Advertisements
Review Honda CBR250RR

Review Honda CBR250RR, Welcome to Another World!

Di awal 2016 silam, jika Brosist ingin sportbike 1/4 liter bertampang menarik & punya good quality maka pilihannya jatuh ke Ninja 250… Sementara apabila berminat punya 250cc dengan power & handling bagus, YZF R25 adalah pilihan terbaiknya. Tapi yang satu ini, punya keduanya… Honda CBR250RR ! Review Honda CBR250RR

 

Jujur, saya bukan tipe rider yang “edan” kala berpacu di track sirkuit. EA’s Blog juga bukan tipe rider yang seruntulan berkendara di jalan raya, meskipun nggak selamanya pelan juga sih (malah kadang agak gila juga, wkwkwk). So, jika Brosist ingin jadi seorang pebalap tulen, maka saya sarankan untuk mencari bahan bacaan lain… Tapi, jika ingin membaca Review Honda CBR250RR yang sensible dari berbagai kondisi berkendara. Saat ini, Brosist berada di tempat yang tepat!

 

Terlepas dari tampilannya yang eksotik dan terkesan sporty, waktu duduk diatas motornya, Honda CBR250RR justru nggak segokil seperti yang saya perkirakan sebelumnya. Ergonominya tetap dalam batas kewajaran, dalam artian tergolong nyaman… Nggak sampai se-ekstrim Ninja RR Mono yang sama-sama memakai setang underyoke. Meskipun jelas nggak senyaman MT25 yang genrenya naked-bike.

Lebih nyaman mana saat Review Honda CBR250RR jika dibandingkan dengan YZF R25 atau Ninja 250 Kang Eno? Sepertinya saya harus test penggunaan harian dulu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Yang jelas, untuk pria bertinggi badan 175 Cm & BB 70 Kg, Kaki masih menapak sempurna di aspal dan masih terasa ringan… Meskipun nggak se-ringan CBR150R, tentunya.

 

Review Honda CBR250RR

 

Pencet tuas elektrik starter yang unik karena menyatu dengan engine cut-off, suara knalpot ngebas-garing menyapa telinga. Suara engine-nya senyap, halus, smooth, serta minim vibrasi. Karakter suara knalpotnya unik, dan punya tune ngebass stereo di RPM rendah, namun tiba-tiba berubah jadi rockstar saat indikator berada diatas 10.000 RPM… Mirip gabungan suara antara Ninja 250 & YZF R25. Sounds cool too! Sepertinya header & exhaust double barrel nya juga didevelop untuk menghasilkan lantunan ‘merdu’ tersebut. Bahkan, konon menang ajang pencarian bakat bernyanyi juga lho! wkwkwkwk…

Ini pertama kalinya saya mencoba fitur elektronik Throttle Ride-by-Wire yang juga sudah disematkan di Honda CBR250RR. Tapi pada akhirnya, justru gagal memberikan impresi positif bagi EA’s Blog… Kenapa? Karena feelingnya sama aja kayak throttle biasa – begitupun dengan respon throttle nya. Nggak ada yang namanya bejekan gas jadi lebih enteng, atau respon mesin ‘super-quick’ seperti yang digembar-gemborkan sebelumnya. Kalau nggak diselamatkan fitur riding mode yang useful, mungkin piranti elektronik ini jadi useless. Review Honda CBR250RR

 

Review Honda CBR250RR

 

Masuk ke gear 1 sambil geber perlahan keluar pitstop sentul, loh koq feeling tarikannya begini? Mode Sport+ (paling powerful) itu terasa nggak lebih baik dari akselerasi gear 1 ZED yang umurnya beranjak 2 tahun. Ada sedikit jeda sebelum bar RPM masuk ke angka 6.000. Tapi setelah “gaspoll” 13.000 RPM melewati corner R1-R2 sentul, pemikiran tersebut berubah total… 2-Cyl Kicked-in Yo!

Makin banyak tikungan saya lahap, makin banyak pula hal yang saya dapatkan untuk mempelajari karakter power Honda CBR250RR… It’s so smooth, but in otherwise, it’s so damn powerful! Untuk Brosist yang bertipe ‘engine holics’ seperti EA’s Blog, Brosist bakal jatuh cinta dengan karakter mesinnya… Saya jamin hal tersebut. Review Honda CBR250RR

 

 

Contohnya ketika keluar tikungan di gear 3 pada RPM rendah, saya jamin Brosist bisa dengan mudah menguasai power CBR250RR. Tapi, jika gantung RPM tinggi pada gear yang lebih rendah, maka bersiaplah untuk menghadapi ledakan power yang super-exciting! Karena cukup dari gear 2 ke 3, speedometer sudah menunjukkan angka 100 Km/h. Tebak apa yang terjadi kalau Brosist melakukan kesalahan di kecepatan setinggi itu? Yup, amit-amit jabang bayi…

 

Review Honda CBR250RR

 

Tapi, kabar baiknya, hal tersebut nggak bakal terjadi jika Brosist tetap berada di jalur yang benar… Karena handling yang disuplai sasis, serta suspensinya fenomenal! Meski beberapa kali salah racing line, EA’s Blog tetap mampu memperbaiki hal tersebut tanpa menurunkan speed secara signifikan. Suspensi upside down yang diusung juga rasanya… Kayak pake suspensi standar yang disetting ‘race’ lho! Nggak ada drawback terlalu keras atau terlalu empuk.

Rem Antilock Brake System (ABS) di unit Honda CBR250RR ABS yang saya pakai juga superb… Terasa lembut di jari tangan, tapi pakemnya (pake) banget euy! Sampai lupa kalau saya jijik banget sama Ban IRC Road Looser-nya.

EA’s Blog yakin, saat Honda meracik CBR250RR di Jepang beberapa tahun silam, mereka juga mengajak beberapa engineer HRC untuk berdiskusi. Karena feelnya serasa tunggangan Marc Marquez musim 2014 silam, manut-penurut bak kucing peliharaan saya.

 

Review Honda CBR250RR

 

Memasuki straight lurus sentul, target EA’s Blog bareng Honda CBR250RR kali ini bisa tembus 160 Km/h sebelum ngerem hingga 80 Km/h memasuki R1. Tapi kenyataanya, saya malah mampu melebihi target tersebut… Dengan rekor 162 Km/h saat shifting dari gear 5 ke-6. Itu cuma yang sempat saya lihat lho ya! Kemungkinan lebih besar. Tapi berhubung fokus mengamati trek, jadi saya nggak bisa terlalu lama melirik speedometer.

Lucunya, ada perasaan unik saat geber Honda CBR250RR yang belum saya temui di 250cc lain… Saat motor digeber kencang (katakanlah 150 Km/h) motor ini seakan ingin lebih, lebih, dan lebih kencang lagi. Perasaan unik yang mengundang decak kagum, tapi justru bisa jadi berbahaya bila tak paham limit diri kita sendiri.

 

 

Yang jelas, hal tersebut bukan magic ataupun sulap yang diberikan desainer pada Honda CBR250RR. Bukan! Melainkan fungsi dari Ram Air System yang tersembunyi dibalik fairingnya. Fitur ini memungkinkan mesin mendapat suplai udara ekstra dari angin dikecepatan tinggi. Efeknya, power pun seakan ingin bertambah dan bertambah seiring makin tingginya kecepatan yang mampu diraih.

Kalau Brosist kira EA’s Blog terlalu lebay menjelaskannya, silahkan coba sendiri aja deh. Saya sendiri sebenarnya juga bingung gimana menjabarkan feeling-nya, wkwkwk...

 

honda-cbr250rr-11

 

Menjelang lap terakhir, EA’s Blog sempat coba keluar tikungan di posisi gear yang agak tinggi. Fungsinya untuk mensimulasikan penggunaan Honda CBR250RR dijalan raya, yang kadang suka kelupaan turunin gear saat ingin berakselerasi. Hasilnya dari kecepatan 50-60 Km/h di gear 3-4, ternyata ngempos euy! Bahkan ada indikasi mesin ‘ngorok’, sebelum kembali meraung setelah lewat 10.000 RPM. So clear, ini masih jadi masalah yang belum terselesaikan untuk Sportbike 250cc 2-cylinder… Ahaa!! Masih ada sedikit job untukmu, Honda!

Setelah sesi fun race berakhir, EA’s Blog kembali ke area paddock dengan perasaan campur aduk. Disatu sisi, saya mengapresiasi dan mengacungkan 4 jempol pada kemampuan Honda CBR250RR diatas trek sentul… What a machine! Tapi disisi lain, saya masih punya beberapa pertanyaan yang belum terjawab soal kemampuannya kala diajak riding dijalan umum… Apakah cocok, atau justru hanya klop dipakai diatas trek? Karena to be honest, saya yakin mayoritas konsumen CBR250RR beli cuma buat digeber di Sirkuit. Review Honda CBR250RR

 

 

 

Well… Jujur, kalau boleh menyimpulkan secara garis besar, kombinasi desain, detail, konsep, mesin, serta performa Honda CBR250RR berada 1 kelas diatas kompetitor sesama Jepang seperti Ninja 250 & YZF R25. Perfect? Pastinya nggak lah…! Tapi yang jelas, Honda CBR250RR punya andil besar sebagai gerbang pembuka bagi sportbike 250cc lain, gerbang yang mengantarkan kelas 1/4 liter beranjak ke level yang 1 step lebih tinggi… Gate to the Another World!

 

 

Motor : Honda CBR250RR ABS (Honda Racing Red)

Pelumas : Standar AHM

BBM : Pertamax Turbo

Tester : Ericko Anderson (Kang Eno)

Tinggi Badan : 175 Cm

Berat Badan : 70 Kg

Helm : MDS Super Pro

Jaket : AHM-AHRS Supra GTR Original Jacket

Boots : Karrimor Trekking

 

 

 

Baca juga yang lainnya yaa Brosist…

 

 

 

Advertisements

31 comments

Tinggalkan Balasan