Advertisements

Masa Depan ‘Produsen Lokal’ ada di Genre Motor Retro-Klasik

Jika Brosist adalah salah satu orang yang aktif di sosial media, harusnya sih sudah paham maksud titel yang EA’s Blog tuliskan diatas. Modifikasi Motor Retro-Klasik saat ini membanjiri setiap sudut kota di Indonesia… Dari individu, komunitas, hingga menciptakan sebuah ekosistem tersendiri… Dari Cafe Racer, Scrambler, Bratstyle, Tracker, hingga seabrek yang lain… Dari yang bermodal CB & GL-Series, 150cc, 250cc, hingga moge sekalipun… Penyebarannya bak demam batu akik beberapa waktu silam: Fenomenal!

Kenapa sih Motor Retro-Klasik bisa se-fenomenal itu Kang Eno? Itu sih pertanyaan yang agak bodoh menurut saya, karena jawabannya simple: Keren! Anti-mainstream sudah tak relevan lagi menggambarkannya. Jika memang keadaannya demikian, maka pertanyaannya: Mampukah motor retro-klasik ini jadi penyelamat bagi ‘produsen lokal’ yang kini makin jarang terdengar gaungnya?

 

Belajar dari Eropa

 

AJS Cadwell 125

AJS Cadwell 125, Motor Retro-Klasik 125cc berbanderol £1800 (atau sekitar Rp. 30 jutaan)

 

Mungkin bakal banyak yang mempertanyakan: Loh, Market roda 2 Indonesia kan beda sama Eropa Kang Eno? Ya, memang faktanya demikian! Tapi dalam beberapa kasus selalu terdapat pengecualian. Lagipula, banyak hal yang bisa kita ambil sebagai pembelajaran dari pasar bule-bule disana. Silahkan lihat kasus NMAX yang kini popularitasnya menggila – dulu skutik gambot dianggap motor mewah ala ‘ngeropah’ yang cuma bisa dimiliki kalangan tertentu… Sekarang? EA’s Blog sampai bosan bertemu maxyscoot ini dijalanan.

Saat ini, selain skuter mungil, Uni Eropa juga sedang dibombardir oleh motor bergenre retro-klasik… Dari moge, A2-Licence (300-400cc), hingga yang berkapasitas mungil. Di Inggris & Italia contohnya, pamor motor retro-klasik berkapasitas 125-250cc laris manis bak jualan baju Turn Back Crime. Tapi yang perlu diingat, trend positif tersebut tidaklah semudah membalik telapak tangan…

 

 

brixton-bx125

 

Sejak 3 tahun silam, motor-motor bergenre Cafe Racer, Scrambler dan tema klasik lainnya masuk ke market uni eropa. Motor Retro-Klasik tersebut rata-rata berkapasitas 125-250cc made in china yang dibranding oleh importir di masing-masing negara… Awalnya sih dibekali dengan spek seadanya, tapi sekarang banyak yang sudah berstandar EURO 4. Motor-motor ini dibanderol dengan harga relatif terjangkau, bahkan setara skutik 50-125cc.

Efeknya, selain mampu menyaingi penjualan skutik, motor retro-klasik juga sukses menjadi tumpuan produsen legendaris Eropa yang terlahir kembali (AJS, Francis-Barnett, SWM, dll).

 

 

Made In China… Why Not?

 

 

francis-barnett-falcon-250

 

Jika berbicara Made in China, tentu yang ada difikiran kita sebagai orang Indonesia adalah Motor Bebek ‘copypaste’, ataupun Sport dengan tampilan keren tapi kualitas seadanya… EA’s Blog nggak meragukan pendapat tersebut, karena memang itu fakta dan memori dari kenyataan dilapangan. Tapi coba Brosist amati sosok motor retro-klasik pada gambar diatas… Tebak hasil ‘made in’ darimana hayoo?

Yup, Motor Retro-Klasik diatas tadi adalah Francis-Barnett 250 yang berbasis Shineray a.k.a Made In China. Meskipun statusnya ‘Mocin‘, tapi jangan pernah ragukan soal ability serta durability-nya loh… Karena yang satu ini sukses mendapatkan review positif dari banyak media negeri Mr. Bean. Bahkan mendapat apresiasi dari para komunitas motor klasik Francis-Barnett dari era 1950’an juga! Memang apa sih kelebihannya Kang Eno?

 

 

Selain tampilannya yang dijamin bikin ngiler para pecinta ‘retroisme‘, yang satu ini juga sudah dibekali mesin berbasis Suzuki TU250-series buatan Chongqing Shineray. Nggak cuma itu, soal kualitas & finishing nya pun sudah disesuaikan dengan standar ala motor Jepang… Masih kurang? Francis-Barnett 250 a.k.a Sinnis Retrostar 250 ini juga sudah mengusung Ban berlabel Avon dari Inggris, Ferodo brake system, serta Alumunium Alloy Rims dari vendor Inggris. Dan jangan lupa, harganya juga lebih murah £900 (sekitar 15 jutaan) ketimbang Yamaha MT-03. Nah…!

 

 

Peluang Untuk Produsen Lokal

 

 

francis-barnett-falcon-250-3

 

EA’s Blog mengerti dan paham betul kalau ‘produsen lokal’ seperti Viar atau APP KTM sedang menikmati gurihnya pasar Dual-Sport (maaf pakai tanda kutip, karena status “lokal” nya masih saya pertanyakan)… Tapi c’mon guys, bagaimana kalau Yamaha & Honda akhirnya membuka mata di kelas tersebut? Bukannya lebih baik kalau kembali membuat gebrakan lain? Nah, Motor Retro-Klasik adalah produk selanjutnya yang punya potensi setara Dual-Sport, bahkan malah berpeluang lebih ngehits.

Dengan ‘kebiasaan’ produsen lokal lain yang doyan membranding produk made in China (sambil lirik Viar Adventure RX3), EA’s Blog fikir ini bukan jadi hal yang sulit bagi mereka… Yang terpenting jangan gegabah memaksa konsumen menerima motor retro-klasik >250cc yang harganya nggak masuk akal akibat pajak barang mewah! Cukup dimulai dari kapasitas 125-250cc saja, kalau nggak mau nasibnya sama seperti SOIB 400cc…

 

swm-gran-milano-5

 

Di segmen ini, soal speed dan spesifikasi teknis bukan lagi hal utama, tapi juga lebih baik kalau nggak ala kadarnya. Penilaian konsumen tentu bakal beralih ke tampilan fisik dan build quality sebagai yang utama, plus ketersediaan sparepart sebagai faktor pendukung selanjutnya… Karena (saya yakin) jarang ada pecinta Motor Retro-Klasik yang memacu motornya diatas 150 km/h (patokan top speed 250cc), itupun EA’s Blog nggak yakin ada jalanan yang mendukung di kota-kota besar.

Solusinya, produsen lokal harus benar-benar concern akan produk made in china yang diboyong ke Indonesia… Bisa baca ulang poin pertama dan kedua diatas, serta mencari info soal Motor Retro-Klasik (mocin) yang punya reputasi bagus di Benua Biru sana.

Dan sebagai pendukung ketersediaan sparepart, mungkin bisa memilih produk yang berbasis mesin-mesin lawas: Thunder GS250 / TU250, GL-series, atau Thunder 125 adalah yang EA’s Blog maksud. Mungkin nggak bakal memecahkan masalah, tapi selama sparepartnya gampang di ‘subtitusi’, ini bakal jadi poin yang sangat berguna bagi konsumen.

 

 

 

Well… Waktu terus berlalu – cepat atau lambat, kwartet produsen Jepang (khususnya Kawasaki, Yamaha & Honda) juga bakal tersadar akan peluang Motor Retro-Klasik di Indonesia. So, ini waktunya bagi produsen lokal untuk memperbaiki citra sekaligus memperjuangkan eksistensinya di ranah Roda 2 Indonesia yang makin kejam. Intinya, konsumen sudah membutuhkan motor Retro-Klasik terjangkau, ASAP!

 

Baca juga yang lainnya yaa Brosist…

 

Motor Scrambler

Back To Jadul : Aliran Motor Klasik Makin Digemari Bikers Tanah Air !!

 

Beli Honda CBR250R Gratis iPhone 5

Nasib Motor Impor !

 

Honda CB223S 2

5 Motor Retro-Look Terbaik Dibawah 250cc !

 

Yamaha-XSR-700-XSR-250

Yamaha Perkenalkan XSR700, Kenapa Nggak Bikin XSR250 Juga Ya ?

 

 

 

 

Advertisements

25 comments

  • bagolmeong

    Beli Regal Raptor, modif cafe racer. Suara ajib, 2 cyl, 250cc, murmer.

  • satriabergetar

    China itu bisa bikin produk apa saja sesuai uang pemesan ya kang.
    Uang kecil,ya bikin produk kualitas kw asal jadi.
    Uang besar….wihhh bikin kualitas dewa juga ayoooo 🙂

    OOT

  • Tapi bang Eno, msyarakat trkadang sdh terpaku dg merk, biaya modif terjangkau, kalaupun modifan jadi, msh jg merk nya nempel.
    Misal aja, modifan cb.
    Rata2 yg ada d jalan yg sering sy temui ya itu2 aja. Basic mesin ambil megi atau tiger, dipasang pd cb.
    Alasane, sparepart msh mudah dicari. Gmpang perawatan yg walaupun sering jg rewel, hehehe..
    Org awan kalau udah dnger mocin, pasti lgs mengernyitkan dahi.
    Tapi ya smga memang akan ada produsen lokal yg mw bner2 menggarap disekmen retro classic dg catatan, harga lbh murah (pasti) ,sparepart mudah, kualitas finishing dan material motor, tjakep.
    Harapan nya tinggi bnget yak? Wkwkwk,.hmpir sama kya pngen beli brg dg hrga murah tp kualitas te o pe

  • tedy tenk

    Contoh suzuki inazuma jg buatan china tp sayang bandrolnya mahal…. cb rentang harga 35an jt…. ngarep hehehe

  • Assasin

    iya nih motor retro memang punya nilai tersendiri dan bagi yang punya motor classic kecepatan bukan yang utama tapi tampilan, makin retro makin gagah dan rata” hanya akan sebagai motor hoby ketimbang daily usu…, saya pecinta motor classic, apa lagi ketemu motor yang emang bener” tua, awet dan orisinil sampe saya elus di parkiran n kadang motretin tuh motor hehehe…, semoga kedepan produk local ataupun produk honda, yamaha, suzuki, kawasaki, bisa membuka semua jenis motor, motor sekarang ga gitu” aja…, gak banyak pilihan…
    yang bikin ane kagum motor classic yang beneran classic seperti GL, CB, Win100, masih banyak di jalanan, mesinnya emang bener” awet, ketimbang motor skrg, 2 – 3 tahun ya udah mulai jajan, padahal ngerawatnya juga maksimal, dari service ringan smpe berat di lakuin, ya ttp aja tarikannya udah gak bagus, ane kagum dengan Honda win100 drmh punya bokap tahun 1985, udah 31 tahun ane belum lahir motornya udah ada, tarikannya masi jos…, ya cm gonta ganti oli aja, olinya murahan lagi mesran wkwkwkwkw, smpe sekarang masih di pakai ke kebun dengan jalanan yang xtreme…

    • enoanderson

      Kalo baca buku manual Honda Benly tahun 60’an, pesan dari Soichiro Honda: ‘Cukup ganti olinya secara teratur, mesinnya bakal selalu bernyanyi’

  • hiswell

    Anu mang di jatim uda ada gasgaz yg mirip ma honda c70 series. Bebek retro
    cuma laku g nya kurang tau ane. Tapi dari review bbrp blog finishingnya lumayan.

  • goezman

    gak usah takut produksi cina asal mereknya barat2an. contoh iphone tuh, udah mahal, bikinan cina pula. tapi orang indonesia tetep ngeborong tuh dan gak nganggap itu produk cina.
    kesempatan buat produsen nih #mumpung mayoritas masyarat masih……

  • handoyo

    Produsen China sebenarnya cuma ngikutin maunya pemesan.
    Mau yg murah? Hayook
    Mau yg quality level eropa? Bisa juga kok
    Dan harganya akan berbeda meskipun utk barang yg sama, kalau memang si pemesan punya quality level masing2.

    Resiko pelanggaran hukum karena menjiplak hak paten? Itu kembali ke pihak pemesan barang.
    Mayoritas produsen China juga tahu kok, barang mana yg punya hak paten dan mana yg bebas dijiplak (termasuk siasat mengakali agar tidak terkena delik hukum)

    • enoanderson

      Kalau ceritanya demikian, semoga Benelli pesan yang ‘kualitas eropa’ juga ya… Oiya, kalau soal pelanggaran hak paten vs jepang saya pernah tulis kok

  • wisnu

    efek berita mau di”reborn”nya honda monkey ya mas eno??cakep sih,,,o ya kang eno kok lama gak nulis historycal bike lagi?

  • Biodi

    Sayang banget orang2 Suzuki gag pinter membaca pasar & membuat forecast masa depan ya kang eno. Kalo ingin selamet harusnya mereka mau nyemplung ke Blue Ocean. Dengan modal mesin old Satria F karbu dan body van-van atau G-Stracker Bigboy pasti menarik minat penggemar motor limited population. Buat value “motor classic unik dengan populasi yg sedikit” pasti dah terasa bgt unsur eksklusifnya.

    Entah apa yg dipikirkan atasan2 suzuki ini, eh malah ia nyemplung di zona merah motor sport fairing & street fighter 150cc.

    “It’s more important to be different, rather than to be better”

    “If You Can’t be number one in the existing category, create new category”.

  • robotic.munky

    yang paling bodoh ya astra honda . . . . !

    mereka punya banyak stok mesin jadul yang bisa dimodern-in , atau motor modern yang siap dibikin jadul. tapi mana mau astra ngegarap pasar yang bgini (kcuali ada yg udah terjun duluan trs sukses)

  • visitor

    setuju kang eno, pasar sudah butuh motor retro/klasik terjangkau (125-250cc). china/jepang/india menurut saya tinggal menunggu waktu pembuktian durabilitas motor2 yang ada kang. viar sudah memulai lumayan lama (dan masih terus eksis, bahkan berkembang), masyarakat akan menilai sendiri dari produk2 mereka yang dipakai di sekitarnya. saya kebetulan pakai viar cross x 150 dari april 2015, sampai hari ini sudah +/- 20 ribuan kilometer TIDAK ADA keluhan soal durabilitas engine! yang ada, hehehe…, bosch (salah istilah gak nih) swing arm yang langsung minta ganti masuk 2 ribuan kilometer. kalau ada motor retro/klasik 125-250cc terjangkau dari viar, saya sih kenapa enggak. (mencoba menjadi konsumen yang tidak termakan merk, whatever it takes)

  • ane sih mending beli mopang baru trus di modif jdi motor retro, model sesuai selera ane, dri pda beli mocin bener kta kang eno hukum “ono rego,ono rupo” sudah wajib bagi mereka. . .

  • anonimus

    Gak usah terlalu retro, modern-retro juga keren (contoh : BMW R Nine-T). Yg penting desain, kualitas, sama harganya pas, top speed buat cafe racer aja (fairing / non-fairing). Langkah royal enfield yg bikin adventure-retro juga patut dicontoh…

  • Sakarepeh

    Rada bingung juga, kalo 150cc harga 30 pasarnya kayanya buat orang2 yg masih pake pertimbangan 3s. Masi mikir harga jual lagi pula.pasti ngeri kalo beli brand ga dikenal. Orang kaya juga ga ngelirik 150cc retro, buat lucu2an kurang “lucu”. Paling ada segelintir orang kaya nanggung yg menganggap cukup lucu dikoleksi,tapi kebanyakan orang kaya nanggung sukanya malah di proses membangun motornya, bukan beli jadi. Menurut saya motor sport retro bagus pasarnya kalo minim 200cc dan dari brand yg sudah mapan. Minimal suzukilah.

    • enoanderson

      30 juta ya kemahalan kang kalo 150cc, kalau belajar dari segmen pembagian harga di eropa: 25-30 juta itu 250cc, 15-20 juta 125cc

  • Trabas

    Sprtinya bgitu mang eno, kata org tua…klasik memang asik_fanatik motor antik_alergi motor plastik ;)hehe

Tinggalkan Balasan