Suzuki RGV500 Gamma

Spesial: Evolusi Suzuki RGV500 Gamma, dari Masa ke Masa!

World Champion: Lucky Strike - Suzuki

 

1990-1992 Suzuki RGV500 XR76, XR77 & XR78

 

Suzuki RGV500 Gamma XR76

 

Rider : Kevin Schwantz & Niall Mackenzie

GP500 Position: 2nd & 4th

 

Kesuksesan RGV500 XR75 memberi asa baru bagi Suzuki yang terus mengejar gelar juara dunia. Maklum, mereka sudah lama tak merasakan gelar lantaran minim prestasi sejak era Barry Sheene era 70’an silam. Dan untungnya, project Suzuki RGV500 Gamma berjalan mulus. Kevin Schwantz juga menjadi salah satu favorit para fans GP dengan determinasi tingkat dewa, plus style balap ‘do or die’ yang melegenda.

 

 

Di musim 1990, Suzuki tak melakukan banyak ubahan signifikan kepada RGV500 Gamma XR76 & XR77. Selain merubah sudut V4 dari 60° ke 70°, fokus utama mereka tertuju pada masalah reliability yang jadi problem di musim sebelumnya. In fact, detail yang berubah signifikan justru liverynya – which is sekarang menggunakan brand rokok kenamaan, Lucky Strike… Menggantikan Pepsi yang kontrak sponsornya hanya bertahan 2 musim saja.

Sedihnya, hasilnya tetap sama. Kevin Schwantz hanya mampu finish posisi 2 di klasemen akhir musim 1990. Style balap berbahaya ala Schwantz membuatnya kehilangan poin signifikan lantaran terjatuh dan gagal finish di 4 seri balapan. Sementara itu, rival terberatnya, Wayne Rainey, hanya melewatkan 1 race dan sukses keluar sebagai Juara Dunia GP500.

 

Suzuki RGV500 Gamma 10

 

Itu artinya Schwantz harus mengubah gaya balap jadi lebih santai? No way! Karena percaya nggak percaya, determinasi tinggi & gaya balap ekstrim itu pula yang membuatnya bisa bertahan di daftar teratas klasemen GP500.

Dan hal berikutnya yang perlu diingat, sosok lawan Kevin Schwantz adalah generasi emas GrandPrix yang diisi oleh Wayne Rainey, Wayne Gardner, Eddie Lawson, Randy Mamola, hingga Mick Doohan. Semuanya legend! Ditambah, semua rider tersebut menunggangi YZR500 & NSR500 yang lebih superior secara performa & handling.

 

 

Meskipun demikian, hasil yang diperoleh Kevin Schwantz & Suzuki RGV500 Gamma tetap layak diacungi jempol. Gimana nggak, dengan motor yang lebih inferior, The Revvin’ Kevin mampu bertahan di top 4 pebalap teratas dalam 4 musim berturut-turut lho! Ditambah, style balap rider bernomor start 34 tersebut makin melekat di hati para fans GP. Ini membuat nama Suzuki makin diperhitungkan di kancah GrandPrix, serta membuat pengembangan teknologi jadi makin cepat.

 

Suzuki RGV500 Gamma XR75

 

Saat Honda memperkenalkan mesin Big Bang V4 contohnya, Suzuki juga mampu membuat versinya sendiri dalam waktu beberapa minggu saja. Suzuki juga semakin menyadari betapa pentingnya ubahan sasis menyesuaikan venue sirkuit. Di musim selanjutnya, Suzuki RGV500 telah dibekali dengan subframe plus steering pivot adjustable. Disaat yang sama, Yamaha telah mengembangkan teknologi Chip Electronic Suspension di YZR500 – sementara Honda melakukan eksperimen Electronic Fuel Injection di NSR500. Poor Suzi!

Meski ubahannya cuma beberapa milimeter saja, tapi efeknya sangat berpengaruh terhadap hasil akhir…. Khususnya untuk Schwantz. Contohnya bisa dilihat pada 2 aksi gokil Schwantz vs Rainey di GP Hockenheimring 1991, serta aksi ‘impossible overtake’ Schwantz vs Rainey di GP Donington Park.

 

1993 Suzuki RGV500 XR79

 

Suzuki RGV500 Gamma - XR79

 

Rider: Kevin Schwantz & Alex Barros

GP500 Position: World Champion & 6th

 

Generasi Suzuki RGV500 Gamma yang paling melegenda tentu adalah XR79 yang disiapkan untuk musim 1993. Pada dasarnya, nggak ada yang spesial di versi ini, karena secara teknis hampir sama saja dengan musim-musim sebelumnya. Schwantz memulai musim GrandPrix 1993 secara spektakuler setelah memimpin klasemen hingga pertengahan musim.

Tapi, as always, Schwantz kembali crash dan mendapat cidera – sekaligus membuka jalan kepada pesaing terdekatnya, Wayne Rainey yang juga mengincar juara dunia.

 

 

Kali ini nasib sial justru bukan dialami Kevin Schwantz, melainkan Wayne Rainey. Setelah komplain terhadap sasis Deltabox YZR500 OWF2 yang terlalu stiff dan membahayakan, Rainey mengalami insiden fatal di GP Misano 1993. Beberapa saat kemudian, pesaing terberat Schwantz tersebut dinyatakan mengalami cidera tulang belakang dan didiagnosa tak bisa berjalan secara normal di sisa hidupnya. Pukulan berat bagi dunia balap GrandPrix, namun keuntungan besar bagi Schwantz!

 

Suzuki RGV500 Gamma XR79

 

Seperti yang bisa ditebak, Kevin Schwantz akhirnya sukses merebut gelar Juara Dunia GP500 musim 1993. Gelar yang paling ditunggu bagi Suzuki setelah absen selama 16 musim lamanya – sekaligus menjadi kesuksesan pertama Suzuki RGV500 Gamma yang kerap dianggap lemot & inferior. Akan tetapi, ini jadi gelar yang paling menyakitkan bagi Schwantz, karena disaat yang sama dirinya kehilangan partner senegara sekaligus lawan terberat, Wayne Rainey.

 

1994 Suzuki RGV500 XR84

 

Suzuki RGV500 Gamma XR84

 

Rider: Kevin Schwantz & Alex Barros

GP500 Position: 4th & 8th

 

Di musim 1994, Suzuki RGV500 Gamma kembali ke track dengan konsep baru yang lebih menjanjikan: Generasi XR84! Sayang, satu-satunya rider yang mampu menjinakkan RGV dimusim ini lebih sering cidera dibanding unjuk gigi dengan skill balapnya yang bikin deg-degan. Akumulasi cidera yang dialami di musim sebelumnya juga menjadi batu sandungan terberat Schwantz di musim ini.

Menanggapi hal tersebut, Nathan Colombi, Mekanik GP500 Suzuki pernah berkata:

 

“Sejak insiden crash fatal Wayne Rainey di GP Misano 1994, Kevin Schwantz tak lagi sosok yang sama seperti sebelumnya. Dia (tak perlu diragukan) adalah sosok paling berjasa bagi pengembangan RGV, bagi Suzuki, tapi separuh bagian dirinya seakan menghilang setelah kehilangan sosok lawan terberat.” motorcyclenews.com.

 

 

Pada kenyataannya, Kevin Schwantz akhirnya menyerah dengan cidera berkepanjangan dan memutuskan pensiun dini di awal musim 1995. Meskipun berjasa terhadap Suzuki RGV500 Gamma XR85 yang mengantarkan rekan setimnya, Daryl Beattie, menyabet posisi 2 di klasemen akhir – tetapi hanya satu nama yang bakal bersinar hingga beberapa musim mendatang: Mick Doohan & Repsol Honda NSR500.

 

 

Engine : 2-stroke, 498cc, 70° Counter-Rotating V4, Reed Valve Induction, Liquid-cooled

Sistem Penyuplai BBM : 36mm Mikuni flat slide carburettors

Bore x Stroke : 56 x 50,7 mm

Frame : Twinspar Aluminium

Suspensi : KYB Fully Adjustable Upside down forks & Monoshock

Front Brake : 2 x 320mm Discs, Kaliper AP 4-piston

Rear Brake : 210mm Disc, Kaliper 1-piston

 

11 comments

  • jimmoth

    Perlu perjuangan keras ya buat bersaing dengan Honda dan Yamaha, sama seperti penjualannya di negeri ini.

  • baru nongol lagi mang…:)

    modal jadi kendala nomor wahid kayaknya buat bersaing di motogp ya

  • saitama gundul

    artikel yg good banget kang eno… ditunggu lagi kang artikel kaya gini hehe
    saya paling demen lihat yg livery telefonica movistar

  • yusuf ubaydillah

    ini yang bikin kang eno jdi blogger antimainstream … artikel khasnya . artikel history … thanx kang buat berbagi wawasannya

  • Araday

    Mantap kang eno…

  • Tapi emang bener kok dia udh nyerah ketika Rainey crash keras, kata dia sendiri “Who am I? Am 10 feet monster? ” Gak lama dia quit. power nya cukup sadis pada masa nya 195hp dengan berat 135kg. Ciri khas 2 tak, RG Gamma keok karena dituning bagaimana juga mentok di 145-150hp sedangkan NSR + YZR udh tembus 165hp.

    • gaya Kevin memang membuat dirinya rentan crash, yang mana pada akhirnya dia menyerah karena (mungkin) daripada guwe lumpuh mending quit selagi on top…
      gw pernah baca di otomotif entah tahun berapa, 94 atau 95 mungkin.. sosok kevin dan banyaknya “luka” di sekujur tubuh dia.. kalau gak salah sih, salah satu pembalap dengan luka yang terbanyak

      Meski juara tahun 93 terkesan hibahan karena bisa jadi kalau Rainey gak lumpuh dia yang jadi jurdun, tapi tetep salut dengan Kevin dan Suzuki

      http://kobayogas.com/2018/01/07/galeri-foto-suzuki-gsx-r1000r-2017-di-sirkuit-sepang-sporty-dan-elegan/

      • Hibahan? Wah klo Criville, Doohan or Hayden di giniin pasti udah rame nih blog. Wkwkwkwkwk

        eniwei…

        Klo Hibahan bisa jadi karena pas di akhir musim dia sendiri bilang “Juara ini tidak ada artinya karena gak ada Rainey.” Yang nganter Rainey ke US di pesawat kan dia ikut. Disitu mereka ada pembicaraan sesuatu yg kemudian dia pensiun ditahun berikutnya.

        Gaya jaman dulu alias Old School memang Cross Up, diantara semua gaya paling sadis bukan Kevin tapi Doohan, semua pembalap Yamaha dari era GP 500 sampe sekarang itu presisi dan rapih racing line. Cuma Suzuki dan Honda yg cenderung brutal ketika itu, mungkin cuma Lawson yang bisa main rapih dan brutal pada saat bersamaan.

        Ruggia yang gaya balapnya Elbow Down, mirip yang dipakai Marquez sekarang, Elbow Down dan Elbow Dragging, cuma kurang populer dan gaya itu gak cocok diatas mesin 2 tak yg cenderung meledak2. Apalg kata Rossi, motor dia ama Doohan itu berbeda dimana era Doohan Screamer lebih liar dari pada NSR 500 yang dia pakai. Dan pada era Doohan power udah diatas 195RWHP, sedangkan era Schwantz 1992-1993 sekitar 180hp an di ban belakang. Kenapa? Soalnya ROC Yamaha dan Harris Yamaha power on wheel ada di kisaran 170-175hp (ini berita valid karena ini dinaiki oleh pembalap di IOM TT). Jadi ketika itu power NSR, YZR dan RGV dinaiki para monster saat itu diatas 180hp di ban belakang.

        • hehe, kan gw bilang “terkesan” hibahan.. karena ada acara rainey cidera..
          Makanya Kevin smp bilang gitu “Juara ini tidak ada artinya karena gak ada Rainey.”

          padahal kalau liat balapnya, doohan kayak yg cool ya, selalu start jelek, trus satu satu disalipin

        • @Kobay

          yg keren ya Schwantz, nyalip Rainey dan Gardner di Straight Hockenheim. Dia nyalip diantara mereka berdua seinget gw, ditengah2 mereka pas lg balapan long straight.

          hahahaa

  • Dipa

    keren bahasannya Kang, ditunggu lagi artikel history racing bike kayak gini

Tinggalkan Balasan