Advertisements
marco-simoncelli-tribute

GLADIATOR

Ada yang paham soal sejarah tentang Gladiator? Atau ada yang sudah pernah nonton film Box Office yang berjudul sama?? Kalau ada Brosist yang belum paham, Gladiator adalah petarung bersenjata yang melakukan pertarungan untuk menghibur para penonton di Kekaisaran Romawi. Mereka biasanya bertarung dengan sesama Gladiator lain, dan mempertaruhkan nyawa mereka yang berharga di arena pertempuran… Sebuah tontonan dan hiburan dahsyat bagi para penonton, meski nasib sang petarung tak selamanya berakhir baik – ada yang menang dengan pujian, tapi ada juga yang dicemooh, dipermalukan, bahkan terpinggirkan.

 

Loh, terus apa hubungannya Gladiator dengan dunia Roda 2 Kang Eno? Nggak ada hubungan langsungnya sih… Tapi kali ini kita bakal mengaitkan kisah petarung tersebut dengan para rider balap motor nomor 1 Dunia, MotoGP. Karena menurut EA’s Blog, kisah mereka mempunyai banyak kemiripan – sebagai Gladiator dalam dunia modernisasi.

Gladiator bertarung demi kemenangan, demi sebuah hiburan yang menarik bagi penonton, dengan mempertaruhkan nyawa serta kehidupan yang sama sekali nggak sebanding harganya… Sama dengan pebalap MotoGP. Mereka duel dan mempertaruhkan segalanya diatas motor prototype berkecepatan diatas 300 Km/h, berfikir dan mengambil keputusan dalam hitungan sepersekian detik… Dimana keputusan tersebut bisa berakhir sebagai kesuksesan, kegagalan, cidera ringan, patah tulang, ataupun berujung kematian. Tergantung apakah dalam keputusan tersebut, Tuhan YME merestui mereka, atau tidak.

 

lorenzo-crash-2013

marquez-crash-2013

 

Gladiator MotoGP

Masih ada yang bilang ini duel balap motor biasa?

 

Dan sedihnya, dalam keputusan tersebut mereka juga harus menyadari hal yang terburuk dari semua yang telah disebutkan EA’s Blog tadi. Mereka bisa dipuja-puji bak seorang dewa, mendapatkan apa yang mereka impikan, atau justru mendapat cemoohan dan hinaan dari para penonton… Terutama dari penonton yang tak mengetahui seperti apa rasanya riding motor dikecepatan sebegitu dahsyatnya, seperti apa sakitnya jatuh dari motor yang bagaikan bom waktu, atau seperti apa rasanya mendapat cercaan setelah melakukan hal yang luar biasa – yang tak semua orang bisa melakukannya, dengan baik. Indonesia punya banyak banget tipe penonton seperti ini, If i’m honest.

 

marco-simoncelli-tribute

 

Nggak semua Gladiator terkenal, karena nggak semuanya mampu keluar sebagai pemenang… Jika ada yang menang, tentu ada pihak yang kalah. Jika ada seorang yang menjadi juara, maka sudah pasti ada pecundangnya. Dulu, salah satu cara tercepat untuk bisa terkenal dan mendapatkan beribu pujian adalah bertarung sampai titik darah penghabisan. Mati. Disitulah momen dimana penonton akan berfikir untuk mengenang apa saja yang telah dilakukan oleh Gladiator di arena tempur… Persis lirik lagu Bang Haji Rhoma Irama: “Kalau sudah tiada, baru terasa…”

Pertanyaannya: Apakah semua pebalap MotoGP yang gagal menang harus berakhir seperti mendiang Daijiro Kato, Shoya Tomizawa, atau Marco Simoncelli untuk mendapatkan respect yang sebegitu besarnya? Apakah Bro & Sist baru bisa memberikan respect setelah mereka tiada?? EA’s Blog fikir, pertanyaan tersebut sama bodohnya seperti jawabannya. So, siapapun pebalapnya, entah itu idola kesayangan ataupun musuh idola Brosist, jangan pernah kehilangan respect untuk para Gladiator yang sudah menghibur kita via MotoGP.

 

 

Sumber Inspirasi:

 

“Cintai aku seperti kawan, tanpa diriku kau takkan menang” – Pas Band –

 

“They’re Gladiator to Us” – Brad Pitt’s MotoGP In-depth –

 

 

Baca juga yang lainnya yaa Brosist…

 

 

Advertisements

14 comments

    • tian

      Sepertinya smua pembalap motor\mobil ,,mreka tak menghiraukan nyawa nya dalam ambang kematian, dan dekat dengan maut,, saya kdang brfikir orang nyari duit kok gini2 amat yhh,, jdi pmbalap nyali ajh gk cukup,modal juga gede pula.ah risiko ny gde bnget..

  • Kinya Nakano

    kok nggak disebutin Luis salom om,ama Norick Abe (eh kecelakaan diluar Track ya?)

  • bbabbay

    Kang eno. Kira kira kawa ninja 150 rr second vs kawa ninja 250 r karbu second klo kang eno pilih yg mana ya?

  • Moch Mas'oed

    Jadi intinya

    • tian

      Intinya kita nnton moto gp d trans7 ,smbil nntn pmbalap yg sedang brjuang hidup d atas mtor demi gelar juara,, ah kitu welah,duka kmha intinage,,,mang eno nu bsa jwab mh..wkwkwkwk.,

  • ronnygrunge

    Dan para gladiator tersebut “menari” dengan indahnya di film dokumenter HITTING THE APEX.

    Setelah menonton film itu barulah kita bisa menghargai apa yg para gladiator itu korbankan demi para penggemarnya.

  • Ada satu hal yg berbeda antara MotoGP dg Gladiator (pada jamannya tsb): hal profesionalitas.

    Yup, era MotoGP modern ini boleh dibilang semuanya adalah “soldier of fortune” (tentara bayaran), makin tinggi skill dan prestasi, maik gede bayaran, berikut tuntutan profesionalitas dalam melakukan hal tsb.

    Yg mana hal “profesionalitas” ini belum ditemui pada masa keemasan gladiator yg mencari “kehormatan” (dan popularitas).

    Kembali ke soal “respect”, tinggal dilihat respect dari pihak mana?
    Dalam komunitas MotoGP, maka rasa hormat (respect) itu akan muncul saat seseorang membuktikan profesionalitasnya dalam bekerja (gak peduli pebalap, mekanik, team official, manajer tim atau siapapun yg terlibat dalam gelaran balap).
    Jadi gak perlu nunggu (sorry) “passed away” utk muncul rasa hormat.

    Anyway, dalam dunia gladiator juga ada “grand prizes” dan itu juga yg diincar semua peserta, namun ternyata “kehormatan” masih diatas segalanya, karena pada jaman tsb belum ada kekuatan kapitalis yg bisa merekayasa sebuah tontonan hiburan menjadi tambang uang

  • yg paling gw benci adalah org2 yg mendoakan para pembalap tsb ndlosor nyari batu akik…

    bener2 biadab org2 semacam itu

Tinggalkan Balasan