Ducati Desmosedici GP18

Ducati Desmosedici GP18, MotoGP Masih Jadi Acuan Desain Sportbike?

Ducati Desmosedici GP18 jadi gambaran betapa MotoGP makin jauh menyimpang dari usur estetika. Lihat saja sendiri tampangnya diatas, YUCK!

 

 

Dari tahun ke tahun, desain sebuah motor MotoGP jadi makin aneh. Demi mengejar aerodinamika yang nantinya mempengaruhi topspeed, kestabilan dan tetek-bengek lain – estetika pun disingkirkan. Saya yakin, fans sportbike saat ini bakal ogah pasang gambar tunggangan MotoGP sebagai wallpaper atau poster dinding. Beda seperti era 90’an sampai 2000’an dulu.

Dan diantara desain motor MotoGP yang makin aneh dari masa ke masa, kandidat jawara desain paling gokil sudah pasti bakal diraih oleh Desmosedici GP milik pabrikan Italia. Khususnya Ducati Desmosedici GP18 yang, well, weird!

 

Ducati Desmosedici GP18

 

Saat GP500 jadi tontonan wajib pecinta roda 2 era 90-an silam, industri otomotif pun menyesuaikan diri dengan keadaan. Seabrek motor full fairing a.k.a sportbike dilepas ke pasaran, dengan desain yang identik tunggangan rider favorit masing-masing. Di Indonesia, kita bisa melihat contohnya pada Honda NSR150, Aprilia RS125, Yamaha TZM, hingga Kawasaki Ninja RR.

 

 

Beranjak ke tahun 2000-an yang sekaligus jadi awal mula dimulainya era MotoGP 4-Tak, situasinya nggak terlalu banyak berubah. MotoGP = Sportbike. Kondisi ini terjadi khususnya di segmen Superbike 1 liter & Supersport 600cc, yang benar-benar terinspirasi langsung dari motor MotoGP. Coba simak desain Honda RC211V & CBR1000RR Fireblade (1st Gen), atau Suzuki GSV-R & GSX-R1000. Spek keduanya sudah pasti beda, tapi stylingnya tetap seirama.

Di era yang sama, sportbike berkapasitas kecil (125-250cc) menyesuaikan dengan ukuran body yang lebih mungil. Sementara bagi fans MotoGP yang belum beruntung memiliki sportbike? Mereka nggak kehabisan akal, bahkan motor naked pun akhirnya banyak yang dimodifikasi dengan tambahan fairing serta buritan lancip ala motor MotoGP.

 

Ducati Desmosedici GP18

Towewewewewww

 

Masuk ke era sportbike zaman now, kondisinya agak berbalik. Kalau sebelumnya desain motor MotoGP jadi inspirator pengembangan sportbike, maka saat ini justru teknologi & detailnya yang jadi inspirator. Dan ini bukan cuma terjadi di kelas flagship saja, tapi juga ikutan merembet ke segmen sportbike 150-250cc di Indonesia.

Superbike flagship berbondong-bondong pakai teknologi suspensi elektronik, throttle ride-by-wire, kontrol traksi, anti-wheelie, riding mode, dan seabrek fitur canggih lain – yang saking canggihnya sampai bisa bikin ubun-ubun kita ngebul.

 

 

Sementara itu, sportbike berkapasitas mungil juga nggak  mau kalah… Meskipun lebih sederhana. Detail seperti suspensi upside down, swingarm meliak-liuk, winglet, ban gambot, speedometer full digital, dan seabrek lainnya juga makin sering kita temui di sportbike keluaran anyar.

 

Ducati Desmosedici GP18

 

Sementara desainnya, saat ini sportbike berkapasitas kecil justru berkiblat ke superbike/supersport. Lantas, kemana produk flagship tersebut terinspirasi? Inspirasinya tetap kembali ke awal, yakni mengutamakan keseimbangan antara estetika & aerodinamika. Emang ada yang mau punya sportbike bertampang aneh kayak Ducati Desmosedici GP18? Atau tampang lele kayak Honda RC213V?

Kecuali para hipsters yang suka pamer sambil social climber di Instagram sih saya yakin (seyakin-yakinnya), gak bakal ada yang mau.

 

 

13 comments

  • Krisandra

    Nah masalahnya desain itu sangat sensitif untuk produksi masal, salah dikit di gas,btw Kang eno, sorry sedikit oot, beberapa warung sebelah ada bahas kode baru untuk next projek cb150 .. buat postingan dong prediksi versi kang eno, gak rindu over bore??

  • Saibaisait

    Mungkin pada akhirnya balik ke fairing Bulat telur/ kapsul kayak jaman world gp dulu yg jeleknya nggak ketulungan

  • Yohan.ia

    Di Indonesia ini PD kepengin punya moge apapun itu. Seport naked adv herli. Body mist lebar pasang pager kanan kiri, kaki gajah. Biar ku moge..motor gendut.

  • novatax

    Sepertinya itulah kegilaan Ducati. Klo saya sih lebih menyalahkan Dorna sampai hal ini terjadi. Apalagi ada wacana WSBK jg akan diperbolehkan menggunakan winglet.
    Sejauh ini sepertinya yg dari Jepang msh “waras”. Yg sdh ketularan GP17 tp justru jd lbh sakit sepertinya Aprilia RS-GP & RSV4 RF tuh..

  • Kato

    Padahal desmo jaman Casey salah satu motor paling ane suka Lo setelah rc211v
    Untungnya Panigale v4 nggak ketularan pake winglet kayak abangnya,rsv4 doang yg sekarang pengen nendang mukanya(walaupun kalo dikasih diterima dgn senang hati )

  • Oddo

    Kalo menurut ane sih sah2 aja motor prototipe pake aero kit a.k.a winglet. Namane jg prototipe. Kayak F1 jg kan gk jd basic buat dijadiin mass pro. So far aero kit dibuat kan ada tujuane, dan itu jelas. Beda kayak motor bebek yg dipasangi wing let kayak kemaren tu. Kalo yg kayak gt baru perlu dipertanyakan.

  • Kelayapan

    Ini ngomongin apa sih. Bikin artikel landasannya nostalgia doang… MotoGP balapan motor bukan kontes motor. Udah.

  • Rc 213v paling aerodinamis oval dari depan, bentuknya realistis.

  • Indonesiaraya

    Saya mau sih kang, cuma buat track day aja tapi hahaha. Desain nya futuristik mengarah ultra-ekstrim menurut saya.

  • Supraboy

    Kang enno, iklannya kok jadi tambah gak karuan ya? Lumayan mengganggu para pembaca setia lho kang, apalagi kalo kita pake hp android. Itu iklan udah mengeksploitasi layar android kita lebih dominan daripada tampilan artikel kang enno.

  • novatax

    Sdh liat pre-season Sepang? Wkwk…jd ingat dulu tiap 17an pas lomba sepeda hias dibikin pesawat-pesawat an..
    #garagaraducati

Tinggalkan Balasan