Suzuki RGV500 Gamma

Spesial: Evolusi Suzuki RGV500 Gamma, dari Masa ke Masa!

The New Era: Pepsi - Suzuki

 

 

1988 Suzuki RGV500 Gamma XR73 & XR74

 

 

Suzuki RGV500 Gamma XR74

 

Rider : Kevin Schwantz & Rob McElnea

GP500 Position: 8th & 10th

 

Setelah jadi pebalap wildcard di musim 1986-87, Kevin Shwantz akhirnya resmi dikontrak oleh Tim Factory Suzuki (Pepsi-Suzuki) pada musim GrandPrix 1988. Schwantz ditugaskan untuk menjinakkan Suzuki RGV500 Gamma XR73 & XR74 yang kini dibekali piston lebih gambot untuk mendapatkan power lebih di RPM tinggi.

Meski sudah mendapat update signifikan dibanding edisi sebelumnya, Suzuki masih tetap mempertahankan mesin V4 twin-crankshaft tanpa counter-rotating crankshaft yang telah diaplikasi Honda & Yamaha.

 

 

Secara performa, Suzuki RGV500 Gamma XR73 terbukti makin kompetitif. Tapi untuk mencapai level yang setara NSR500 & YZR500? Masih jauh. Hal ini diungkapkan sendiri oleh Rob McElnea, rekan setim Schwantz di tim Pepsi-Suzuki.

“Motor ini hanya bertambah kencang, tapi makin sulit dikendarai. Ditambah, kecepatan yang kami dapat juga masih jauh dibawah Honda & Yamaha.”, Rob McElnea – classic-motorbikes.net

 

 

Meskipun dapat komentar negatif dari rekan setimnya, Kevin Schwantz justru membalik prediksi dengan menjuarai seri pembuka GP500 di Sirkuit Suzuka, Jepang. Dan yang perly diingat, sebelum musim 1988, rider berkebangsaan Amerika tersebut baru 7 kali mendapat kesempatan riding motor GrandPrix beneran lho!

Gokilnya, Schwantz juga sukses menjuarai salah satu trek balap paling berbahaya dengan kondisi ekstrim… Ya, rider bernomor 34 tersebut berhasil menjuarai GP Jerman, Sirkuit Nurburgring dalam kondisi hujan lebat.

 

1989 Suzuki RGV500 XR75

 

Suzuki RGV500 Gamma XR75

 

Rider : Kevin Schwantz & Ron Haslam

GP500 Position: 4th & 8th

 

Di akhir musim, duo Schwantz & McElnea sukses nangkring di 10 besar klasemen GP500 musim 1988. Musim selanjutnya, Suzuki RGV500 Gamma mendapat rombakan total dari sisi teknis & permesinan. Schwantz juga mendapat rekan setim baru, Ron Haslam, yang terkenal mampu menjinakkan motor nyentrik Elf-ROC Honda NSR500 yang super eksotik.

Haslam memberikan seabrek input untuk pengembangan sasis & kaki-kaki RGV, sementara Schwantz terus berusaha membuat sang Gamma mampu menandingi speed NSR & YZR.

 

 

Hasilnya bisa kita lihat langsung dengan mata telanjang. Suzuki RGV500 Gamma XR75 telah mengusung suspensi depan upside down fully-adjustable besutan Kayaba. Selain itu, XR75 juga dibekali dengan sasis alumunium twinspar model terbaru, serta alumumium banana swingarm – yang memungkinkan penggunaan model knalpot jauh lebih advanced.

Dan untuk menyesuaikan gaya balap Schwantz yang ekstrim, velgnya juga menggunakan diameter tak lazim – 16,5 inci… Yang nantinya ditiru rider era Millenial, Garry McCoy.

 

 

Dari sisi permesinan, Suzuki RGV500 Gamma kini menganut sistem counter-rotating crankshaft – satu langkah mendekati teknologi NSR & YZR. Meski belum bisa menyaingi Yamaha & Honda yang memperkenalkan firing Big-Bang V4, namun ubahan minor lain mampu membuat RGV500 perlahan mampu menyaingi duo Honda & Yamaha.

Biarkan statistik berbicara… Pada musim 1989, Kevin Schwantz sukses menjuarai 6 dari 15 seri balapan yang digelar! Sayang, power mesin yang meningkat juga membuat mesin Suzuki punya masalah baru, reliability. Efeknya, Schwantz harus mengalami gagal finish akibat problem mesin 6 kali dalam musim 1989 – dan merelakan gelar juara dunia GP500 jatuh ke tangan musuh senegaranya, Eddie Lawson.

 

 

Engine : 2-stroke, 498cc, 60° Counter-Rotating V4, Reed Valve Induction, Liquid-cooled

Sistem Penyuplai BBM : 36mm Mikuni flat slide carburettors

Bore x Stroke : 56 x 50,6 mm

Frame : Twinspar Aluminium

Suspensi : KYB Upside down forks & Monoshock

Front Brake : 2 x 320mm Discs, Kaliper AP 4-piston

Rear Brake : 220mm Disc, Kaliper 1-piston

11 comments

  • jimmoth

    Perlu perjuangan keras ya buat bersaing dengan Honda dan Yamaha, sama seperti penjualannya di negeri ini.

  • baru nongol lagi mang…:)

    modal jadi kendala nomor wahid kayaknya buat bersaing di motogp ya

  • saitama gundul

    artikel yg good banget kang eno… ditunggu lagi kang artikel kaya gini hehe
    saya paling demen lihat yg livery telefonica movistar

  • yusuf ubaydillah

    ini yang bikin kang eno jdi blogger antimainstream … artikel khasnya . artikel history … thanx kang buat berbagi wawasannya

  • Araday

    Mantap kang eno…

  • Tapi emang bener kok dia udh nyerah ketika Rainey crash keras, kata dia sendiri “Who am I? Am 10 feet monster? ” Gak lama dia quit. power nya cukup sadis pada masa nya 195hp dengan berat 135kg. Ciri khas 2 tak, RG Gamma keok karena dituning bagaimana juga mentok di 145-150hp sedangkan NSR + YZR udh tembus 165hp.

    • gaya Kevin memang membuat dirinya rentan crash, yang mana pada akhirnya dia menyerah karena (mungkin) daripada guwe lumpuh mending quit selagi on top…
      gw pernah baca di otomotif entah tahun berapa, 94 atau 95 mungkin.. sosok kevin dan banyaknya “luka” di sekujur tubuh dia.. kalau gak salah sih, salah satu pembalap dengan luka yang terbanyak

      Meski juara tahun 93 terkesan hibahan karena bisa jadi kalau Rainey gak lumpuh dia yang jadi jurdun, tapi tetep salut dengan Kevin dan Suzuki

      http://kobayogas.com/2018/01/07/galeri-foto-suzuki-gsx-r1000r-2017-di-sirkuit-sepang-sporty-dan-elegan/

      • Hibahan? Wah klo Criville, Doohan or Hayden di giniin pasti udah rame nih blog. Wkwkwkwkwk

        eniwei…

        Klo Hibahan bisa jadi karena pas di akhir musim dia sendiri bilang “Juara ini tidak ada artinya karena gak ada Rainey.” Yang nganter Rainey ke US di pesawat kan dia ikut. Disitu mereka ada pembicaraan sesuatu yg kemudian dia pensiun ditahun berikutnya.

        Gaya jaman dulu alias Old School memang Cross Up, diantara semua gaya paling sadis bukan Kevin tapi Doohan, semua pembalap Yamaha dari era GP 500 sampe sekarang itu presisi dan rapih racing line. Cuma Suzuki dan Honda yg cenderung brutal ketika itu, mungkin cuma Lawson yang bisa main rapih dan brutal pada saat bersamaan.

        Ruggia yang gaya balapnya Elbow Down, mirip yang dipakai Marquez sekarang, Elbow Down dan Elbow Dragging, cuma kurang populer dan gaya itu gak cocok diatas mesin 2 tak yg cenderung meledak2. Apalg kata Rossi, motor dia ama Doohan itu berbeda dimana era Doohan Screamer lebih liar dari pada NSR 500 yang dia pakai. Dan pada era Doohan power udah diatas 195RWHP, sedangkan era Schwantz 1992-1993 sekitar 180hp an di ban belakang. Kenapa? Soalnya ROC Yamaha dan Harris Yamaha power on wheel ada di kisaran 170-175hp (ini berita valid karena ini dinaiki oleh pembalap di IOM TT). Jadi ketika itu power NSR, YZR dan RGV dinaiki para monster saat itu diatas 180hp di ban belakang.

        • hehe, kan gw bilang “terkesan” hibahan.. karena ada acara rainey cidera..
          Makanya Kevin smp bilang gitu “Juara ini tidak ada artinya karena gak ada Rainey.”

          padahal kalau liat balapnya, doohan kayak yg cool ya, selalu start jelek, trus satu satu disalipin

        • @Kobay

          yg keren ya Schwantz, nyalip Rainey dan Gardner di Straight Hockenheim. Dia nyalip diantara mereka berdua seinget gw, ditengah2 mereka pas lg balapan long straight.

          hahahaa

  • Dipa

    keren bahasannya Kang, ditunggu lagi artikel history racing bike kayak gini

Tinggalkan Balasan