First Ride: Gimana Rasanya Geber Honda PCX Electric?

Hari kamis lalu, akhirnya saya berkesempatan nyobain Honda PCX Electric. Motor listrik pertama dari kwartet pabrikan Jepang di Indonesia – sekaligus jadi motor listrik pertama yang saya test selama 7 tahun lamanya jadi penulis Roda 2.

So, kayak apaan sih rasanya, Kang Eno? Apakah sudah tergolong layak menggantikan motor bermesin bensin konvensional? Atau justru mengecewakan dan biasa-biasa aja?

Saya kasih bocoran nih, Honda PCX Electric ini bener-bener ngagetin. Tapi kalau kita telaah lagi, ternyata juga nggak ngagetin sama sekali. Bingung? Nah, daripada bingung, langsung Kita bahas aja deh!

Honda PCX Electric di IMOS 2018

Hal yang ngagetin pertama dari motor tanpa bensin ini adalah timing peluncurannya. Gimana nggak ngagetin, Honda PCX Electric ini baru diperkenalkan pertama Kali ke publik Indonesia pada pameran IMOS 2018 kemaren. Cuma berselang 2 bulan doang, langsung dirilis resmi, bahkan diklaim sudah diproduksi di Indonesia!

WAGELASEEH, saya tahu PT. Astra Honda Motor itu pabrikan motor terkaya di Indonesia… Tapi ya ubah motor prototype ke produksi dalam waktu 2 bulan? Di era kayak sekarang dimana pabrikan lagi pada berlomba-lomba hemat pengeluaran buat biaya development (ehem, pelit). Gokil, Sangkuriang oge teu sakituna…

Sasis Honda PCX Electric persis dengan PCX Konvensional

Tapi kalo dipikir-pikir lagi, sebenernya nggak bisa dibilang ngagetin juga sih. Karena part PCX Electric ini ternyata pakai basis punya PCX konvensional – bahkan sasisnya juga dibikin sama. Alasannya sih supaya feel yang dirasakan rider sama seperti mengendarai PCX bermesin bensin biasa. Kemudian, meskipun PT. Astra Honda Motor mengklaim motor listrik ini diproduksi di Indonesia, tapi mereka sendiri mengakui sebagian besar komponennya masih didatangkan dari luar negeri.

Jadi kesimpulannya, yaaaa, dibilang impor secara CKD nggak bisa karena masih ada part lokal… Dibilang produksi lokal juga nggak bisa karena kebanyakan partnya masih impor.

Yang ngagetin berikutnya, meskipun statusnya sudah dirilis. Tapi Honda PCX Electric ini belum dijual ke konsumen umum. PT. Astra Honda Motor baru berencana menyewakan motor ini ke perusahaan yang ingin berpartner dengan mereka. Itupun harus dengan status penyewaan jangka panjang.

Jadi kalau kalian pengen beli dan pakai Honda PCX Electric untuk commuter sehari-hari, minimal usahakan dulu jadi General Manager di bagian Utility, atau syukur-syukur bisa jadi CEO perusahaan… Aaminn.

Honda CUV-ES (1994), masih pakai baterai Nickel Cadmium Ni-cd.

Tapi itu juga nggak ngagetin sih, karena pada pembukaan acara launching yang disampaikan Bu Istiyani Susriyati, General Manager HC3 PT. AHM… Dulu, saat Honda mengembangkan CUV-ES alias motor listrik pertama Honda, mereka dihadapkan dengan masalah kompleks yakni jarak tempuh, daya tahan baterai, performa, infrastruktur, dan cost yang sangat tinggi.

Sekarang, begitu teknologi baterai sudah jauh lebih maju – thanks untuk pengembangan batre Li-ion China yang mengorbankan nasib anak2 di Afrika – Honda tetap belum punya jalan keluar dari masalah infrastruktur & cost.

Jadi, logis banget kalau Honda PCX Electric ini dijadikan sebagai test pasar dan habit pengendara Indonesia terhadap motor listrik – sambil menunggu regulasi motor listrik matang digodok pemerintah, dan menyiapkan infrastruktur pendukungnya seperti swap baterai, SPLU, dan lain-lain.

Yang ngagetin selanjutnya, harga sewa per unitnya itu Rp. 2 jutaan perbulan! Dan inget, ini statusnya SEWA loh ya, bukan KREDIT. Di Jepang, Honda Motor Co. juga mengadakan ujicoba serupa untuk PCX Electric mulai Maret-Agustus 2019 di kota Tokyo & Osaka… Bedanya, harga sewa di Jepang itu GRATIS alias unitnya DIPINJAMKAN!

 

Tapi sebelum ada yang bilang mending kredit Ninja 250 atau CBR250RR selama 3 tahun, lebih baik dengarkan dulu penjelasan selanjutnya. Karena Rp. 2 juta yang dikeluarkan konsumen itu sudah all-in, alias semuanya ditanggung oleh AHM! Mulai dari swap baterai di jaringan dealer Honda tertentu (meskipun sekarang jumlahnya cuma sedikit), bantuan saat kondisi darurat di tengah jalan, plus jasa servis yang ditanggung.

Jadi duit 2 juta tadi intinya ya tinggal pake doang… Inget ini motor listrik loh ya, nggak butuh duit tambahan buat beli bensin, oli, part internal mesin, CVT, bahkan penggantian baterai yang jadi sumber tenaga di PCX Electric pun ditanggung Honda.

Lagipula, saya yakin harga PCX Electric ini pasti masih Mahal banget, bahkan bisa tembus 100 jutaan kalau berkaca dari Teknologi yang dipakai. Malah Ada juga yang bilang harga asli PCX Electric ini seharga mobil Xpander yang harganya 200 jutaan… WHAAAAAAA!!??

Motor listrik berpower 4,2 kW

Surprise selanjutnya Ada di bagian mesin, atau yang dikasus PCX Electric ini namanya motor listrik. Disuplai 2 baterai dengan kapasitas masing-masing 50,4 V / 20,8 Ah, motor listrik ini diklaim mampu menghasilkan tenaga maksimum 4,2 kW (atau sekitar 5,6 HP). Terkesan kecil banget?

Eits, pas momen perilisan lalu, saya sempat saya tanya apakah power motor listrik tersebut bisa dikomparasi dengan power (on crank) motor bensin yang sering Kita lihat di brosur-brosur pabrikan? Ternyata nggak. Pihak Honda mengklaim akselerasi Honda PCX Electric ini setara skuter matik 125cc… Meskipun diatas kertas, speknya justru lebih mirip skutik 50cc.

Yang lebih ngagetin itu torsinya, tembus 18,5 N.m di putaran 500 RPM. For your information, Idle RPM atau kondisi mesin statis di mesin bensin konvensional itu ada di kisaran 1600-1800 RPM. Itu artinya, waktu motor bensin masih idle, Honda PCX Electric ini sudah sampai di puncak torsi tertingginya. Wow, pasti bakal njengat parah dong ya?

Well, saat saya test langsung Honda PCX Electric, kesimpulannya numbers are just numbers. Kenapa? Karena sekarang waktunya Kita bahas aspek performa dan feel Honda PCX Electric.

Honda PCX Electric ini benar-benar ngagetin bahkan saat pertama tombol elektrik starter ditekan. Ada yang ngeh gimana halusnya suara starter ACG di Vario 125/150 generasi lawas? Nah, itu suara halus tadi nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan PCX Electric. Saking halusnya, bahkan nggak ada suara sedikitpun lho! Ini sih bukan level halus lagi, tapi silent. Meskipun kedengerannya keren, tapi ini bisa jadi poin minus tersendiri lho.

Kenapa minus? Karena kita jadi nggak tahu kondisi motor ini sudah nyala atau belum. Karena di speedometer pun nggak ada indikator khusus yang menandakan posisi motor on atau off. Cuma Ada perbedaan di display saat kunci kontak Kita geser ke posisi on, kemudian berganti status menjadi logo “READY” saat motor dinyalakan. Dan karena ini adalah motor listrik pertama yang EA’s Blog test, untuk mengetahui motor ini sudah nyala atau belum, saya cobain aja betot throttle sambil tahan rem depan… NDESO!

Nah, ngomongin soal torsi. Gimana feel powernya Kang Eno? Well, ini kayak kebalikan dari motor 125cc dipasaran, Vario 125 & Lexi misalnya. Kalau 125 & Lexi itu ngeden dulu begitu gas dibuka, kalau PCX Electric ini langsung Jess! Akselerasinya sesuai gimana kalian buka gasnya. Kalau pelan ya slow, kalau dibetot kasar ya langsung ngacir. Kenapa saya pilih skutik 125cc sebagai perbandingan? Karena seperti yang dijelaskan sebelumnya, PCX Electric ini motor listriknya diklaim setara milik skuter 125cc.

Tapi… Ada tapinya. Ngacir yang saya maksud disini bukan langsung njengat pengen wheelie gitu ya, apalagi kalau ngeliat spek torsinya yang gede banget. Nggak. Ini lebih seperti Vario 150cc yang setting CVT nya dioprek untuk RPM rendah. Begitu kalian buka gas waktu lihat lampu ijo langsung wusssh, ilang.

 

Tapi ini juga nggak ngagetin sih, karena motor listrik yang jadi penggerak di PCX Electric nggak terhubung langsung ke as Roda. Menurut penjelasan divisi teknis AHM, putaran dari motor listrik tersebut terlebih dulu melewati susunan gear transmisi seperti halnya di PCX bermesin bensin konvensional. Alasannya, Honda ingin mesin PCX Electric ini tetap smooth dan mirip karakter skutik bermesin bensin, meskipun punya spek torsi yang gede banget.

Ditambah lagi, bobotnya juga lumayan berat, sekitar 144 kg atau sekitar 13 kilogram lebih berat dari PCX konvensional bertipe CBS.

Meskipun performanya diklaim setara skutik 125cc, tapi saran saya, jangan diadu… JANGAN, kalau nggak mau nuntun motor!

Tapi, kenikmatan akselerasi ngacir tersebut nggak lama. Bahkan bisa dibilang cuma sebentar doang sebelum powernya terasa landai lagi… Saya memperkirakan sekitar 100-200m akselerasinya terasa penuh, Dan setelah itu langsung lemot, terasa banget kayak tenaganya hilang nggak tau kemana. Dan ini juga nggak ngagetin sih, karena topspeed Honda PCX Electric ini diklaim cuma sekitar 70 km/jam… Dan power maksimum motor listriknya ada di angka 5.500 RPM – itupun cuma 5,6 HP doang!

Selemot-lemotmya mesin skutik 125cc, saya jamin pasti masih bisa tembus diatas 80-90 km/jam. Jadi ya susah banget dikomparasi, karena karakter power mesin listrik & bensin itu berbanding terbalik 180°. Dimana skutik 125cc baru ngegas, PCX Electric ini sudah full akselerasi. Dan begitu PCX Electric kehilangan power, waktunya skutik 125cc bilang Hasta La Vista, Beibeh.

Meskipun tadi saya komparasi performanya dengan skutik 125cc, tapi jangan sekali-kali niat adu performa keduanya dijalanan lho ya. Kenapa? Karena jarak tempuh 2 baterai Li-ion di Honda PCX Electric ini cuma 69 km… Itupun kalau bawanya konstan di 40 km/jam, sesuai klaim Honda!

Nah kalo dipaksa geber terus ngelawan performa mesin bensin? Bisa-bisa nggak nyampe ke kantor kalau lokasinya jauh. Dan ingat nih, charging baterainya sampai penuh butuh waktu 6 jam sampai penuh kalau pake socket charger bawaan di bagian dek depan. Kalau pakai docking charger diklaim sekitar 4 jam doang sampai penuh.

Padahal 2 baterai mobile power pack di PCX Electric ini ukurannya gede banget lho, Dan beratnya 11 kg. Saya sempet coba angkat satu baterainya di podium perilisan, gokil euy, wedaan, meuni beurat!

Jadi kesimpulannya menurut Kang Eno gimana? Well, sesi test Honda PCX Electric ini Makin meyakinkan saya kalau Teknologi EV atau motor bertenaga listrik masih jaauuuhh banget untuk diaplikasikan di Indonesia. Apalagi sampai untuk menggantikan motor bermesin bensin konvensional. Belum. Masih butuh bertahun-tahun lagi untuk menyempurnakan Teknologi beginian. Apalagi kalau lihat harganya yang masih mahal banget.

Kalau saya sih masih teguh dengan pendapat di video first impression PCX Electric diatas, kalau perilisan Honda PCX Electric ini lebih sebagai gertakan untuk motor listrik nasional – yang mulai sering digaungkan dalam setahun terakhir. Kalau disuruh pilih antara PCX Konvensional, PCX Hybrid atau PCX Electric, saya jelas bakal pilih PCX Hybrid diposisi pertama.

Kenapa? Karena jujur, saya lebih tertarik potensi yang dimiliki PCX Hybrid untuk industri Roda 2 dalam beberapa tahun kedepan – baik itu dalam hal performa ataupun efisiensi, atau malah keduanya… Nggak kayak PCX Electric yang memang canggih, tapi (mungkin) bertahun-tahun lagi untuk bisa dioperasikan secara penuh.

Tapi, apapun alasan Honda merilis PCX Electric… Satu hal yang jelas, dengan strategi yang sudah dijelaskan tadi, plus investasi besar dengan mengembangkan Infrastruktur tambahan di jaringan 3S, mereka sekarang sudah selangkah lebih unggul dibanding produsen sepeda motor lain di Indonesia.

Apalagi, info terakhir yang saya dengar, duo raksasa industri R2 & R4 – Honda & Toyota – juga sudah mulai menjalin kerjasama dengan Panasonic untuk membuat industri baterai sendiri, untuk mengurangi ketergantungan suplai baterai dari produsen China… Kalau PT. Astra Honda Motor & PT. Toyota Astra Motor bersungguh-sungguh, kemudian bikin pabrik bareng Panasonic di Indonesia. Catat nih, Honda bakal makin susah dilawan di kancah motor EV.

Anyway karena saya suka teknologinya, jadi EA’s Blog juga nggak sungkan untuk mengucapkan: Welcome to tanah Ibu Pertiwi, Honda PCX Electric.

 

27 comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.