Kenapa Honda Vario 125 Street?

10 tahun lalu, saya adalah salah satu blogger (atau enthusiast, atau terserah mau disebut apa) yang selalu menyuarakan seabrek inovasi baru untuk sepeda motor. Nah, siapa sangka, di awal tahun 2026 saya justru memilih salah satu skuter matik dengan mesin yang paling ‘tradisional’ di Indonesia.

Dirilis perdana pada maret 2012 lalu, Honda Vario 125 secara nggak langsung bertanggung jawab mengubah peta pengembangan skuter matik di Indonesia. Skutik ini memang bukan yang pertama pakai mesin 125cc, bukan yang pertama pakai liquid cooled, bahkan bukan yang pertama pakai basis mesin tadi. Karena faktanya, mesin berbasis JF28E-series (non-eSP) ini sudah dipakai PCX 125 sejak tahun 2009! (1)

Yang special, Honda Vario 125 jadi matic yang pertama kali menggabungkan semua hal tadi, dalam sebuah paket skuter matik yang bersahabat – baik itu secara penggunaan ataupun harga jual.

Secara tampilan, motor racikan desainer Honda R&D Thailand (Bongkarn Sawatsutipan) & Jepang (Genichi Kito) ini tergolong oke punya. Menggabungkan konsep slim & sharp yang jadi poin plus di versi sebelumnya, Vario Techno (Click 110i), Honda Vario 125 ini hadir dengan desain yang bahkan lebih agresif lagi.

Warna bertema “purple” sebenarnya sudah ada sejak Vario 125 pertama dirilis (Vario 125 2012 – Onyx Violet)

Saking agresifnya, kalau dibanding Xeon & Vario Techno (yang desainnya sama-sama oke), in my opinion, kedua matic ini jadi kayak punya target pasar yang berbeda. Vario 125 terkesan lebih premium, lebih berani keluar dari konsep skuter matik pada umumnya. Meskipun gokilnya, Xeon karbu (waktu itu, 2012) justru malah lebih mahal dibanding Vario 125 non-CBS, wkwkwkwk…

Perbedaan kasta ini makin kentara kalau kalian lihat perbedaan detail & fitur keduanya. Vario 125 sudah pakai odometer digital, kelistrikan DC, ACG starter, pembuka jok terintegrasi kunci kontak, bagasi jauh lebih gede (helm-in), fitur komplit, ban lebih gede, travel suspensi belakang lebih panjang… Wah, waktu itu berasa canggih banget deh metik yang satu ini.

Dan nggak tau kenapa, waktu itu jadi agak nyesek juga terlanjut sudah beli Spacy BOB setahun sebelumnya.

Tapi yang paling bikin matic ini terasa satu tingkat dibanding pendahulunya, bahkan kalau dibanding competitor sekalipun, adalah mesinnya.

Honda Vario 125 jadi skuter matik pertama di dunia yang dikasih teknologi eSP (Enhanced Smart Power)! Yap, bahkan lebih dulu dibanding versi originalnya di PCX125! (2)

Ini adalah upgrade basis mesin JF28E-series dengan seabrek improvement seperti spiny sleeve cylinder, konstruksi kruk as lebih kuat, ditambah offset cylinder, radiator baru, dan improvement di area pembakaran.(3)

Mesin ini seolah mengingatkan saya dengan sosok Super Cub C100 & Wave 125 Original yang bisa dibilang punya teknologi ‘melampaui jaman’ di eranya. Mesin yang langsung jadi benchmark untuk kelasnya masing-masing.

Diatas kertas, mesin Xeon sebenarnya punya output power yang nggak beda jauh dibanding milik Vario 125. Tapi sewaktu saya coba matic ini pertama kali akhir 2012 lalu… Well, ‘feel’ nya ibarat langit dan bumi.

Mesin eSP Vario 125 terasa jauh lebih halus, lebih ‘refined’, meskipun sebenarnya performanya nggak terlalu special banget. Itu alasannya matik ini punya fans yang masih bejibun sampai sekarang! Which is sekaligus bikin harga bekasnya luar biasa kompetitif.

Sebagai gambaran betapa futuristiknya mesin eSP generasi pertama ini, butuh setidaknya 3 tahun buat Yamaha untuk mengembangkan basis mesin yang bahkan lebih potensial dibanding Vario 125.

Namanya adalah mesin Blue Core VVA-series punya NMAX.

Selama hampir 14 tahun masa bakti Honda Vario 125 di pasar Indonesia, skuter matik ini sudah diupdate sebanyak 4 kali, dan ditambah 2 versi upgrade nya yang bernama Vario 150. In fact, saya turut punya andil di 2 generasi penerusnya. Yaitu di Vario 125-150 LED Old (2015) dan Vario 125-150 LED New (2018).

Heck, bahkan karya video review (amatir) pertama saya di Youtube adalah Vario 150 2018 lho! Tapi lucunya, setelah generasi perdana di tahun 2012, saya malah sama sekali nggak pernah punya keinginan untuk memboyong 1 unitnya ke garasi rumah.

Alasannya? Di pertengahan 2010-an dulu target utama saya adalah motor 250cc. Itu alasannya saya beli ZED Z250SL di tahun 2016. Dan sekalipun ‘dipaksa’ untuk memilih skuter matik di tahun 2018 kemarin, pilihan saya justru jatuh ke Yamaha Aerox R-Version.

Kenapa Aerox? Simpel, karena waktu itu apa yang ditawarkan Aerox jauuuuuh melebihi yang ada di Vario 125 atau 150. Terlebih mesin 155cc VVA generasi barunya yang – diatas kertas – jauh lebih superior dibanding opsi yang ditawarkan Honda. Meskipun aktual harganya justru cuma beda tipis!

Lucunya, kalau kalian amati lagi pembahasan sebelumnya, kasus Aerox & Vario 150 ini justru jadi kebalikan antara Honda Vario 125 & Yamaha Xeon generasi awal!

Tapi itu bukan berarti semua orang punya pandangan kayak saya. Buktinya, market share Honda Vario 125 & Vario 150 tetap kokoh sekalipun dihimpit matic trendsetter Yamaha seperti Aerox & Lexi.

Masalahnya, sejak dirilis tahun 2012 kemarin, hampir nggak ada upgrade besar-besaran untuk Vario 125-series. Selain upgrade desain, elektronik, dan kaki-kaki yang mengikuti trend pasar, praktis sama sekali nggak ada upgrade besar-besaran secara teknis.

Yamaha Aerox R-Version 2018 – Silver

Itu juga alasannya Yamaha Aerox jadi salah satu case skuter matik trendsetter yang tergolong sukses dipasaran. Karena dilapangan, nggak sedikit juga calon konsumen yang haus teknologi dan inovasi terbaru. Alias pola pikir yang sama persis kayak saya pribadi.

Meskipun untuk kasus Lexi-series, yaaaaaa begitulah…. Surem.

Saking suksesnya, Honda bahkan sampai harus bikin tandingan dengan konsep yang serupa, yaitu Vario 160. And that one, went horribly wrong.

NMAX Gen.3 lumayan oke, tapi sedihnya, out-of-budget….

Terus, kalau Kang Eno salah satu tipe konsumen yang seneng motor dengan teknologi & inovasi kekinian, kenapa nggak beli Aerox Alpha Turbo, NMAX Turbo, atau PCX 160 sekalian?

Simpel, karena motor kali ini rencananya bakal dipakai adik ipar bungsu untuk bekerja setiap hari. Dan berhubung baru kerja, budgetnya jelas nggak cukup buat beli Aerox Alpha, NMAX Turbo, apalagi PCX Roadsync.

Satu lagi poin yang nggak kalah penting adalah saya sudah paham karakter doi yang nggak mau ribet dan malas ngerawat motor sendiri.

So, buat motor pertama yang mungkin bakal dikenang seumur hidup, saya diminta memilih skuter matik dengan harga 20-25 jutaan dengan tampilan oke, irit, fitur cukup, dan – yang terpenting – bisa saya perbaiki sendiri… Baik itu untuk perawatan rutin kayak ganti oli, filter udara, bersih-bersih CVT, servis throttle body, sampai bongkar total mesin sendiri.

Saya pribadi nggak suka Genio, tapi warnanya itu lho, suwiiiiiitttt! (Honda Genio 2025 – Vibrant Tri Tone)

Waktu itu opsinya ada 4, Honda Genio Special Edition (warna Tritone) untuk opsi paling murah, kemudian Suzuki Burgman Street, Yamaha Lexi LX (versi Standard), dan Vario 125-series untuk opsi harga tertinggi.

Vario 160 kang? I personally, don’t like it.

Karena Honda Genio pakai sasis eSAF dan dinilai terlalu “biasa”, opsi ini langsung dicoret, meskipun menurut saya kombinasi warnanya amazing dan unitnya ready stock. Suzuki Burgman Street juga dicoret karena menurut doi yang jiwa mudanya masih membara, modelnya nggak banget.

Ternyata bukan saya doang yang nggak suka konsep skutik berbasis India ini, wkwkwk….

So, pilihan finalnya jatuh antara Lexi LX versi Standard atau Vario 125 series. Lexi LX punya nilai plus yang kuat karena saya sudah paham seluk-beluk mesin 155cc VVA berikut sama rumor kelistrikan horror ala Yamaha.

Soalnya sebelumnya, saya sudah pelihara Aerox R-version selama hampir 8 tahun, dengan odometer yang sudah lebih dari 125.000 km! Mesinnya masih oke sampai odometer menyentuh 100.000 km, sparepart original sangat mudah dicari, harga bodypart sangat terjangkau, kemudian power mesin dan efisiensi BBM nya sangat cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Kalau bukan karena faktor kelistrikan (khususnya soket spul gosong, kabel body bagian belakang tergesek sasis, actuator ISC nyebelin, socket kendor dan sensor standar samping yang wajib rutin dibersihkan), saya bakal merekomendasikan basis mesin ini ke semua orang yang mencari skutik dengan budget dibawah 30 jutaan.

Terus kenapa nggak pilih Yamaha Lexi LX? Karena modelnya dinilai nggak familiar buat anak muda. Mendengar ini, saya langsung kepikiran: Daripada beli Lexi LX, kayaknya mendingan maksain sekalian ke Aerox Alpha versi Standard yang jelas-jelas jauuuuuuuuh lebih menggoda buat kategori anak muda.

Tapi berhubung tipe Aerox Alpha yang saya incar adalah versi Cybercity, dan harganya saat ini tembus 34 jutaan, akhirnya opsi ini juga dibatalkan.

So, opsi terakhir, Honda Vario 125-series.

Style typografinya mirip striping Aerox New versi 2023 – and I like it!

Dan seperti dugaan sebelumnya…. Begitu lihat langsung Honda Vario 125 generasi terbaru, doi langsung suka! Khususnya untuk Vario 125 Street yang konsepnya baru nongol di generasi sekarang.

Sebenarnya, 10 tahun lalu saya adalah orang yang paling menentang kehadiran BeAT Street. Untuk sebagian orang, riding position nya mungkin bakal dinilai lebih baik dibanding BeAT konvensional. Dan saya akui, pendapat tadi tidak salah.

Yang jadi masalah buat saya adalah keputusan Honda (AHM) mengubah BeAT konvensional dengan stang ala naked-bike, benar-benar low effort dan terkesan asal jadi sebagai uji coba konsep baru. Karena faktanya, desain Beat eSP generasi 2016 tidak didevelop untuk pakai stang ala naked bike!(4)(5)(6)

Kenapa nggak bikin desain baru aja sih? Pabrikan yang jualannya jutaan unit kok pelit banget sama inovasi? Begitu kira-kira complain dari saya.

Fast forward ke 2026, Honda kelihatan sudah banyak belajar soal konsep matic versi Street. Dimulai dari generasi BeAT 2020 yang kelihatan didevelop untuk model standar & street sekaligus. Poin plus ini kemudian dilanjut BeAT generasi 2024 yang benar-benar kasih detail berbeda ke versi street, seperti kaki-kaki 12 inci & opsi warna yang lebih menggoda.

Honda Vario 125 Street Black-Purple

Puncaknya di penghujung 2025, hadirlah Honda Vario 125 Street. Begitu pertama kali lihat unitnya di dealer, ebuset…. Ini adalah skuter matik pertama yang menurut saya, desainnya lebih cocok dipakai untuk versi Street dibanding versi stang konvensional!

Mungkin karena desain facia-nya dikembangkan langsung sama Honda R&D Center Indonesia (Abdul Roshid Pratama) kali ya? Entahlah. Yang jelas – diluar Vario 110 FI yang entah layak disebut ‘Vario’ atau nggak – ini adalah generasi Vario 125 pertama yang mendapat sentuhan langsung desainer tanah air. And it shows!

Apalagi ditambah opsi warna yang sangat berani kayak Black-Purple & Black-Coral, makin kelihatan lebih special aja dibanding versi Standar atau versi Keyless konvensional! Dan karena saya sudah paham plus-minus mesin 125cc eSP “tradisional” ini, urusan perawatan dan sparepart tentunya bukan jadi masalah.

Dan benar saja, begitu lihat dan naikin motornya langsung, doi langsung suka! Saking Sukanya, doi bahkan tidak peduli kalau harga matik yang satu ini tembus Rp 26,5 juta – alias sedikit melebihi budget yang sudah dipatok sebelumnya, wkwkwk.

Honda Vario 125 Street Black-Purple

Sayangnya, unit yang ready stock waktu itu adalah warna hitam velg putih yang terkesan “meh” banget. Dan karena saya lihat warna Black-Purple sangat unik, plus baru pertama kali ada di matic Honda (sebelumnya pernah ada, tapi warna Violet Black), saya langsung merekomendasikan warna satu ini meski harus inden terlebih dulu.

Yang bikin saya kepikiran adalah, seberapa lama indennya? Saya takut warna ungu ini bakal jadi incaran banyak calon konsumen – yang sekaligus bikin unitnya jadi lading mark-up harga oleh dealer.

Ini bukan tanpa alasan, saya pernah punya pengalaman kurang enak sewaktu inden request warna motor. Pertama adalah Yamaha Aerox R-version Silver yang harus menunggu lebih dari 2 bulan! Dan kedua, Yamaha NMAX Silver Non-ABS yang bukan cuma indennya tembus hampir 2 bulan, tapi juga terang-terangan diminta mark-up price kalau unitnya mau lebih cepat sampai di garasi rumah!

Sebagai catatan, saya tidak pernah memanfaatkan status sebagai blogger atau content creator untuk mendapat keiistimewaan dari pabrikan dalam pembelian sepeda motor. Saya bahkan nggak pernah pakai privilege ini untuk servis gratis, klaim garansi, atau sebagainya. Di dunia nyata, saya konsumen biasa, sama seperti kalian semua.

Saking gelisahnya, saya sempat terfikir untuk menanyakan hal ini ke para senior di Honda Customer Care Center kalau sampai sebulan kedepan motornya belum ready. Tapi lucunya, baru 6 hari setelah unitnya dipesan, motornya ternyata sudah sampai ke rumah! Gratis aksesoris rubber step floor pula! Wkwkwk…

Mixing warna ungunya memang oke, tapi please di clear gloss dong Honda!

Skutik ini bukan tanpa kekurangan. Selain kualitas cat yang layak dipertanyakan (detail warna ungunya sangat bagus, tapi finishingnya sampah), plus pembatas jok antara rider & boncenger yang bikin nggak nyaman bokong, harga bodypart nya juga saya jamin bakal suangaaaaaaat mahal.

Honda Vario 125 Street ini tentunya bukan selera semua orang. Tapi, in the end, skutik ini adalah perwujudan harapan ownernya, sosok ikonik untuk generasi muda yang ekonominya belum siap naik kelas ke segmen lebih premium kayak Aerox Alpha, NMAX atau PCX.

Pengalaman ini membuka mata saya akan betapa digdaya nya Honda dikalangan anak muda yang tergila-gila skuter matik. Saya tahu efek Vario-series itu luar biasa masif, bahkan sejak saya masih jadi anak muda seperti adik ipar saya.

Tapi saya tidak pernah menyangka dominasi tadi bisa sampai ke level yang sangat ekstrim seperti sekarang.

Velg by Pako, Made in Indonesia, tapi finishingnya kasar banget!

Sedihnya, ini juga membuka mata saya betapa uselessnya Yamaha & Suzuki untuk memberikan kompetisi dikelas ini. Anak muda kita terus bertambah dan segmen skutik makin menggila setiap tahunnya, tapi opsi yang ditawarkan untuk menjegal Vario 125 justru malah semakin berkurang!

Andai Yamaha & Suzuki punya skutik yang desainnya anak muda sentris seperti Vario dengan mesin 125-150cc generasi terbaru. Memilih motor baru pasti bakal lebih exciting. Sayangnya, pasca kartel harga Honda & Yamaha, ditambah Suzuki yang makin nggak biat bikin motor baru untuk pasar Indonesia, hal tadi sepertinya cuma bakal jadi angan-angan semata.

Tapi hikmahnya, setelah 14 tahun lamanya, mungkin sudah waktunya saya pelihara sebiji Honda Vario 125.

Referensi:

  1. https://global.honda/jp/news/2009/c090914.html
  2. https://global.honda/jp/news/2012/2120110.html
  3. https://otomotifnet.gridoto.com/read/231070542/teknologi-honda-vario-techno-125-bag1-mengenal-10-komponen-esp-engine
  4. https://enoanderson.com/wp-content/uploads/2026/01/honda-beat-esp-2016-concept-3.jpg
  5. https://enoanderson.com/wp-content/uploads/2026/01/honda-beat-esp-2016-concept-2.jpg
  6. https://enoanderson.com/wp-content/uploads/2026/01/honda-beat-esp-2016-concept.jpg

Silahkan Berikan Komentar Brosist yaa ....