Advertisements
Jorge Lorenzo Crash

Inilah Alasan Mengapa Lorenzo Kesulitan Bersama Ducati

Kiprah Jorge Lorenzo di 3 seri awal MotoGP 2017 bisa dibilang jauh dari harapan. Jangankan untuk merebut podium, finish di 5 besar pun belum mampu dilakoni pebalap berjuluk X-Fuera tersebut. Yang lebih parah, posisi Lorenzo di klasemen sementara MotoGP musim ini justru masih dibawah tim satelit Ducati Corse laiknya Danilo Petrucci, Alvaro Bautista & Scott Redding.

 

 

Lantas apa yang menyebabkan pebalap pengoleksi 3 gelar Juara Dunia tersebut merosot prestasinya bersama Ducati? Ini dia alasannya!

 

Terlalu Lama di Yamaha

 

Lorenzo Crash 4

 

Alasan ini dikemukakan rekan setim Lorenzo di Ducati, Andrea Dovizioso. Menurut pebalap berkebangsaan Italia tersebut, alasan utama mengapa Jorge Lorenzo menemui kesulitan di awal seri MotoGP 2017 adalah karena terlalu lama berada di Yamaha. Maklum, pebalap bernomor start 99 tersebut memang sudah 9 musim berada dibawah panji Yamaha Factory. Menurutnya, karakter dan riding style Lorenzo telah terbentuk bersama dengan pengembangan Yamaha YZR M1.

 

 

Dan sialnya, karakter yang dimiliki oleh Ducati Desmosedici GP17 sangat berbeda jauh dari tunggangan Lorenzo di Yamaha beberapa musim lalu. Namun, Andrea Dovizioso tetap yakin kalau rekan setimnya tersebut bisa menjalani musim kedepan dengan hasil yang lebih baik. Mengingat Lorenzo adalah salah satu pebalap yang punya skill tinggi di ajang MotoGP – untuk bisa beradaptasi dengan motor Ducati.

 

Kurang “Liar”

 

Lorenzo Crash 3

 

Pendapat berbeda diungkakan oleh mantan pembalap Ducati MotoGP, sekaligus pria yang kini memegang jabatan sebagai Safety Commission MotoGP, Loris Capirossi. Pebalap asal italia tersebut menilai karakter Lorenzo tidak cukup liar untuk mengendarai motor Ducati.

Di kalender musim ini, ada trek dimana Ducati Desmosedici GP17 bakal terlihat unggul dan nampak lemah. Dan berbicara dari pengalamannya bersama Ducati musim 2013 silam, Capirossi mengungkapkan di lintasan di mana Ducati kesulitan, seorang pebalap harus berkendara dengan kejam! Dan sayangnya, Lorenzo tidak punya karakter yang dibutuhkan motor Ducati.

 

 

Lorenzo adalah pembalap yang sangat cepat dan bersih, tapi Ducati perlu pembalap liar. Itu yang menyebabkan adaptasi Jorge Lorenzo di Yamaha bakal lebih lama dibanding rider lain semisal Casey Stoner ataupun Andrea Iannone yang juga pernah berada dibawah panji Ducati Corse.

 

Tanggapan Lorenzo?

 

Jorge Lorenzo Crash

 

Lantas apa tanggapan yang diberikan oleh Jorge Lorenzo atas hasil finish ke-9 di Sirkuit Austin silam yang jauh dari harapan? Ternyata jawabannya cukup diluar dugaan lho Brosist…! Seperti dikutip dari laman resmi MotoGP, Lorenzo mengaku tidak ingin memaksakan mengendarainya (Ducati Desmosedici GP17) sampai limit tertinggi.

 

 

Pebalap berjuluk X-Fuera ini malah berseloroh sambil berusaha memahami dan beradaptasi selama balapan di race GP Austin silam. Mulai dari bagaimana menaklukkan tenaga yang dimuntahkan, juga tentang kenyaman konstruksi serta jok dan setelan ban.

Meskipun demikian, Lorenzo tetap merasa emosi dan kesal – lantaran belum mampu menguasai tunggangannya meski sudah digunakan berkali-kali dalam latihan dan 3 seri awal MotoGP. Akankah Lorenzo mampu menguasai Desmo di race selanjutnya? Mari kita lihat sama-sama pertarungan antar pebalap di GP Jerez nanti ya!

 

 

Baca juga yang lainnya yaa Brosist…

 

 

 

Advertisements

13 comments

  • fby

    pertamax kang!!

  • Bisa makin payah ni kyaknya klo kondisi wet race.. sbagian pbalap pabrikan maupun satelit ducati lbih bisa mmacu desmo dgn kondisi trkontrol di blapan basah. Lah lorenzo dngn mesin jinak M1 aja keteter.. kalo turun ujan.

  • Hr15de

    Nyatanya Ducati memang selama ini selalu dibawah bayang2 Yamaha dan Honda, jadi tidak fair juga kalau seluruh kemerosotan prestasi Lorenzo adalah kelemahan dia.

    Idealnya sih Stoner lagi yg menjadi punggawa Ducati, karena terbukti hanya dia yg sanggup membawa motor merah ini ke papan atas. Dan umurnya masih ideal untuk bersaing saat ini.

    • PREET

      Halah Stoner juara 1x aja Lo koar2in hebat…PREETTT,,
      setelahnya ancur juga. Murni bukan rider tapi emang tuh montor perlu pembenahan luar dalam terutama sasis bro…!!!!
      Ducati hanya fokus power & power…!!!
      Aspek lainya seakan diabaikan…!!!
      Rider Moto GP bukan orang2 sembarangan,
      Kurang apa itu Mbah rossidah master mesin ganas 2 tak di eranya.????
      Trah montor buossok Ducati emang pantes dicap bussukkk…!!!!

      • Hr15de

        Ane heran udah nulis sopan2, ada aja yg nanggepin lebay. “.. karena terbukti hanya dia yg sanggup membawa motor merah ini ke papan atas” ini dibilang ane koar2 stoner hebat? Ckckckck..

        • mPy

          maklum bro…sudah terbiasa gontok2an debat kere diforum sebelah..jadinya etikanya dibawa kemana2.
          padahal apa yg diungkapkan itu nunjukun kualitas otaknya…
          mari budayakan sopan sama orang lain…katanya bangsa yg penuh sopan santun…….
          kalo mau gontok2an dan ngomong kasar jangan di sini bro…kalo di forum sebelah yg masih mbolehin gitu yo monggo disana saja…..
          *berharap bisa saling bertukar info dengan sehat

      • Ducati juara WSBK udh 14 kali. Ngak selalu motor jarang atau belum juara motogp dianggap payah. Bnyk faktor dan variable nya. Krena handling Ducati lebih mirip dg Honda bisa jdi Marquez akan cocok dri pd JL.

    • Apa pembalap harus kembali ke Old Style dimana balapan nya semrawutan dan ngegantung diantara tengki?

      sekarang kan katanya era lean angle bukan cross up atau pun sliding/power drift

      • Sbenernya lean angle bukan faktor Pak. Sejak elektronik makin canggih, memungkinkan pembalap buka gaz lebih bnyk di tikungan med-fast tanpa kuatir ban spin atau highside. Utk kompensasi gaya sentrifugal yg cenderung mengajak motor ke sisi luar, body pembalap diposisikan hag-off lebih banyk dri sebelumnya. Bersamaan sudut motor makin ditegakkan lgi supaya grip atau traksi lebih kuat ke aspal. Grip ban pd bagian pinggir (edge) yg terlemah. Posisi full lean justru kecepatan motor paling lambat.

        karakteristik handling motor memang berlainan satu dg yg lain. kadang ngak cocok dg teknik balap si ridernya.

  • roy sempak operpret

    Lorencong kena karma udah dzalim ke mbah rossi 2015 silam

  • Ducati memang motor tipe dragster Pak, adu speed di trek lurus, stabil hard braking, tpi repot dibawa miring kenceng di tikungan medium-fast. Kata JL harus agresif buka gas, ban spin sliding di apex supaya motor tetap berada di line pas akselerasi keluar tikungan. Ducati cenderung understeer .

    Sebaliknya Yamaha stabil membangun speed di mid-corner. Motor nurut tetap berada di line, tpi ngak bisa terlalu dibawa hard braking memasuki tikungan.

    Dengan Yamaha JL mengurangi mayoritas kecepatan di lintasan lurus, kmudian posisi gaz dibuka, motor roll-on masuk tikungan med-fast. Wktu dg Brigestone corner speed JL luar biasa.

    Dengan Ducati dia harus full hard braking masuk tikungan dan dibantu rem belakang supaya sdikit sliding menggeser bag buritan masuk tikungan. Cara ini ngak pernah dia lakukan dg M1 dulu jdi bertolak belakang.

    Ngak mudah memang mengganti teknik balap yg udh terprogram lama ke yg baru dlm waktu singkat

    Karaktersitik RC213V jga mirip Ducati, stabil dibawa hard braking, kemudian belok tajam di tikungan V shaped stop n go. Dg ban depan Bridgestone, Marquez hard braking paling brutal

  • Gema

    Saya sebagai fans JL99 ngerasa perubahan body posistion Hohe pas bawa GP17, udah ga bisa elbowdown lagi atau emang sengaja ngerubah? Sudut lean nya juga jauh lebih tegak dibanding pas masih di Yamaha. Hohe belum ngepush atau udah ngerasa limit ya?

    • Coba bantu jawab. JL tetep elbow down di tikungan lambat bentuk U. Katanya bawa GP17 perlu upaya fisik bnyk dri M1, lebih capek.

      Elbowdown biasanya karena body pembalap hang-off lebih bnyk dan posisi motor lebih tegak kompensasi gaya sentrifugal juga bersamaan mendapatkan grip atau tapak ban yg lebih kuat.

      Lean angle lebih tegak traksi ban ke aspal akan lebih lengket. Di apex pembalap berusaha secepatnya tegakkan posisi motor utk mulai buka gaz akselerasi dri posisi full lean di tikungan slow. Dg cara didorong naik ke atas sambil badan tetap hanging-off keluar dri fairing, kemudian full akselerasi. Motor semakin tegak throttle dapat semakin dibuka lebar.

      Rossi, Marquez tipe yg cepat tegakkan motor di apex utk full akselerasi. JL membawa M1 lebih lama miring mengambil line yg lebar. Utk itu dia perlu panas ban maksimum supaya grip bagian pinggir lengket. Karena JL sdh membangun speed di mid-corner, dia hanya perlu sedikit bukaan throttle pas akselerasi di ujung tikungan dibandingkan Rossi.

Tinggalkan Balasan