Motor JAWA ini Sanggup Tembus 260 Km/h!

IVY VS AGO

Bill Ivy – JAWA 350 Typ 673

Meskipun kelihatannya simpel, tapi kombinasi ubahan yang dilakukan JAWA ini sukses bikin Giacomo Agostini kerepotan. Saat Bill Ivy debut perdana buat JAWA di sirkuit Jarama, power 350 Typ 673 ini sudah mampu tembus 70 HP, alias naik 10 HP dari versi sebelumnya. Ditambah bonus bobot lebih ringan & topspeed lebih dari 260 km/h.

Saking gregetnya ini motor, JAWA bahkan bikin yang versi 351cc nya buat ikut balapan dikelas GP500. Karena menurut mereka, power ini sudah sangat cukup buat bisa kompetitif dikelas tertinggi tadi. Meskipun fokus utama mereka tetap dikelas 350.

Buset, pantesan Agostini sama Count Agusta megap-megap minta perubahan regulasi dibikin lebih awal. Soalnya secara spek juga sudah jelas, motor MV Agusta bakal ditinggalin sekebon sama JAWA di trek high-speed. Kalaaauuu, kalau mesin V4 nya nggak trouble.

Setelah seri perdana di sirkuit Jarama, public akhirnya menyadari kalau kombinasi Bill Ivy bareng JAWA 350 Typ 673 terbukti jauh lebih kencang dari MV Agusta 3C tunggangan Giacomo Agostini. Sayangnya problem lama tak kunjung selesai. Mesin V4 2-Tak berpower 70 HP ini tiba-tiba ngejim setelah balapan berlangsung 10 lap.

Saking gregetnya, konon teknisi JAWA harus lembur siang-malam buat memperbaiki masalah ini sebelum dimulainya race kedua di seri Hockenheimring, Jerman Barat.

Setiba mereka di Hockenheimring, JAWA kelihatannya sukses memperbaiki problem sebelumnya. Bill Ivy mampu memberikan perlawanan berat ke Agostini di trek yang high-speed tapi termasuk teknikal ini… Sebelum keduanya sukses mengoverlap semua rider yang berlomba dan finish 1-2. Kabar baik selanjutnya, Franta Statsny sukses menempati podium ketiga, membuat perebutan title konstruktor juga jadi makin panas.

Di race selanjutnya TT Assen, JAWA 350 Typ 673 yang ditunggangi Bill Ivy mengalami problem saat start sehingga membuat pebalap asal London ini harus terlempar keposisi belakang. Tapi thanks berkat speed gokil 350 Typ 673, Bill Ivy sukses membalap semua rider, bahkan sekaligus mengovertake Giacomo Agostini yang sebelumnya sudah unggul 20 detik lebih. Yes, setelah bertahun-tahun lamanya JAWA Motor memimpin GrandPrix!

Sialnya, salah satu silinder di mesin V4 Bill Ivy mengalami masalah sehingga pengapian berjalan pincang ibarat mesin V3. Giacomo Agostini akhirnya mengambil alih posisi terdepan. Tapi di lap 12, tiba-tiba mesin JAWA kembali pulih kembali jadi V4. Bill Ivy kembali gaspol dan mengejar Giacomo Agostini. Dan lagi, Giacomo Agostini saat itu mungkin hanya bisa geleng-geleng melihat bagaimana kencangnya JAWA 350 V4 bareng Bill Ivy.

Menurut jurnalis, berkat aksi heroic dan pantang menyerahnya, penonton di sirkuit TT Assen waktu itu mendadak jadi ngefans sama Bill Ivy semua. Saya juga gitu mungkin kalau di posisi yang sama.

Sewaktu kemenangan akhirnya sudah berada di genggaman JAWA, mesin 350cc V4 ini kembali berulah dan balik lagi pincang jadi V3. Performa Bill Ivy pun langsung drop secara drastis, sampai akhirnya diovertake Giacomo Agostini di akhir lap TT Assen. Lagi, Agostini juara sementara Ivy harus puas diposisi 2.

Setelah liburan seminggu, akhirnya race selanjutnya bakal digelar di GP Sachsenring yang waktu itu masih jadi bagian Jerman Timur. Di sesi latihan bebas, speed Bill Ivy bikin kelas 350cc ketar-ketir di trek yang saat itu dalam kondisi basah.

Nahas, sewaktu cornering di tikungan high-speed, tiba-tiba motor JAWA mendadak macet sehingga membuat pebalap mungil tadi terlempar. Kecepatan Bill Ivy saat itu sekitar 130 km/h, sehingga membuat pengikat helmnya terlepas, dan membentur beton pembatas trek tanpa perlindungan kepala sama sekali.

Ini adalah terakhir kalinya fans GrandPrix melihat aksi sang rider asal London. Meskipun mendapat pertolongan dari tim medis, nyawa Bill Ivy tak mampu terselamatkan. Kabar ini menjadi pukulan yang sangat masif buat JAWA. Bukan cuma kehilangan rider utama, mereka juga juga kehilangan satu-satunya sosok yang membuat titel Juara Dunia jadi sesuatu yang kelihatannya bukan hal mustahil.

Karena tekanan propaganda dari Blok Timur, pada beberapa seri akhir musim 1969 JAWA menggantikan posisi mendiang Bill Ivy dengan rider asal Italia, Silvio Grasetti. Tanpa perlawanan dari Bill Ivy, Agostini memenangkan seluruh balapan sampai seri ke-8, sekaligus mengamankan title dikelas GP350 dan memutuskan nggak melanjutkan 2 seri tersisa.

Dengan absennya Agostini, Silvio Grasetti mampu menjuarai GP Yugoslavia. Kemenangan ini disebut jurnalis sebagai hollow victory, atau kemenangan yang terasa hampa, karena waktu itu hampir nggak ada rider top yang ikut GP Yugoslavia.

Ini adalah momen terakhir JAWA Motor berlaga dikejuaraan balap GrandPrix. Soalnya setelah pukulan akibat kehilangan Bill Ivy, JAWA juga harus kehilangan Franta Statsny yang pindah ke tim private Yamaha lantaran konflik diawal musim soal gaji Bill Ivy yang ibarat superstar kalau dibandingkan dengan Statsny.

Sebagai orang yang tinggal di blok timur – dimana menganut paham sosialis komunis – Statsny yang sudah mengabdi selama 15 tahun harus puas menerima bayaran yang sama seperti pekerja di pabrik JAWA, alias jauh lebih rendah dari kontrak Ivy.

Setelah kehilangan rider utama, sekaligus rider paling berpengalaman mereka, JAWA juga harus kehilangan hal lain yang bikin mereka bisa kompetitif di musim 1969. Ya, JAWA nggak lagi bisa pakai Typ 673 dikelas GP350. Soalnya regulasi baru mengharuskan jumlah silinder maksimum dikelas GP350 menjadi 2 silinder mulai musim 1970.

Jawa 350-V4 Type 673

Akibat nggak punya sumber daya buat bikin motor baru, JAWA akhirnya mundur. Zdenek Tichy kemudian membeli JAWA 350 V4 Typ 673 eks tunggangan Bill Ivy dan menjadikannya sebagai koleksi pribadi. Saat ini, motor legend tadi terpajang manis di Museum Teknikal Nasional Ceko.

Sementara nasib JAWA sebagai pabrikan sepeda motor terus berlanjut… Sampai akhirnya perpecahan Soviet, sekaligus inovasi yang mandeg karena kurangnya dukungan dari mengakhiri era keemasan JAWA Motors.

Spesifikasi JAWA 350 Typ 673

Manufaktur : Jawa Moto

Model : Type 673

Class : World Grand Prix 1967-1969

Engine : 2-Tak, 35° V4, Counter-Rotating Crankshaft, Rotary-Valve

Bore x Stroke : 48 x 47,5 mm

Kapasitas Silinder : 344.5 cc

Rasio Kompresi : 16,0 : 1

Sistem Penyuplai BBM : 4x Amal GP27 (1967-1968) | 4x Dell’Orto (1968-1969)

Sistem Pendinginan : Thermosyphon Liquid Cooled (1967) | Water Pump Liquid Cooling (1968-1969)

Transmisi : 7-Speed

Max Power : 60 HP @ 13.000 RPM (1967-1968) | 70 HP @ 13.000 RPM (1969)

Top Speed : Lebih Dari 260 Km/h

Frame : Tubular – Cradle Frame

Berat Kosong : 138 Kg

Suspensi Depan : Teleskopik Cartridge (1967-1968) | Ceriani Fork (1969)

Suspensi Belakang : Dual Shockabsorber | Dual Rising Rate Shockabsorber (1969)

Rem Depan : Drum Brake

Rem Belakang : Drum Brake

Ban Depan & Belakang : 2.75-18 & 3.50-18

Silahkan Berikan Komentar Brosist yaa ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s