Advertisements
Suzuki RGV500 Gamma

Spesial: Evolusi Suzuki RGV500 Gamma, dari Masa ke Masa!

Square to V: Early Development

 

1986 Suzuki RGV500 XR71

 

Suzuki RGV500 Gamma - XR71 2

 

Rider: Pierfrancesco Chili

GP500 Position: 10th

 

Pada tahun 1982, Yamaha membuat gebrakan dengan memperkenalkan YZR500 (OW61) bermesin V4 – yang bakal jadi basis pengembangan generasi OW70 (Deltabox Frame) & OW76 (Reed Valve). Kuda besi yang sukses mengantarkan Eddie Lawson juara dunia GP500 musim 1984. Tak ingin NS500 V3-nya dipermalukan, Honda juga ikut melakukan pengembangan mesin V4 with single-crankshaft dengan memperkenalkan generasi NSR500 musim 1984.

 

 

Sementara Suzuki? Mereka masih setia menggunakan mesin Square Four yang terkesan outdated lantaran berat, minim power, serta balance mesin yang jauh dibawah mesin V4. Meski pengembangan terus dilakukan dengan penggunaan Crankase Reed Valve & Frame Carbon Fiber di RG500 generasi XR70, namun hasilnya masih jauh dari harapan bisa melawan dominasi Honda & Yamaha.

Berulang kali mengalami kegagalan, akhirnya pada tahun 1986, pabrikan yang bermarkas di Hamamatsu ini memutuskan untuk menggunakan mesin generasi terbaru. Ya, V4 engine!

 

Suzuki RGV500 Gamma XR71

Mesin V4 rasa Square Four ala Suzuki XR71

 

Mirip seperti kisah Honda & Yamaha, proses development Suzuki RGV500 Gamma edisi pertama (XR71) tak langsung berakhir mulus… Apalagi kalau melihat spek teknis mesin yang diusung sang RGV.

Berbeda dengan Honda NSR500 yang menggunakan mesin V4 single-crankshaft yang modern, Suzuki justru menggunakan tipe mesin V4 dengan dual-crankshaft, persis milik Yamaha YZR500. Lebih mirisnya, Suzuki tak mengikuti konsep YZR500 yang dibekali sistem Jackshaft penyalur putaran 2 kruk as sebelum ditransfer ke transmisi. Gokilnya, Suzuki justru langsung menghubungkan 2 kruk as tersebut langsung ke transmisi!

Efeknya? Jelas, nggak balance! Itu alasannya motor V4 modern (baik 2 ataupun 4-Tak) cuma punya 1 crankshaft.

 

 

Secara konsep, mesin Suzuki RGV500 XR71 ini pada dasarnya adalah Square Four yang lebih modern, bukan murni V4. Untuk mengakali ketidakseimbangan mesin pada putaran tinggi, Suzuki membuat mesin ini punya sudut yang cukup sempit, 55° V4. Tapi sayangnya, trik ini gagal membuat mesinnya kompetitif.

 

1987 Suzuki RGV500 XR72

 

Suzuki RGV500 Gamma XR72

 

Rider : Kenny Irons

GP500 Position: 14th

 

Sadar akan kekurangan tersebut, Suzuki coba memperbaikinya lewat generasi RGV XR72 musim 1987. Namun yang perlu diingat, pengembangan bukan cuma dilakukan oleh Suzuki lho – Yamaha & Honda juga melakukan hal yang sama untuk ‘monster’ masing-masing, YZR & NSR. Akibatnya, Suzuki mendapatkan hasil terburuk dalam 15 musim terakhir, setelah gagal menembus 10 besar klasemen akhir.

Akan tetapi, orang bijak pernah berkata: “kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda”. Dan begitupun yang terjadi dengan Suzuki RGV500 Gamma. Karena di musim berikutnya, Suzuki bukan cuma sukses merombak sisi teknisnya, tapi juga sukses menemukan joki yang dapat menjinakkan sang Gamma… The Revvin’ Kevin, Kevin Schwantz.

 

 

Engine : 2-stroke, 498cc, 55° V4, Reed Valve Induction, Liquid-cooled

Sistem Penyuplai BBM : 36mm Mikuni flat slide carburettors

Bore x Stroke : 54 x 54 mm

Frame : Twinspar Aluminium

Suspensi : KYB telescopic forks & Monoshock

Front Brake : 2 x 320mm Discs, Kaliper 4-piston

Rear Brake : 220mm Disc, Kaliper 1-piston

 

Advertisements

11 comments

  • jimmoth

    Perlu perjuangan keras ya buat bersaing dengan Honda dan Yamaha, sama seperti penjualannya di negeri ini.

  • baru nongol lagi mang…:)

    modal jadi kendala nomor wahid kayaknya buat bersaing di motogp ya

  • saitama gundul

    artikel yg good banget kang eno… ditunggu lagi kang artikel kaya gini hehe
    saya paling demen lihat yg livery telefonica movistar

  • yusuf ubaydillah

    ini yang bikin kang eno jdi blogger antimainstream … artikel khasnya . artikel history … thanx kang buat berbagi wawasannya

  • Araday

    Mantap kang eno…

  • Tapi emang bener kok dia udh nyerah ketika Rainey crash keras, kata dia sendiri “Who am I? Am 10 feet monster? ” Gak lama dia quit. power nya cukup sadis pada masa nya 195hp dengan berat 135kg. Ciri khas 2 tak, RG Gamma keok karena dituning bagaimana juga mentok di 145-150hp sedangkan NSR + YZR udh tembus 165hp.

    • gaya Kevin memang membuat dirinya rentan crash, yang mana pada akhirnya dia menyerah karena (mungkin) daripada guwe lumpuh mending quit selagi on top…
      gw pernah baca di otomotif entah tahun berapa, 94 atau 95 mungkin.. sosok kevin dan banyaknya “luka” di sekujur tubuh dia.. kalau gak salah sih, salah satu pembalap dengan luka yang terbanyak

      Meski juara tahun 93 terkesan hibahan karena bisa jadi kalau Rainey gak lumpuh dia yang jadi jurdun, tapi tetep salut dengan Kevin dan Suzuki

      http://kobayogas.com/2018/01/07/galeri-foto-suzuki-gsx-r1000r-2017-di-sirkuit-sepang-sporty-dan-elegan/

      • Hibahan? Wah klo Criville, Doohan or Hayden di giniin pasti udah rame nih blog. Wkwkwkwkwk

        eniwei…

        Klo Hibahan bisa jadi karena pas di akhir musim dia sendiri bilang “Juara ini tidak ada artinya karena gak ada Rainey.” Yang nganter Rainey ke US di pesawat kan dia ikut. Disitu mereka ada pembicaraan sesuatu yg kemudian dia pensiun ditahun berikutnya.

        Gaya jaman dulu alias Old School memang Cross Up, diantara semua gaya paling sadis bukan Kevin tapi Doohan, semua pembalap Yamaha dari era GP 500 sampe sekarang itu presisi dan rapih racing line. Cuma Suzuki dan Honda yg cenderung brutal ketika itu, mungkin cuma Lawson yang bisa main rapih dan brutal pada saat bersamaan.

        Ruggia yang gaya balapnya Elbow Down, mirip yang dipakai Marquez sekarang, Elbow Down dan Elbow Dragging, cuma kurang populer dan gaya itu gak cocok diatas mesin 2 tak yg cenderung meledak2. Apalg kata Rossi, motor dia ama Doohan itu berbeda dimana era Doohan Screamer lebih liar dari pada NSR 500 yang dia pakai. Dan pada era Doohan power udah diatas 195RWHP, sedangkan era Schwantz 1992-1993 sekitar 180hp an di ban belakang. Kenapa? Soalnya ROC Yamaha dan Harris Yamaha power on wheel ada di kisaran 170-175hp (ini berita valid karena ini dinaiki oleh pembalap di IOM TT). Jadi ketika itu power NSR, YZR dan RGV dinaiki para monster saat itu diatas 180hp di ban belakang.

        • hehe, kan gw bilang “terkesan” hibahan.. karena ada acara rainey cidera..
          Makanya Kevin smp bilang gitu “Juara ini tidak ada artinya karena gak ada Rainey.”

          padahal kalau liat balapnya, doohan kayak yg cool ya, selalu start jelek, trus satu satu disalipin

        • @Kobay

          yg keren ya Schwantz, nyalip Rainey dan Gardner di Straight Hockenheim. Dia nyalip diantara mereka berdua seinget gw, ditengah2 mereka pas lg balapan long straight.

          hahahaa

  • Dipa

    keren bahasannya Kang, ditunggu lagi artikel history racing bike kayak gini

Tinggalkan Balasan