Motor Listrik - Go Green

6 Penghambat Kemajuan Motor Listrik di Indonesia

Regulasi & Teknikal

Regulasi (Baca: Pajak)

 

Penghambat yang pertama, adalah karena regulasi motor listrik di Indonesia. Ya, karena memang peraturan motor listrik di Indonesia saat ini masih abu-abu. Standar pajak untuk motor listrik saat ini hanya menjelaskan motor listrik bertenaga 800 watt (0,8 kW) harus membayar pajak seharga motor 125cc, sedangkan yang 1200 watt (1,2 kW) harus membayar pajak setara 250cc.

And that’s it! Nggak ada penjelasan lebih rinci berapakah pajak motor 125cc atau 250cc yang dimaksud oleh pemerintah. Karena kalau kita lihat kasus Viar Q1 – motor listrik yang sudah dijual secara resmi di Indonesia – pajak skuter dengan motor elektrik bertenaga 0,8 kW (atau yang setara mesin bensin 50cc) ini tembus Rp. 1,7 juta pertahun… Alias 3 kali lipat lebih mahal dari pajak tahunan ZED (250cc single-cylinder) yang hanya sekitar Rp. 560 ribu. What the f….!

Dan ingat, Viar Q1 itu punya tenaga motor listrik yang paling kecil jika dibandingkan dengan Honda PCX Electric, apalagi Gesits. Kalau kondisinya begini terus, kebayang nggak bakal berapa pajak motor listrik Gesits yang punya output motor listrik 5 kW – alias 6 kali lipat lebih besar dari Q1? Setara moge import? Wkwkwk…

Karena banyak mendapat protes – khususnya dari pabrikan yang mencoba peruntungan di segmen motor listrik, Kementerian Perindustrian berencana mengubah standar regulasi pajak tersebut dengan satuan kilowatt, which is jadi standar output motor listrik di belahan dunia lain. Tapi soal nilai pajak tahunan nya bakal diturunin atau nggak, EA’s Blog juga masih belum tahu rencana Pemerintah seperti apa.

Intinya sih begini… Dimana negara lain seperti di Eropa, China, dan Jepang sudah mulai migrasi dari motor bensin konvensional ke motor listrik, lah kita? Regulasinya aja bahkan belum siap sama sekali.

 

Infrastruktur

 

Motor Listrik - Stasiun Pengisian Listrik Umum

Problem kedua dan yang menurut EA’s Blog paling menghambat perkembangan motor listrik dari sisi teknikal, adalah soal infrastruktur. Well, apalagi kalau bukan masalah stasiun pengisian listrik umum (SPLU). Dari beberapa referensi terakhir yang saya baca, di DKI Jakarta sendiri sebenarnya sudah ada 547 SPLU yang disiapkan oleh PT. PLN… 547 booth pengisian listrik umum, yang belum pernah saya lihat satupun wujudnya model gimana.

Meskipun kedepannya PT. PLN berjanji bakal terus menambah booth SPLU di seluruh provinsi di Indonesia… Sayangnya, ini bukan satu-satunya solusi yang bisa diandalkan untuk Honda PCX Electric atau kendaraan listrik apapun saat ini – baik itu roda 2 ataupun roda 4. Kenapa? Karena waktu charging baterai lithium ion di motor listrik itu bakal jauh-uh-uh lebih lama dibanding metode ngisi bensin di SPBU yang biasa kita lakukan sehari-hari.

Sebagai gambaran, Viar mengklaim baterai lithium-ion berkapasitas 2kWh yang diusung Q1 harus dicharge dalam waktu 5-7 jam dari kondisi kosong hingga penuh! Gimana kalau kapasitas baterainya lebih besar? 5 kWh milik Gesits contohnya? Nah, ini jadi nggak relevan lagi kalau kita komparasi dengan motor bensin konvensional… Motor listrik memang jauh lebih ekonomis, tapi bukan berarti kita melupakan kata bijak: “Time is Money”.

Untuk menghapus potensi minus terbesar motor listrik ini, Honda & Garansindo coba menghadirkan konsep baterai yang bisa diisi ulang laiknya beli galon air minum ataupun gas elpiji melon. Gesits bekerjasama dengan Bosch, sementara Honda bekerjasama dengan Panasonic Asia-Pacific untuk memproduksi konsep baterai Mobile Power Pack. Jadi nggak kalah fleksibel deh dari motor bensin konvensional!

Ekosistem baterai lithium ion ala skuter listrik Gogoro di Taiwan

Ekosistem baterai lithium ion ala skuter listrik Gogoro di Taiwan

Tapi satu hal yang perlu digaris bawahi, solusi ini butuh waktu lama, bahkan bisa saja hingga bertahun-tahun supaya ekosistem baterai ini jalan. Belum lagi butuh modal yang super ekstrim, plus harus melawan gerakan politisasi yang saat ini makin gila. Jadi nggak bisa selesai dalam waktu satu malam kayak legenda Sangkuriang… Sesaktinya Sangkuriang oge gagal pan lamun teu meunang restu ti nu Maha Kawasa…?

19 comments

  • Be

    Ekosistem motor (atau sepeda/skuter?) listrik di tempat saya tinggal, Surabaya, saya lihat semakin banyak. Hampir tiap hari saya jumpai. Saya tidak tahu merknya, tapi bukan Viar Q1 yang mirip skutik bensin melainkan lebih mirip sepeda kecil dengan keranjang di depan, warnanya putih ijo, dan sepertinya tanpa plat nomor. Apakah kendaraan yang saya maksud juga kena pajak tahunan, kang?

  • @Be… saya sepakat sama @Triyaghsya. Itu sepeda listrik. Ngga kena pajak tahunan.

  • Infatri

    Kalo menurut saya selain point point diatas, motor listrik ga akan berkembang pesat dalam waktu dekat karena faktor masih adanya pengusaha minyak fosil. Selanjutnya silakan gunakan imajinasi kalian hehe
    Cmiiw

  • @1

    Sampeyan cocok ny bahas 250sl rr mono yang harga ny jadi setara motor 150cc kang…makanan empuk buat sampeyan itu kang ekekekeek

  • Alsylend

    Saya sudah siap pindah ke roda 4
    Wkwkkwwk

    Well
    Bagi biker sejati
    Suara mesin adalah segalanya
    Disitulah masalahnya

    Masa mau pake sound tiruan
    Wkwkkw

  • niceguy

    Go green itu berlaku untuk end user aja (pengguna motor listrik). Tapi sumber penghasil listriknya bagaimana? PLTN (Nuklir???), PLTU (Uap –> dari pembakaran batubara), PLTA (Air –> ini cocok), dan beberapa sumber energi pembangkit listrik lainnya (geothermal, angin, sinar matahari, dll).
    Menurut saya ini juga harus dicarikan solusinya, jangan hanya kampanye go green tapi gak ngerti permasalahn secara menyeluruh.

  • visitor

    kang eno, itu yg masalah pajak viar kok sampai 1.7 juta, bukannya cuma 120rban aja? plus swdkllj yg 35rb jadinya 150rban per tahun? (sumber foto di artikel ini) cmiiw

  • swakemudi

    mobil listrik jaman 2011an masukin Mitsubishi iMiev dulu, pajaknya aja seharga fortuner

  • Robert

    Tak kira artikel Ninja 250SL turun harga dah mbrojol d sini…, ternyata belom…

  • The Spanish

    Bahas ninja 250sl mono & z250sl gan. Unit baru dgn harga 36jt Sudah worthed atau tetap ga worth? Jd galau antara MT-25 dpt bekas / Z250sl baru

  • Syawal

    Bro eno…
    Bahas dong tentang harga terbaru ninja 250 mono….
    Karna harga nya bersanding dengan motor kelas 150 cc..Kira kira apa saja sih yg membuat motor ini work it buat di pinang selain kapasitas nya 250 cc…

    Mengingat bro eno pernah prnah mereview nih motor… dan d situ terlihat banyak sekali kekurangannya….

  • emblue

    Soal pajak Viar sdh dikoreksi bro Visitor, mentok sekitar 200an kang di Semarang imho Jateng lbh tinggi (sy dpt penjelasan user Q1).
    Permasalahan BATERAI memang sesuatu, ga beda smatphone atw powerbank. Sy beberapa kali mendapatkan sepeda listrik model Airblade&selis dongkrok karena akinya cpt soak. Kedepannya mgkn dikembangkan selfcharge dari angin, matahari atau kinetik.

  • Dimas Nugraha

    Susah euyy…saya mah jujur wae ah, t sanggup lamun konversi k motor listrik..

    Meskipun pengguna motor twin cyl tpi knalpot sutandariah, tpi ttep suara pembakaran mesin itu suatu kenikmatan tersendirii, maintenance na oge jdi suatu seni anu dinikmati sendiri (padahal bensin na roboss 1:21-1:22, pertamax turbo pula huahahhaha 😀 )

  • Alah teriak2 go green go green karbitan mang… jgn percaya… ttp aja harian naiknya bit atau fu, selama ada bbm kendaraan listrik susah hidup mang, setau sy blm ada teknologi maju yg bisa efisien & ringkas ngelawan pengisian bbm (cair) engine gagal paling stall atau ceket, motor listeik gagal gmn ? Korslet trs kebakar wkwkwkwkk… motor listrik suaranya gmn ya? Kontak on, nguiiing.. digas… wiiikk.. wiiikk.. wiiik…

  • Kalau soal baterai, pakai saja aki truk, daya besar, harga murah, bisa didaur ulang, tinggal tuang air beres, tinggal mikir desain rangka n bodi, beli 7 unit aki buat buffer dipakai tiap hari berees

Tinggalkan Balasan