Advertisements
Suzuki RGV500 Gamma

Spesial: Evolusi Suzuki RGV500 Gamma, dari Masa ke Masa!

The Transition Era: Telefonica Movistar Suzuki

 

2000 Suzuki RGV500 – XRB0

 

Suzuki RGV500 Gamma XRB0

 

Rider: Kenny Roberts Junior & Nobuatsu Aoki

GP500 Position: World Champion & 10th

 

Kita langsung loncat ke era millenium, karena dari musim GP500 1995-1999 Mick Doohan jadi satu-satunya bahasan kalau kita memikirkan tentang GrandPrix. Ya, karena pada tahun 2000 mereka akhirnya menemukan kombinasi brilian untuk menjinakkan Suzuki RGV500 Gamma bersama Kenny Roberts Jr.

 

 

Sepeninggal Schwantz di musim 1995, pengembangan Suzuki RGV500 tak lantas jalan ditempat. Meski minim development yang menyesuaikan rider seperti di awal, namun Suzuki mampu mengikuti perkembangan teknologi yang dilakukan Honda & Yamaha. Beberapa contohnya seperti penggunaan velg 5-spoke berlabel Marchesini, Peralihan pemasok suspensi dari Kayaba ke Showa, Kaliper 4-piston Radial berlabel Brembo, hingga velg BBS Y-spoke di musim 1998.

 

Kenny Roberts Jr. - RGV500 - 1999

Kenny Roberts Jr. – GP500 – 1999

 

Aksi Roberts Jr. bareng Suzuki RGV500 Gamma sebenarnya sudah bisa dilihat sejak musim perdananya bareng Suzuki (1999). Saat itu, Roberts sukses mengalahkan Mick Doohan di 2 seri pembuka, GP Malaysia & Jepang. Sayangnya, problem yang dihadapi tetap sama seperti era Kevin Schwantz, nggak bisa konsisten. Efeknya, Roberts hanya mampu finish di urutan kedua klasemen akhir, kalah dari rekan setim Doohan di Repsol Honda, Alex Criville.

 

 

Musim 2000, Suzuki RGV500 Gamma mengadopsi banyak perubahan ke generasi baru XRB0. Beberapa diantaranya adalah perubahan penerapan piston yang lebih kecil (54mm), serta carbon fiber sub-frame yang bisa dilepas & adjustable. RGV generasi XRB0 juga dibekali dengan 2 tipe timing crankshaft (Screamer & Big Bang) dalam wujud motor utama & cadangan – which is memudahkan Kenny Roberts Jr. menyesuaikan diri sesuai dengan kebutuhan trek yang berbeda-beda.

Selain itu, di musim ini kita juga bisa melihat Suzuki akhirnya beralih menggunakan upside down & monoshock canggih besutan Ohlins, setelah sejak awal hanya menggunakan suspensi besutan Kayaba (KYB) dan Showa. Motor dengan codename XRB-ZERO ini juga telah dibekali dengan sistem elektronik berupa Selectable Power Mapping.

 

Suzuki RGV500 Gamma 12

 

Hasilnya luar biasa, Kenny Roberts Jr. mampu menyabet 4 kemenangan & 5 podium dari total 16 race yang dilombakan pada musim 2000. Tanpa perlawanan berarti di papan klasemen, Roberts Jr. akhirnya mampu mempersembahkan gelar Juara Dunia GP500 bagi Suzuki di musim 2000, mengalahkan rookie paling favorit saat itu, Valentino Rossi.

 

 

Beberapa kalangan bilang kemenangan Kenny Roberts Jr. di musim 2000 tidaklah sesulit effort Barry Sheene di era 70-an, apalagi Kevin Schwantz yang mengembangkan RGV era 80-90’an. Karena pada dasarnya, Roberts Jr. berada dalam akhir era kejayaan Mick Doohan, serta awal mula Valentino Rossi berkarir di GP500.

 

Suzuki Gamma 2001, perbedaan secara fisik bisa dilihat pada fairing bawah yang menggunakan warna oranye sponsor Fortuna

The Last Gamma (2001), perbedaan secara fisik bisa dilihat pada fairing bawah yang menggunakan warna oranye sponsor Fortuna

 

Akan tetapi yang perlu diingat, Kenny Roberts Jr. tetap harus menghadapi lawan-lawan berat seperti Max Biaggi, Alex Barros, Garry McCoy, Loris Capirossi, dan (pastinya) The Doctor versi muda.

Pengembangan Suzuki RGV500 Gamma terhenti pada musim 2001, dengan update berupa layout offset cylinder. Pada musim selanjutnya, Suzuki memilih untuk memfokuskan diri dalam pengembangan MotoGP 4-Tak, The-Ill-fated Suzuki GSV-R.

 

 

Engine : 2-stroke, 498cc, 80° Counter-Rotating V4, Offset Cylinder, Reed Valve Induction, Liquid-cooled

Sistem Penyuplai BBM : 36mm Keihin flat slide carburettors

Bore x Stroke : 54 x 54,5 mm

Frame : Twinspar Aluminium

Suspensi : Ohlins Fully Adjustable Upside down forks & Monoshock

Front Brake : 2 x 320mm Discs, Kaliper Radial Brembo 4-piston

Rear Brake : 210mm Disc, Kaliper Brembo 1-piston

 

 

Baca juga yang lainnya yaa Brosist…

 

 

Advertisements

11 comments

  • jimmoth

    Perlu perjuangan keras ya buat bersaing dengan Honda dan Yamaha, sama seperti penjualannya di negeri ini.

  • baru nongol lagi mang…:)

    modal jadi kendala nomor wahid kayaknya buat bersaing di motogp ya

  • saitama gundul

    artikel yg good banget kang eno… ditunggu lagi kang artikel kaya gini hehe
    saya paling demen lihat yg livery telefonica movistar

  • yusuf ubaydillah

    ini yang bikin kang eno jdi blogger antimainstream … artikel khasnya . artikel history … thanx kang buat berbagi wawasannya

  • Araday

    Mantap kang eno…

  • Tapi emang bener kok dia udh nyerah ketika Rainey crash keras, kata dia sendiri “Who am I? Am 10 feet monster? ” Gak lama dia quit. power nya cukup sadis pada masa nya 195hp dengan berat 135kg. Ciri khas 2 tak, RG Gamma keok karena dituning bagaimana juga mentok di 145-150hp sedangkan NSR + YZR udh tembus 165hp.

    • gaya Kevin memang membuat dirinya rentan crash, yang mana pada akhirnya dia menyerah karena (mungkin) daripada guwe lumpuh mending quit selagi on top…
      gw pernah baca di otomotif entah tahun berapa, 94 atau 95 mungkin.. sosok kevin dan banyaknya “luka” di sekujur tubuh dia.. kalau gak salah sih, salah satu pembalap dengan luka yang terbanyak

      Meski juara tahun 93 terkesan hibahan karena bisa jadi kalau Rainey gak lumpuh dia yang jadi jurdun, tapi tetep salut dengan Kevin dan Suzuki

      http://kobayogas.com/2018/01/07/galeri-foto-suzuki-gsx-r1000r-2017-di-sirkuit-sepang-sporty-dan-elegan/

      • Hibahan? Wah klo Criville, Doohan or Hayden di giniin pasti udah rame nih blog. Wkwkwkwkwk

        eniwei…

        Klo Hibahan bisa jadi karena pas di akhir musim dia sendiri bilang “Juara ini tidak ada artinya karena gak ada Rainey.” Yang nganter Rainey ke US di pesawat kan dia ikut. Disitu mereka ada pembicaraan sesuatu yg kemudian dia pensiun ditahun berikutnya.

        Gaya jaman dulu alias Old School memang Cross Up, diantara semua gaya paling sadis bukan Kevin tapi Doohan, semua pembalap Yamaha dari era GP 500 sampe sekarang itu presisi dan rapih racing line. Cuma Suzuki dan Honda yg cenderung brutal ketika itu, mungkin cuma Lawson yang bisa main rapih dan brutal pada saat bersamaan.

        Ruggia yang gaya balapnya Elbow Down, mirip yang dipakai Marquez sekarang, Elbow Down dan Elbow Dragging, cuma kurang populer dan gaya itu gak cocok diatas mesin 2 tak yg cenderung meledak2. Apalg kata Rossi, motor dia ama Doohan itu berbeda dimana era Doohan Screamer lebih liar dari pada NSR 500 yang dia pakai. Dan pada era Doohan power udah diatas 195RWHP, sedangkan era Schwantz 1992-1993 sekitar 180hp an di ban belakang. Kenapa? Soalnya ROC Yamaha dan Harris Yamaha power on wheel ada di kisaran 170-175hp (ini berita valid karena ini dinaiki oleh pembalap di IOM TT). Jadi ketika itu power NSR, YZR dan RGV dinaiki para monster saat itu diatas 180hp di ban belakang.

        • hehe, kan gw bilang “terkesan” hibahan.. karena ada acara rainey cidera..
          Makanya Kevin smp bilang gitu “Juara ini tidak ada artinya karena gak ada Rainey.”

          padahal kalau liat balapnya, doohan kayak yg cool ya, selalu start jelek, trus satu satu disalipin

        • @Kobay

          yg keren ya Schwantz, nyalip Rainey dan Gardner di Straight Hockenheim. Dia nyalip diantara mereka berdua seinget gw, ditengah2 mereka pas lg balapan long straight.

          hahahaa

  • Dipa

    keren bahasannya Kang, ditunggu lagi artikel history racing bike kayak gini

Tinggalkan Balasan