Suzuki RGV500 Gamma

Spesial: Evolusi Suzuki RGV500 Gamma, dari Masa ke Masa!

Intro

Secara hitung-hitungan juara dunia GrandPrix, Suzuki pastinya bukan sosok tersukses di dunia. Tapi, yang satu ini sukses melahirkan salah satu jagoan GP terfavorit era 90-an. And yes! Kita bakal bahas evolusi ‘The Legendary’ Suzuki RGV500 Gamma.

 

 

Beberapa tahun lalu, EA’s Blog sempat membahas seputar Suzuki RG500 Gamma, pendahulu dari RGV-series yang mengusung mesin Square Four nan unik. Skill amazing Barry Sheene sukses menjinakkan RG500 dan membawa Suzuki menjadi juara dunia GP500 di akhir 70-an. Tapi sayangnya, kesuksesan tersebut nggak berlangsung lama.

 

 

Suzuki RGV500 Gamma

 

Ya, seperti halnya perkembangan MotoGP masa kini, perkembangan motor GrandPrix 500cc 2-Tak era 80-an silam juga berlangsung amat-sangat cepat. Mulai dari penggunaan part ringan berbasis alumunium & carbon fiber, suspensi canggih, hingga pengembangan mesin yang makin modern. Dan sialnya, Suzuki jadi yang terbelakang dalam sisi development tersebut – khususnya setelah Yamaha & Honda melakukan perombakan besar-besaran awal era 80’an.

 

 

Mulai dari tahun 1982-84, Yamaha & Honda sama-sama mengembangkan mesin V4 Screamer generasi terbaru, berikut dengan penggunaan berbagai material ringan & eksotis. Sementara Suzuki? Well, Tim Factory (utama) mereka justru meninggalkan ajang GrandPrix karena rentetan hasil buruk dari RG500 –  yang nggak cuma ketinggalan secara spek mesin, tapi juga teknologi.

Meski tim Heron-Suzuki sempat mengaplikasikan sasis carbon yang eksotik, tapi mesin Square Four RG500 really is, outdated.

 

 

Setelah bertahun-tahun melakukan pengembangan serius, Suzuki is back! Pada tahun 1986, mereka memperkenalkan generasi terbaru Suzuki RGV500 Gamma – yang telah mengusung mesin V4 Screamer serta teknologi yang diklaim nggak kalah dari pesaing lain seperti Honda & Yamaha.

Motor inilah yang nantinya jadi legenda bersama sosok pebalap yang nggak kalah legendaris, Kevin Scwantz. Sekaligus menjadi inspirasi para fans Suzuki di seluruh dunia dengan livery-nya yang khas & fenomenal. Here it is, the story of Suzuki RGV500 Gamma.

 

11 comments

  • jimmoth

    Perlu perjuangan keras ya buat bersaing dengan Honda dan Yamaha, sama seperti penjualannya di negeri ini.

  • baru nongol lagi mang…:)

    modal jadi kendala nomor wahid kayaknya buat bersaing di motogp ya

  • saitama gundul

    artikel yg good banget kang eno… ditunggu lagi kang artikel kaya gini hehe
    saya paling demen lihat yg livery telefonica movistar

  • yusuf ubaydillah

    ini yang bikin kang eno jdi blogger antimainstream … artikel khasnya . artikel history … thanx kang buat berbagi wawasannya

  • Araday

    Mantap kang eno…

  • Tapi emang bener kok dia udh nyerah ketika Rainey crash keras, kata dia sendiri “Who am I? Am 10 feet monster? ” Gak lama dia quit. power nya cukup sadis pada masa nya 195hp dengan berat 135kg. Ciri khas 2 tak, RG Gamma keok karena dituning bagaimana juga mentok di 145-150hp sedangkan NSR + YZR udh tembus 165hp.

    • gaya Kevin memang membuat dirinya rentan crash, yang mana pada akhirnya dia menyerah karena (mungkin) daripada guwe lumpuh mending quit selagi on top…
      gw pernah baca di otomotif entah tahun berapa, 94 atau 95 mungkin.. sosok kevin dan banyaknya “luka” di sekujur tubuh dia.. kalau gak salah sih, salah satu pembalap dengan luka yang terbanyak

      Meski juara tahun 93 terkesan hibahan karena bisa jadi kalau Rainey gak lumpuh dia yang jadi jurdun, tapi tetep salut dengan Kevin dan Suzuki

      http://kobayogas.com/2018/01/07/galeri-foto-suzuki-gsx-r1000r-2017-di-sirkuit-sepang-sporty-dan-elegan/

      • Hibahan? Wah klo Criville, Doohan or Hayden di giniin pasti udah rame nih blog. Wkwkwkwkwk

        eniwei…

        Klo Hibahan bisa jadi karena pas di akhir musim dia sendiri bilang “Juara ini tidak ada artinya karena gak ada Rainey.” Yang nganter Rainey ke US di pesawat kan dia ikut. Disitu mereka ada pembicaraan sesuatu yg kemudian dia pensiun ditahun berikutnya.

        Gaya jaman dulu alias Old School memang Cross Up, diantara semua gaya paling sadis bukan Kevin tapi Doohan, semua pembalap Yamaha dari era GP 500 sampe sekarang itu presisi dan rapih racing line. Cuma Suzuki dan Honda yg cenderung brutal ketika itu, mungkin cuma Lawson yang bisa main rapih dan brutal pada saat bersamaan.

        Ruggia yang gaya balapnya Elbow Down, mirip yang dipakai Marquez sekarang, Elbow Down dan Elbow Dragging, cuma kurang populer dan gaya itu gak cocok diatas mesin 2 tak yg cenderung meledak2. Apalg kata Rossi, motor dia ama Doohan itu berbeda dimana era Doohan Screamer lebih liar dari pada NSR 500 yang dia pakai. Dan pada era Doohan power udah diatas 195RWHP, sedangkan era Schwantz 1992-1993 sekitar 180hp an di ban belakang. Kenapa? Soalnya ROC Yamaha dan Harris Yamaha power on wheel ada di kisaran 170-175hp (ini berita valid karena ini dinaiki oleh pembalap di IOM TT). Jadi ketika itu power NSR, YZR dan RGV dinaiki para monster saat itu diatas 180hp di ban belakang.

        • hehe, kan gw bilang “terkesan” hibahan.. karena ada acara rainey cidera..
          Makanya Kevin smp bilang gitu “Juara ini tidak ada artinya karena gak ada Rainey.”

          padahal kalau liat balapnya, doohan kayak yg cool ya, selalu start jelek, trus satu satu disalipin

        • @Kobay

          yg keren ya Schwantz, nyalip Rainey dan Gardner di Straight Hockenheim. Dia nyalip diantara mereka berdua seinget gw, ditengah2 mereka pas lg balapan long straight.

          hahahaa

  • Dipa

    keren bahasannya Kang, ditunggu lagi artikel history racing bike kayak gini

Tinggalkan Balasan