Honda CB Bermesin Wankel Engine!

Balik ke setengah abad yang lalu, mesin Wankel Rotary Engine jadi sebuah fenomena baru di dunia otomotif. Saking potensialnya mesin ini, semua pabrikan papan atas dari seluruh belahan dunia, ngantri buat ikutan develop mesin racikan Felix Wankel ini.(1)

Dari Jerman, Prancis, Inggris, Italia, Amerika Serikat, Jepang, bahkan sampai Uni Soviet (2) pun ikutan hype Wankel Engine. Dan yap, nggak terkecuali buat industry sepeda motor juga.

Tapi dari seabrek motor bermesin Rotary Engine yang entah itu diproduksi, atau cuma berakhir sebagai prototype, ada satu motor yang sebenernya punya potensi buat bikin mesin Wankel bisa dirasakan sama semua kalangan konsumen.

Dan uniknya, motor yang saya maksud, ternyata buatan Honda.

HONDA & WANKEL ENGINE

Ngomongin soal pabrikan Jepang dan mesin Wankel atau Rotary Engine, Honda aslinya adalah produsen Jepang yang paling nggak diharapkan buat produksi mesin Wankel.

Kenapa? Karena esensinya, waktu awal dikembangkan, mesin Rotary ini dianggap sebagai alternative dari mesin 2-Tak sama mesin 4-Tak berpiston konvensional.

Mesin ini jadi alternative karena dengan kapasitas dan teknologi yang sebanding, part mesinnya jauh lebih sedikit, terus lebih enteng, sama powernya lebih gede dibanding mesin 4-Tak berpiston konvensional… Tapi tetap lebih efisien plus diklaim lebih rendah emisi kalau dibanding mesin 2-Tak.(3)

Nah, urusan emisi ini nih yang jadi poin penting. Soalnya, di tahun 1966, pasar moge terbesar waktu itu – alias Amerika Serikat – mulai menerapkan standar emisi buat kendaraan bermotor. (4)

Sialnya buat pabrikan Jepang, kebanyakan motor flagship mereka adalah moge 2-Tak yang punya emisi kurang bersahabat – kayak Kawasaki Mach III, Mach IV, Suzuki GT750, sampai prototype Yamaha GL750.

Itu dia alasan kenapa kebanyakan mesin Wankel Engine yang didevelop sama pabrikan Jepang di era 70-an ditujukan khusus buat kelas flagship. Soalnya ini nih salah satu alternatif dibanding harus switch ke mesin 4-Tak yang jauh lebih kompleks.

Tapi, ada satu pengecualian… Ya, Honda!

Ketika pabrikan Jepang lain masih mencari solusi moge flagship yang powerful tapi tetap rendah emisi, Honda justru sudah jauh lebih dulu punya jawabannya. Dan bukan sekadar jawaban, moge flagship Honda tadi juga jadi yang terlaris waktu itu(5), sekaligus punya gelar prestisius sebagai “The First Superbike”.(6)

Yap, yang saya maksud adalah Honda CB750.

Pertanyaannya: Kalau Honda sudah punya CB750 sekaligus teknologi mesin 4-Tak yang fantastis turunan dari balapan GrandPrix, ngapain mereka develop mesin Wankel Engine?

Well, emang siapa yang bilang Honda mau bikin mesin Wankel buat gantiin CB750?

HONDA A16/24 ROTARY

Honda A16/24, atau juga sering disebut sebagai A16 CRX.

Ini adalah Honda A16/24, alias satu-satunya prototype motor bermesin Wankel Engine dari pabrikan sayap. Dan seperti yang bisa kalian lihat, meskipun bentuknya khas CB-series banget, tapi jelas motor ini bukan dibuat untuk menggantikan CB750 yang super popular di benua biru.

Honda A16/24 ini justru didevelop menggunakan platform CB125 seri K5. Alias masih saudaraan sama CB125 seri K3 yang juga pernah wara-wiri di Indonesia.

Bedanya, kalau CB125 pakai mesin twin cylinder 125cc dengan konfigurasi crank 360 derajat, yang versi A16/24 ini pakai mesin Wankel Engine dengan konfigurasi single rotor. Yang unik selanjutnya, beda kayak Yamaha, Suzuki sama Kawasaki yang bayar biaya lisensi paten nya, Honda justru mengembangkan mesin Rotary ini tanpa lisensi resmi dari NSU.(7)

Kenapa desainnya dibikin Single Rotor? Well, jawaban aslinya mungkin Cuma Honda sama Tuhan yang tahu. Tapi kalau dilihat dari sisi teknis, mesin Rotary single rotor ini sebenernya resep yang pas banget buat menggantikan mesin twin cylinder 4-Tak di CB125 konvensional.

Tuh kalian lihat aja firing ordernya. Dalam siklus mesin 4-Tak alias setiap 720 derajat, mesin Wankel Single Rotor ini punya timing pembakaran yang sama persis kayak mesin Twin Cylinder crank 360 derajat.

Yang beda jauh antara 2 mesin tadi, adalah suara mesinnya. *sfx: brapbrapbrapbrapbrapbrapbrap!

Secara detail, sebenernya data mesin Rotary Honda ini bener-bener minim banget. Tapi, kalau dilihat secara visual, kita bisa Analisa kalau mesin ini pakai Wankel Single Rotor dengan konfigurasi KKM alias kreiskolbenmotor yang lebih simple secara desain.

Buat penyuplai BBM nya, mesin Wankel Honda A16/24 ini pakai karburator Keihin 722A yang sama kayak kepunyaan CB350 Twin. Uniknya, karburator ini tipenya Constant Velocity lho, alias karbu vakum. Bukan karbu skep konvensional.

Campuran udara, bahan bakar sama oli samping yang masuk lewat karburator tadi kemudian dikompresi sama putaran rotor, terus dipantik sama busi yang berjumlah 2 biji alias twin spark. Lanjut, gas buang sisa pembakarannya kemudian dikeluarkan lewat port exhaust yang ngumpet antara housing rotor sama crankcase.

Yang unik selanjutnya, mesin Wankel Honda ini masih pakai pendingin udara plus oil cooler lho. Beda kayak mesin Rotary Suzuki, Yamaha atau Kawasaki yang sudah pakai Radiator.

Selain karena faktor simplisitas, opsi pendingin udara ini dipilih karena di akhir 60 sampai awal 70-an silam, Honda sebenernya lagi dilemma.

Soalnya, founder mereka, Soichiro Honda, kekeuh pengen terus kembangin teknologi pendingin udara. Sementara disisi lain, engineer Honda justru menilai mesin water cooled lebih potensial. Adu ideologi ini berlangsung alot, sampai di tahun 1975, Honda-san akhirnya ngalah juga. (8)

Housing rotor mesin Wankel ini dibuat menyatu dengan bak kalter atas, kemudian dilakban ke bak mesin bawah + bak kopling yang bentuknya mirip banget dengan kepunyaan CB125 original.

Penghubungnya pakai chain drive, alias rantai keteng, dari poros utama single rotor ke kruk as dummy. Baru setelah itu powernya ditransfer ke kopling, gearbox primer, sekunder, terus nyampe deh ke final drive.

Mesin tadi kemudian dipasang ke sasis sama body yang juga mirip banget sama CB125 seri K5. Tapi sedihnya, disini nih mulai kelihatan aura kalau Honda A16 nggak bakal nyampe di meja produksi masal.

KENAPA NGGAK DIPRODUKSI ?

Kalau kalian nyimak penjelasan soal motor Rotary Honda ini dari awal, ada beberapa pertanda kalau potensi motor ini buat diproduksi masal itu sebenernya sangat kecil.

Pertama, prototype mesin ini kelihatan sangat memaksakan pakai platform CB125, sampai-sampai mesin bagian bawahnya itu plek-ketiplek banget sama CB-series. Kalau diproduksi masal, posisi housing rotor yang kelihatan tinggi banget ini berpotensi bikin center of gravity jadi ngawur.

Kedua, dengan kapasitas chamber 125cc, plus rasio kompresi 8,5 : 1, rumor output powernya ternyata cuma di angka 13,5 HP @ 8.000 RPM doang (9). Dimana CB125 versi aslinya, powernya justru lebih besar (10). Ditambah lagi, CB125 nggak perlu repot-repot nyampur oli samping, plus sudah teruji juga selama 10 tahunan.

Honda CB seri K5 & Honda A16/24 Rotary

Ketiga, sekaligus yang paling obvious, adalah Honda mengembangkan mesin A16 ini tanpa bayar biaya lisensi ke NSU yang memegang patent Wankel Engine. Efeknya ya jelas, pabrikan sayap jadi nggak bisa produksi masal mesinnya.

Itu juga alasannya keberadaan Honda A16 sangat dirahasiakan sampai detik ini. Heck, bahkan Honda sendiri juga nggak pernah bikin statement resmi kalau motor yang satu ini adalah bikinan mereka.

Satu-satunya momen dimana Honda memperlihatkan mesin Rotary ini ke publik cuma sewaktu pameran internal Honda pada bulan September 2000!(11) Itupun mereka menolak untuk memberikan detail spesifikasi & foto-foto tambahan ke media yang meliput.(12)

So, yeah… Honda sangat berhati-hati soal legalitas.

Tapi alasan utama kenapa motor ini nggak diproduksi masal adalah… Yap, karena buat apaan? Soalnya dibanding 3 kompatriot sesama Jepang yang lain, Honda bisa dibilang adalah maestro mesin 4-Tak.

Bahkan saking terobsesinya founder mereka sama mesin 4-Tak, Honda itu jadi satu-satunya pabrikan yang berani keluar duit milyaran yen buat biaya riset mesin 4-Tak di balapan GrandPrix. Dan mereka bahkan sukses ngalahin performa mesin balap 2-Tak… Meskipun pernah gagal total juga.

Jadi ketika banyak pabrikan cari alternatif mesin yang rendah emisi plus berpower besar, Honda justru sudah punya jawabannya. Dan pastinya tanpa perlu bayar lisensi juga.

Era boomingnya Rotary Engine dari Jepang ini sebenernya mirip banget sama yang kejadian di kendaraan EV belakangan ini. Dimana pabrikan Jepang itu terkesan maju-mundur buat bikin kendaraan EV.

Alasannya? Ya kemungkinan karena masih percaya sama teknologi yang sudah ada. Kemudian milih kembangin teknologinya jadi mesin Hybrid, Hydrogen, Fuel Cell, dlsb.

Tapi itu bukan berarti mereka nggak bikin kendaraan EV sama sekali. Sepercaya diri apapun sebuah produsen sama produknya, mereka tetap harus peka sama perkembangan trend sama teknologi. Kalau nggak, begitu eranya berganti, ya wassalam kayak Nokia.

Kawasaki X-99 Rotary Prototype

Nah, itu juga yang kejadian di awal 70-an waktu Yamaha, Kawasaki, sama Honda nyoba bikin motor bermesin Wankel. Meskipun cuma berakhir sebagai Proof of Concept, tapi seenggaknya mereka sudah punya riset sendiri soal kelebihan sama kekurangan teknologi tadi.

Soalnya entah kalian berada di kubu EV, kubu Wankel Engine, kubu 4-Tak konvensional, atau bahkan di kubu 2-Tak sekalipun, kita semua setuju kalau perubahan besar itu butuh energi dan sumber daya yang masif. Dan sayangnya, nggak semua pabrikan mau mempertaruhkan kondisi finansial mereka demi perubahan tersebut.

Soalnya, ini juga yang kejadian setelah Honda mengentikan proyek Wankel Engine mereka.

Yap, setelah memutuskan nggak ngelanjutin proyek A16. Tiba-tiba sebuah motor flagship bermesin Rotary Engine bikin heboh di pameran Tokyo Motor Show tahun 1973. Dan motor yang saya maksud, adalah Suzuki RE5.

Suzuki RE5

Buat kalian para OG di blog ini, kalian sudah tahu lah gimana efeknya waktu Suzuki gambling mengembangkan mesin Wankel buat motor flagship nya. Saya kasih bocoran, mereka hampir bangkrut.(13)

So… poin plusnya, dengan menghentikan proyek Rotary Engine di A16, Honda sukses menghindari problem finansial seperti yang dialami Suzuki dan beberapa produsen lain yang ikutan gambling pakai platform Wankel Engine.

Plus, nggak perlu pusing-pusing mencari solusi masalah Apex Seal di mesin Wankel Engine era awal di tahun 1970-an.

Tapi poin minusnya, dengan hengkangnya pabrikan besar sekelas Honda dari hype mesin Rotary, penyempurnaan tipe mesin ini dari sisi performa, biaya produksi, sama efisensi, bakal butuh waktu yang jauh lebih lama.

Jauh lebih lama dari bayangan Felix Wankel sama Engineer di NSU, ketika mereka menciptakan mesin ini.

LIHAT VIDEO DETAIL HONDA A16/24 ON YOUTUBE

Sumber & Referensi:

  1. https://en.wikipedia.org/wiki/Wankel_engine
  2. https://www.jalopnik.com/the-soviets-made-fast-ish-rotary-powered-ladas-for-the-1850125728/
  3. https://ww2.arb.ca.gov/about/history
  4. Yamaha News Magazine – November 1972 Edition
  5. https://www.bikeexif.com/gooding-geared-online-2024
  6. https://en.wikipedia.org/wiki/Honda_CB750_and_CR750
  7. https://bike-lineage.org/etc/bike-trivia/rotary.html
  8. https://global.honda/en/heritage/episodes/1968honda1300.html
  9. https://thevintagent.com/2011/11/03/a-short-history-of-wankel-motorcycles/
  10. https://www.motorcyclespecs.co.za/model/Honda/honda_cb125_72.html
  11. http://gin-en-shokai.com/dorisai2000.htm
  12. Old Timer Magazine Japan – 22th Edition
  13. https://www.rideapart.com/features/719146/suzuki-re5-rotary-wankel-video/

2 comments

  1. welcome back mang Enooo. pembaca setia dari jaman lulus SMA (2016). ga begitu ngikutin Youtube nya, tapi masih sering buka blog nya buat sekedar nostalgia

  2. Nuhun pisan kang udh update, untuk generasi old school seperti sya ini, artikal kang eno bener2 memanjakan wawasan

Silahkan Berikan Komentar Brosist yaa ....