Motor JAWA ini Sanggup Tembus 260 Km/h!

(BUKAN) JIPLAKAN YAMAHA

Yamaha RA31A V4

Yap, kalau ngomongin motor 2-Tak V4 di era 60-an, kita pastinya nggak bisa begitu saja melupakan Yamaha. Kenapa Yamaha? Soalnya ya cuma mereka yang beneran rajin tuning tipe mesin ini sampai limit tertinggi. Keuletan Yamaha bahkan terbayar dengan titel juara dunia dikelas GP125 sama GP250.

Nah yang jadi pertanyaan, apakah motor balap JAWA ini cuma sebatas copy mesin punya Yamaha?

Jawabannya ya nggak bisa dibilang jiplak juga. Setidaknya ada beberapa perbedaan dasar di mesin JAWA ini. Yang pertama, mesin V4 JAWA Typ 673 ini konfigurasinya 35° V4, alias punya sudut bank angle mesin yang lebih sempit dibanding V4 Yamaha. Menurut desainernya Zdenek Tichy, konfigurasi mesin ini ditujukan supaya titik tumpu mesin bisa lebih kedepan dan memaksimalkan center gravity.

Mesin V4 JAWA 350 Typ 673

Kemudian perbedaan yang paling mencolok selanjutnya adalah soal daya tahan mesin. Aslinya Yamaha juga nggak bisa langsung bikin mesin V4 durable… Butuh setidaknya 1 musim buat Yamaha eksperimen sampai bisa kompetitif. Tapi buat JAWA, bahkan dengan waktu 3 musim masa development, problem di motor ini nampaknya belum bisa terselesaikan.

Jangankan standar 1.000 km per penggantian parts kayak Honda atau Yamaha… Bahkan belum selesai 1 balapan pun mesin ini kerap mengalami trouble. Seperti debut motor ini di TT Assen 1967 contohnya, JAWA 350 Typ 673 mengalami 3 kali trouble di sesi latihan bebas, dan akhirnya mesinnya jebol saat race berlangsung.

So, apa yang salah di mesin JAWA ini? Well, problemnya memang secara teknikal. Tapi dibalik problem teknis tadi, sebenarnya masih ada masalah yang lebih penting lagi… Yaitu faktor politik. Kita bahas nanti ya!

Kalau dilihat dari spek teknis, aslinya sih nggak ada yang aneh di mesin V4 JAWA ini. Bloknya dibikin pakai aluminium alloy, linernya dari baja-nikel, pendinginan juga sudah pakai radiator – meskipun system sirkulasinya masih termosiphon – terus karburatornya juga pakai bikinan AMAL yang masih tipe pre-monobloc. Semuanya terlihat normal

Terus masalahnya dimana?

Nah, ibarat program masaknya chef Farah Quinn yang jadi idola kita generasi 90-an, JAWA itu punya resep yang bagus, bagus banget malah… Tapi sayangnya pengerjaan sama bahannya bisa dibilang ngawur semua!

Dari detail kecil misalnya. Saat Yamaha sudah pakai system penyuplai oli samping terpisah dengan pompa otomatis (Autolube), JAWA justru masih mengandalkan bensin campur bak motor 2-Tak jaman dinosaurus. Padahal selain berguna buat emisi di produk masal, sistem oli samping otomatis juga berguna berguna untuk pelumasan kruk as, bearing, sama dinding silinder di motor balap jadi lebih presisi dan efisien.

Otomatis gesekan antar metal berkurang, panas mesin bisa dikontrol lebih baik, hasilnya power dan durability dijamin meningkat. Apalagi, JAWA ini pakai rasio kompresi yang tergolong gokil di mesin V4 nya… Yaitu 16:1. Buset!

Jawa 350-V4 Type 673

Terus yang dimaksud problem politik itu apa Kang? Nah di era 60-an dulu, tensi perang dingin itu lagi hangat-hangatnya dingin-dinginnya. Otomatis JAWA yang masih masuk blok Soviet alias blok Timur, nggak bisa kerjasama sama produsen dari Blok Barat yang terkenal lebih maju soal precision engineering.

Lah, kenapa JAWA nggak bikin sendiri aja semua komponen mesinnnya secara in-house Kang? Kan jadi nggak bergantung sama blok barat tuh?

Ya nggak segampang itu Adriano. Emang sih bisa aja JAWA bikin piston, setang piston, sama blok mesinnya sendiri. Tapi ring pistonnya? Plating silindernya? Bearingnya? Per klepnya? Karburator racingnya? Soalnya waktu itu hampir semua supplier part pendukung balap kayak Mahle, INA Bearing, Baja Swedia, Dell’Orto, Marelli, dll, itu dikuasai sama blok barat.

Nah, akibat kekurangan suplai komponen dan material yang berkualitas inilah motor balap V4 JAWA jadi punya durability yang sangat buruk. Kasus yang paling sering kejadian, karena material yang dipakai kurang cocok buat balapan sekelas GrandPrix, JAWA jadi nggak bisa control pemuaian logam di mesin V4 mereka sendiri.

Padahal tugas pertama mekanik atau engine builder itu harus bisa memastikan berapa temperature ideal mesin. Tujuannya supaya performa tetap tinggi, tapi pemuaian logam akibat panas berlebih bisa dikontrol. Kalau masih dingin, panasin dulu motornya… Kalau terlalu panas, ya tambah pendinginannya!

Karena perbandingan suhu sama pemuaian pun JAWA masih belum nemu racikan yang tepat, otomatis clearance atau celah antara permukaan metal yang harusnya bisa dipastikan angkanya… Malah jadi misteri buat mereka.

Contoh simpelnya begini, karena sifat metal yang mereka pakai itu sulit buat diprediksi. Akhirnya clearance antar part dibikin selonggar mungkin, which is nantinya malah bikin drop performa & durability. Tapi begitu clearance dibikin lebih sempit karena dirasa aman, tiba-tiba bearing macet, piston gancet, dan akhirnya dibikin longgar lagi, dan dikecilin lagi, dan masalah lagi, dan begitu aja terus diulang terus sampai 3 musim kedepan.

Silahkan Berikan Komentar Brosist yaa ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s