi basis untuk pengembangan produk tersebut sampai nantinya masuk ke meja produksi masal.

Apakah ini kesalahan desainernya? Tentu tidak bisa 100% dibilang demikian.

Saking takutnya dibilang “karya desainer India”, Suzuki sampai bawa desainernya langsung! Shuji Matsuzawa – Designer GSX-R1000 K5, GSX-S1000GT & Burgman Street 125EX

Berhubung team desainer Suzuki jauh lebih sedikit dibanding Honda & Yamaha (2), nggak jarang seorang designer Suzuki juga bertanggung jawab untuk R&D tipe motor lain yang punya konsep jauh berbeda.

Contohnya, desainer Suzuki Access 125 adalah orang yang juga bertanggung jawab terhadap desain V-Strom 250SX & V-Strom 800DE.

Sementara kasus Burgman Street 125 justru lebih ekstrim lagi. Soalnya nama-nama tadi termasuk desainer senior yang pernah bertanggung jawab meracik motor flagship Suzuki! Contohnya seperti GSX-R1000 K5/K6, GSX-S1000, GSX-S1000GT, Katana 2019 (w/ Rodolfo Frascoli), sampai the legendary Hayabusa (Gen. 3)!

Apakah motor yang saya sebutkan diatas desainnya kontroversial untuk mayoritas orang Indonesia?

Kemungkinan tidak. So?

Yamaha Mio Early Concept

Sudah bukan rahasia umum kalau setiap negara punya preferensi desain sepeda motor masing-masing. Salah satu contoh yang paling simple, sekaligus gampang banget dilihat adalah ukuran roda.

Sebelum era 2000-an, kita tahu kalau mayoritas sepeda motor yang didevelop untuk pasar ASEAN (termasuk Indonesia) pakai velg dan ban ukuran 17-18 inci. Saking identiknya, setiap produk yang didesain dengan velg mungil bisa dipastikan sebagai konsep motor dari luar negeri. Vespa misalnya.

Di awal 2000-an, Yamaha coba menantang stigma tadi pakai velg 14 inci di konsep skuter matik terbaru mereka, Mio.

Alasannya, velg 14 inci dinilai sesuai untuk mendukung konsep desain Mio yang stylish & lightweight, tanpa mengorbankan kenyamanan untuk kontur jalanan di ASEAN… Khususnya dibanding velg 10-12 inci di skuter matik racikan Taiwan, Eropa & Jepang (JDM) (3).

Sementara di kubu sebelah, Honda masih percaya velg 17 inci adalah yang terbaik untuk konsumen di ASEAN. Saking pedenya, pabrikan sayap bahkan sampai mendevelop konsep bebek-otomatis dengan Torque Converter untuk menghadang Yamaha Mio.(4)

Endingnya, konsep Yamaha lah pemenangnya. Alhasil, ukuran velg ini seolah jadi “standar” baru dalam mendesain skuter matik di Indonesia.

Honda Zoomer-X 2012

Masuk ke era 2010-an, gantian Honda yang menantang konsep skuter matik pakai velg 12 inci di ASEAN! Ukuran velg ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru, karena aslinya Kymco sudah jauh lebih dulu mengaplikasikan ini di Indonesia.

Sampai nantinya, datanglah duo Suzuki Avenis & Access 125 yang pakai velg belakang 10 inci.

Kalau ada diantara kalian yang bilang velg tadi SECARA VISUAL kelihatan aneh, karena terasa kekecilan… Yuk, kita hitung data diameter ban belakang skutik “fashion” di Indonesia!

Yamaha Fino 125 (100/70-14): 425,6 mm
Yamaha Fazzio (110/70-12): 381,8 mm
Honda Scoopy (110/90-12): 403,8 mm
Suzuki Access 125 (90/100-10): 344 mm

Faktanya, matematika setuju dengan visual mata kalian.

Suzuki Burgman 125EX – Final 3D Prototype

Begitupun untuk kasus Burgman Street 125 yang pakai velg 12 inci. Meskipun dalam kasus Burgman, diameter velg sebenarnya bukan masalah utama, karena pembandingnya rata-rata pakai velg 13 inch, plus alternatif ban penggantinya juga buaanyaak dipasaran. Yang sedikit jadi masalah adalah lebar ban nya!

Mungkin ini juga alasan penerimaan Burgman Street EX lebih mentereng dibanding Avenis atau Access 125? Silahkan berikan komentar.

Tapi, dibalik poin minusnya, ukuran ban mungil ini juga punya kelebihannya sendiri.

Pertama, travel suspensi belakang bisa dibuat lebih panjang dengan ground clearance yang tetap friendly. Contohnya bisa dilihat di kasus PCX150 (14 inci) vs PCX160 (13 inci).

Kedua, dengan space yang berlimpah di area kolong ban belakang, pabrikan bisa memanfaatkan ini sebagai bagasi yang lebih luas dibanding motor pada umumnya. Contohnya ada di bagasi Honda Lead 125 yang berukuran mungil, tapi muat 2 helm sekaligus!

Dan itu baru sekadar ukuran velg doang. Kita belum membahas soal perbedaan konsep skutik Indonesia yang terkenal “sharp & sporty”, versus India yang terkenal “rounded”. Belum ditambah lagi soal perbedaan fitur, teknologi mesin, karakter akselerasi (CVT), dan seabrek yang lainnya.

Kalau memang preferensi setiap market berbeda, kenapa nggak dibikin sesuai dengan selera mayoritas konsumen di Indonesia?

Ya balik lagi, karena secara teknis, kedua skutik tadi memang TIDAK spesifik didesain untuk konsumen Indonesia. Tapi untuk konsumen di India.

Dan untuk mengubah spesifikasi dasar tadi, butuh budget plus waktu R&D yang tidak sedikit.

Suzuki Access 125 – Final 3D Prototype

Kenapa India? Karena berdasarkan data yang saya kumpulkan per tahun 2024 kemarin, penjualan domestik Suzuki India hampir 90 kali lipat lebih besar dibanding Suzuki Indonesia! Perbedaan angkanya bikin ngeri, 1,25 juta unit pertahun vs 14 ribuan unit doang pertahun(5)(6).

Ajegile nggak tuh?

Apalagi skutik kayak Access 125 adalah “volume maker” andalan Suzuki India. Soalnya, sepanjang eksis di pasar Bollywood, skutik ini sudah terjual lebih dari 6 juta unit (7)!Puncaknya terjadi di tahun 2024 kemarin, dimana jualan Access 125 hampir tembus 1 juta unit pertahun!(8)

Makanya jangan heran kalau desain Suzuki Access & Burgman Street 125 spesifik ditujukan khusus untuk pasar India. Karena berdasarkan report official untuk tahun fiscal 2025, India bertanggung jawab untuk lebih dari 50% total jualan sepeda motor Suzuki di seluruh dunia(9).

1 negara bisa 50% lebih lho!

Jadi intinya, Suzuki Access & Burgman Street 125 bukan didesain orang India. Tapi orang India lah yang membentuk konsep dasar 2 skuter matik tadi.

Desainnya memang banyak mengundang kontroversi, tapi setidaknya masih ada secuil harapan untuk Suzuki Indonesia. Suzuki Satria PRO – Final 3D Prototype.

Sementara Indonesia? Well, negara kita tercinta ini bahkan tidak masuk planning development Suzuki sama sekali untuk setahun kedepan (9)! Satu-satunya yang Suzuki lirik dari Indonesia adalah pasar Automobile alias kendaraan roda 4. And that’s it!

Jadi nggak usah aneh kalau desain Suzuki Access 125 & Burgman Street 125 agak nyeleneh buat selera orang Indonesia. Karena pertama, desain itu objektif. Dan kedua, matic tadi memang LITERALLY bukan didesain untuk kalian.

Jadi, buat apa komplain? Kayak didengar aja….

Video pembahasan dengan materi yang serupa:

Referensi:

  1. https://bike-news.jp/post/331007
  2. https://design-recruit.suzuki.co.jp/interview/motorcycle-designer-symposium.html
  3. https://global.yamaha-motor.com/design_technology/design/motordesign-history/history/from1995/
  4. https://global.honda/en/about/history-digest/75years-history/chapter3/section1_3/page2.html
  5. https://otomotif.kompas.com/read/2025/01/21/080200715/penjualan-motor-suzuki-14.040-unit-pada-2024-satria-f150-terlaris
  6. https://www.suzukimotorcycle.co.in/media-kit#suzuki-motorcycle-india-closes-fy2024-25-with-record-breaking-sales-of-1256-lakh-units
  7. https://www.suzukimotorcycle.co.in/media-kit#suzuki-motorcycle-india-celebrates-60-lakh-production-milestone-of-suzuki-access-125
  8. https://www.suzukimotorcycle.co.in/media-kit#suzuki-motorcycle-india-rolls-out-the-5-millionth-access-125-from-its-gurugram-plant
  9. https://www.globalsuzuki.com/ir/library/annualreport/pdf/2025/2025.pdf

Silahkan Berikan Komentar Brosist yaa ....