Advertisements
E-Bike Indonesia

Electric Bicycle (E-Bike), Praktiskah Diaplikasi di Indonesia ?

Beberapa hari terakhir, dunia roda 2 sedang diramaikan oleh serbuan motor bertenaga listrik… Mulai dari produsen berkelas dunia seperti Energica atau Vespa, hingga yang lokal seperti Gesits – tiba-tiba banyak yang latah ikut-ikutan terjun ke segmen yang konon disebut ‘motor masa depan‘ tersebut. Tapi via artikel kali ini EA’s Blog nggak bakal ikutan latah bahas tentang motor listrik, melainkan bakal sedikit membahas tentang sebuah produk (bukan baru) yang sedang ngehits di China, dan Benua Biru nun jauh disana: Electric Bicycle atau yang juga sering disapa dengan sebutan E-Bike. Nah, apaan lagi tuh Kang Eno…?

 

Electric Bicycle alias E-Bike pada dasarnya adalah sebuah sepeda gowes, atau sepeda pancal. Bedanya, yang satu ini sudah dibekali motor listrik dan baterai berukuran mungil, namun tetap mampu menghandle jarak tempuh yang cukup jauh… Rata-rata sekitar 60-150 Km untuk sekali charging, tergantung besaran baterai dan ukuran motor listrik yang digunakan. Kalau Brosist masih ingat bagaimana Soichiro Honda menemukan ide untuk menempatkan mesin mungil di sepeda gowes, nah yang satu ini kurang lebih sama persis tuh Brosist… Bedanya E-Bike dibekali dengan motor bertenaga listrik, bukan bertenaga BBM.

 

E-Bike Indonesia

 

Dalam pengklasifikasiannya, E-Bike terbagi atas 2 tipe: 1) Yang murni menggunakan pedal sebagai sumber power utama dan motor listrik sebagai bantuan power (pedelecs), 2) Yang menggunakan throttle ala sepeda motor untuk mengaktifkan motor listriknya (power-on-demand). Tipe yang kedua saat ini lebih difavoritkan oleh kalangan konsumen. Waktu EA’s Blog bilang ‘favorit’, maksudnya adalah total penjualan yang mencapai ratusan juta unit di China & Amerika tahun 2015 silam… Belum termasuk perkembangannya yang masif di Eropa.

 

E-Bike Indonesia

KTM Macina Kapoho E-Bike

 

Berkat permintaan pasar yang begitu besarnya, saat artikel ini ditulis, beberapa produsen sepeda motor kenamaan pun sudah ambil bagian memproduksi E-Bike dalam jumlah yang cukup besar… Beberapa diantaranya adalah Benelli, Bultaco, KTM Austria, Peugeot, bahkan sampai BMW Motorrad pun nggak mau ketinggalan! Bahkan produsen baterainya saat ini sudah merambah hingga Samsung, LG, Panasonic, hingga Sony. Setelah baca artikel ini, masih adakah kaum skeptis yang bilang E-Bike identik dengan “made in china” ? Kidding me ??

 

E-Bike Indonesia

Peugeot CE-132 E-Bike

 

 

E-Bike Indonesia

BMW Cruiser E-Bike

 

Gimana kalau baterai-nya habis dijalan Kang Eno? Nah, kalau Brosist kehabisan baterai, tinggal colokkan ke arus listrik yang tersedia – dalam waktu 1-2 jam baterai akan terisi penuh… Tapi seandainya malas ngisi atau nggak menemukan tempat charge baterai, tinggal digowes laiknya sepeda biasa koq! Karena prinsip development E-Bike, selain ‘Go Green’, juga untuk membantu usernya berolahraga namun tetap punya tenaga back-up saat dibutuhkan… Contohnya saat melewati tanjakan, saat kecapekan gowes, atau lain sebagainya. Loh, nggak efektif kayak sepeda motor yang bertenaga listrik itu dong Kang Eno? Jawabannya bisa IYA tapi bisa juga TIDAK.

 

Kalau Brosist membandingkan praktikalitasnya dengan sepeda motor berbahan bakar minyak seperti yang kita pakai saat ini, ataupun motor listrik yang sedang dikembangkan (Gesits), jelas E-Bike takkan bisa menyamai efektif-nya kendaraan yang sama-sama kita favoritkan tersebut… Tapi soal enviromental friendly, efisiensi, safety, dan (mengakali) regulasi SIM yang belum ada untuk E-Bike ? Nah, itu lain cerita kan?? So, Karena pembaca disini adalah ‘motorcycle maniac’ yang nggak perlu saya atau kita ragukan lagi… Daripada nantinya Brosist semua berfikir kalau EA’s Blog sedang dalam propaganda menghapuskan motor berbahan bakar BBM, mending kita lanjut aja deh ke kesimpulannya.

 

 

 

Well. . . Sepeda motor dan E-Bike layaknya 2 kendaraan dengan fungsi sama, tapi punya konsep dan praktikalitas yang jauh berbeda. Jika E-Bike adalah seorang pacar yang penurut dan penyayang, maka sepeda motor layaknya seorang pacar cantik jelita tapi kadar cintanya patut dipertanyakan… Wanita yang baik tentu ingin yang terbaik untuk kita bukan? Sementara yang lebih-cantik-tapi-busuk tentu ingin yang terbaik dari kita, setelah itu ditelantarkan… Atau kalau bernasib sial, mungkin ditusuk dari belakang. Sebenarnya kalau ngomongin soal wanita, saya juga belum nikah sih, tapi kenapa nggak coba miliki keduanya…?

 

 

Baca juga yang lainnya yaa Brosist…

 

 

Advertisements

13 comments

  • jimmoth

    Naksir KTM sama BMW, masuk sini bisa seharga CBR250RR tuh kayaknya kang..

  • singgih

    itu yg ktm order di toko online bisa apa enggak yaa?? hahah

  • armandx3m

    Saya suka kalimat terakhirnya.
    Ya, kenapa tidak kita miliki keduanya?

  • vario Sumedang

    Disinyalir hoyong nyandung,, pilih yang jelita atau yang penurut, kalo bisa 2 2 nya kenapa tidak,, :v

  • Farid

    saya lebih milih sepeda motor listrik dibanding e-bike,selain jarak tempuh yg jauh dan kapasitas baterai yg besar juga performanya gak kalah dgn motor konvensional,contohnya pada motor listrik buatan zero yg selain ramah lingkungan juga torsi instannya yg besar khas karakter motor listrik,bahkan torsi dari motor listrik jambakannya lebih greget dibanding mesin 2 tak yg asap ngebul itu.
    BTW,request nih buat kang eno kalau sempat,bikin dong artikel tentang motor dari zero biar nambah wawasan tentang sepeda motor listrik πŸ˜€

    • enoanderson

      Nah ini nih, boleh juga kang nanti kedepannya saya bahas 1-2 motor Zero πŸ™‚

    • Hay

      Mungkin dicocokkan dengan karakter orangnya ya. Tapi sebenarnya saya kesengsem sama dua2nya hahaha. Kalo sepeda listrik pengen Bomber buatan Australia, tapi harganya $10.000. Kalo motor pengen Mission RS $30.000-40.000 seingat saya, tapi sayangnya udah tutup pabriknya.

      Duitnya sih ga ada Tapi liat review dua kendaraan itu di yutub bikin ngiler sekali.

  • Betul sekali kalau menurut saya jika kita tidak hanya berasumsi saja mengenai masalah E-Bike atau E-Motorcycle. Karena saya yakin ke depannya dua kendaraan tersebut yang akan menggantikan yg konvensional. Semua ada jaman dan eranya……. Pilihan yang tepat adalah dengan mengkomparasi secara baik kedua duanya (konvensional & Electric). Kita bisa menggunakan kedua duanya dalam aktivitas sehari hari dimana penggunaannya harus di ukur dalam ‘medium term’ supaya feelingnya benar benar terasa.

    Jangan kita langsung menghakimi bahwa elctric bike/motorcycle itu loyo, tidak praktis, isi ulang lama, dsb,dsb….. E-Bike dan E-Motorcycle kedepannya punya kemungkinan seperti laiknya smartphone jaman sekarang, dimana di awal awal kemunculannya begitu mahal dan menyusahkan. Namun, ketika semuanya sudah settle maka akan laku seperti kacang goreng…

    “Think Again For The Better Tommorow”

  • fari.fairis

    Gimana kabar si Gesits, kang?

Tinggalkan Balasan