Advertisements
Honda Supra X 2001

Nostalride: Honda Supra X 2001,  More Ride Less Worry

Honda Supra-series masih jadi salah satu legenda hidup sepeda motor di Indonesia dengan penjualan menembus jutaan unit. Dan beberapa hari lalu, EA’s Blog berkesempatan riding motor bebek yang bertanggung jawab membuat nama “Supra” menjadi terkenal seperti sekarang ini: Honda Supra X (100) lansiran 2001.

 

 

Sedikit history, meskipun dirakit di tahun 2001 dan masih mengusung nama “Astrea Honda” (bisa dilihat di tebeng depan & stripe body), namun motor yang EA’s Blog eksplorasi kali ini adalah generasi kedua dari family Supra 100. Bisa dilihat dari penggunaan rem cakram di depan, serta penggunaan suffix “X” yang seolah menunjukkan kalau performanya lebih baik dari versi lawas… Which is NOT. Absolutely NOT.

 

Honda Supra X 2001
Jika dilihat sekilas, kondisinya secara fisik masih nampak lumayan – meskipun jangan harap bisa sama seperti motor keluaran baru… Setidaknya itu yang saya lihat, sebelum riding dan menemukan poin minus lain. Bekas goresan ada dimana-mana, mulai dari spatbor depan, dek underbone hingga buritan – yang seolah menggambarkan betapa kerasnya kehidupan dalam masa baktinya selama 16 tahun mengabdi! Selain itu, velg spoke wheelnya masih kinclong, shockabsorber & knalpotnya juga masih chrome berkilau, andai empunya sudi meluangkan waktu membersihkan.

Miris, benar-benar miris jika melihat kondisi motor bebek saat ini yang sudah memakai velg cast wheel tapi warna catnya memudar, ataupun knalpot berdesain keren tapi warnanya menguning. Di satu sisi kita mengalami kemajuan, tapi juga menemui kemunduran di sisi lainnya.

 

 

Awalnya tak ada niat untuk pakai Honda Supra X ini untuk agenda liburan. Tapi karena malam sebelumnya ZED sempat terpeleset (jatoh bego) di garasi sampai handle remnya patah, yowess, kenapa nggak coba lucu-lucuan pakai Supra? Lagipula, sudah sekitar 6 tahunan sejak terakhir saya riding Supra Fit kesayangan. Rute yang EA’s Blog tempuh saat itu dari Telagasari di daerah utara, membelah pusat kota, menuju Curug Cigeuntis di ujung selatan Kab. Karawang. Dari daerah pesawahan, ke daerah elite fashionista-instagramanus, hingga ke dataran tinggi, dengan total jarak tempuh sekitar 100 km (PP).

Kondisi H+2 lebaran membuat perjalanan membelah perkotaan jadi terasa lebih sepi dibanding melewati desa-desa di pinggiran kota. Berbanding terbalik 180° jika dibandingkan hari-hari biasa. Entah ini wajah Kab. Karawang yang sebenarnya, atau memang cuma perasaan saya saja. Yang jelas, beberapa kilometer menjelang lokasi wisata, kondisinya berubah jadi chaos. Macet total! Lebar jalanan tak cukup menampung volume kendaraan yang membludak saat momen liburan. Ditambah dengan kontur jalanan yang dipenuhi tanjakan ekstrim, artinya from bad to worse.

 

Honda Supra X 2001

 

Sepanjang kemacetan, pemandangannya selalu diisi oleh skuter matik yang kesulitan menanjak, rider motor sport yang sibuk memijat tangan kiri (pegal tahan handle kopling), hingga bau gosong tanda kampas kopling bermasalah. Bagaimana dengan Supra-nya, Kang Eno? Cukup standby pakai gear 1, all problem solved. Kebayang deh kalau saat itu pakai ZED, pasti telapak tangan sudah mati rasa menahan pegal. Pelajarannya, kadang simplisitas itu berguna disaat genting lho! Catat!

 

 

Sepulang dari lokasi, entah kenapa EA’s Blog begitu enjoy riding bareng Honda Supra X 100 ini. Padahal kalau mau dibahas, motor ini punya seabrek kekurangan jika dibandingkan dengan tunggangan saya yang lain… Nggak punya akselerasi maut laiknya ZED, juga nggak punya sensasi kitiran atas mantap seperti Spacy BOB. Digeber nggak digeber, speedometernya seakan mentok di 80 km/h – sementara getaran (vibrasinya) seolah-olah sedang berada di RPM tinggi. Ditambah dengan suara-suara annoying dari bagian bodi yang mulai mengendur, komplit deh.

Entah berapa kali saya bareng neng tertawa geli sewaktu geber RPM tinggi bergaya pebalap, tapi motornya tetap nggak mau lari dan kaki kami berdua sampai kesemutan menahan getaran mesin. Saking asiknya lucu-lucuan, sampai-sampai saya kelupaan cek bensinnya.

 

 

Sekitar 15 km dari awal perjalanan, saya sempat isi bensinnya di Pertamini pinggir jalan. Nggak usah banyak-banyak, cukup Rp. 20ribu pun sudah meluber kemana-mana koq, tangkinya kecil. Gokilnya, bensin yang saya isi di tempat ini masih cukup untuk riding ke Curug Cigentis, ke Karawang, ke Telagasari, ke Pasar, dipakai jalan-jalan, baru deh jarum bensinnya sampai di huruf “E” yang berarti kosong. Kalau dihitung secara kasar, motor ini punya konsumsi BBM lebih dari 50 Km/Liter! Dan jangan lupa, kondisi riding saat itu dipenuhi kemacetan ekstrim, plus ditambah tangan kanan EA’s Blog yang nggak pernah bersahabat dengan efisiensi BBM. Kalau semua motor seirit ini, mungkin sekarang harga bensin masih berada di Rp. 4.500 – kayak jaman saya SMA dulu.

 

 

Riding bareng Honda Supra X 2001 ini kembali membuktikan, bahwa motor yang “tasteless” sekalipun bisa memberi kesan yang positif. Bareng motor ini mungkin saya nggak bisa geber alay 150cc dijalanan, apalagi ngarep top speed tinggi saat jalanan kosong. Mimpi. Tapi, bareng motor ini kita bisa melupakan segala problem & kerumitan yang ada di motor modern, dan fokus pada perjalanan yang kita hadapi.

Nggak musingin kehabisan bensin, nggak khawatir rider & boncenger pegal, nggak takut overheat, nggak takut kalau ada masalah dijalan (karena problem Supra biasanya gitu-gitu doang), nggak takut begini, nggak khawatir begitu, pokoknya more ride – less worry banget deh. Eh, wait, bukannya itu yang jadi esensi utama riding pakai sepeda motor?

 

Baca juga yang lainnya yaa Brosist…

 

Loading...

Advertisements

15 comments

  • Aobay

    Alhamdulillah ada artikel lagi

  • Ibha

    Saya pikir kang eno dah pensiun,, setiap hari minimal saya cek blog ini 5x,,,,, klo mtor ni sya jg pernah punya, masih ada bangkai nya,,,

  • Kapten Jack

    Asyiiik.. Ada artikel baru

  • Sama pas pake grand, cukup gigi 1 pelan2 nyampe Curug cigeuntis, sambil liatin motor2 metik kaga kuat naik

  • nh69

    kangen artikel nya nih

  • Natanael R

    Saya juga punya Supra X 100 kang,ini motor betul betul ga ada tenaganya dan paling sering dijadiin becak atau dilepas semua bodinya wkwkwk,jadi ingat trik kalo ada Supra yang sayap kiri kanannya lepas,puteran kran karbunya ditutup biar motor nyendat trus mati wkwkwk,btw ini motor overbore ya?

  • Eko

    Kamana wae atuh….minal aidzin wal fa idzhin mang…lanjutkeun deui posting artikel motor legendaris atuh mang.

  • Handoyo

    Selama anda masih ingat ganti oli,
    Selama itulah dia akan tetap melayani

  • buruh pabrik

    saya juga masih melihara supra x2001 peninggalan bapak saya, dari jaman saya sma smpe dah berumah tangga.

  • Free1

    hmmm…. saya pakai saudaranya kang.. versi downgrade satu mesin yaitu fit s rem tromol depan belakang…. ga ada yang istimewa sich.. tapi tetap fun to ride kang

  • Iwan maros

    Betul mas. Itulah sy tetap pilih bebek honda. Banyak kekurangannya dan seperti ahm akal akalan sama konsumen, tp dari hal hal utama honda gak main main. Akal akalan sperti : yg lain kadih 110 cc , honda cuma 99 cc. Yg lain body rapat, ini biar gak pernah jatuh renggang sendiri. Yg lain kasi tarikan mantap( jupe dan shogun), supra secukupnya. TAPI dibalik kekurangan itu honda kasi kelebihan yg penting bagi kebanyakan orang dan itu berhubungan dengan pengeluaran. Bensin lebih hemat. Perawatan simple banget. Pernah punya lama supra yg baut anginnya gak ada, gak pernah yg namanya susah dihidupin. Coba stel sembarangan jupe dan shogun di setelan gas dan angin, pasti kacau. Supra, suka suka Anda. Lahar ban lebih hemat karena besi as roda baik depan dan belakang lebih besar dr saingan. Terutama belakang. Sy sampai bertanya, ini ban belakang sampai kapan ya baru geol. Habis lama banget tahannya lahar supra ban belakang. Terakhir, kyak pepatah, tua tua keladi makin tua makain jd. Lihat di jalan kebanyakan bebek honda tua yg masih dipakai alai dan kencang kencangan.

  • Romald

    Kang Eno is back hehe
    Wah jadi kebayang motor pertama saya yang dibeliin ortu buat belajar naik motor jaman smp. Vibrasinya sampek ke ubun ubun kang haha

  • senengnya pake suprafit, motor ini bandel dan irit hehe, saya juga pelihara satu dan masih dipakai harian hingga kini

  • rifkiplick

    iya emang kang eno, sy liat sodara sy pengguna supra minim masalah bgd dibalik segala kekurangannya & irit pulak, kalah deh yg lain.
    sy sendiri pengguna shogun 125, pernah bermasalah kelistrikan berkali2, setelah ganti total kabel2 utama br beres gak bermasalah lg, btw, shogun lebih fun to drive sih. Just my opinion.

    • enoanderson

      Jauh atuh kang shogun mah, wkwkwk… Kalau misalnya ada keduanya, saya juga lebih pilih Shogun daripada Supra

Tinggalkan Balasan