Suzuki RG500, Square Four Legendaris Jepang

1976 – New Plan, New Formula

Barry Sheene – Suzuki RG500 XR14

Suzuki bikin shock paddock GP500 di seri pembuka musim 1976. Selain merilis refreshment terbaru RG500 XR14 yang punya seabrek ubahan signifikan, mereka juga memutuskan menjual RG500 XR14 Full Spec ke tim Private. Walhasil, tim private Yamaha pun langsung pindah semua dibawah naungan Suzuki. Alasan Suzuki menjual RG500 Full Spec ke tim private ternyata bukan untuk mempercepat R&D motor. Tapi hanya untuk mengamankan titel Juara Dunia Constructor, tanpa peduli siapapun Rider yang menjadi raja di kelas GP500.

Kejutan terakhir, XR14 terbaru yang didevelop langsung oleh Barry Sheene juga bikin pangling paddock saat itu dengan kombinasi agility plus power meledak-ledak ala mesin Square Four. Saking gokilnya, sampai-sampai Yamaha harus menyetop dukungan factory di musim 1976 untuk mendevelop YZR500 dengan teknologi terbaru.

Suzuki RG500 menjadi motor paling hot di musim 1976. Konfigurasi mesinnya dirombak dari yang semula overbore jadi tipe square, penempatan posisi crankshaft dibuat lebih simpel, ditambah rombakan sasis yang cukup signifikan membuat sang Racer GrandPrix jadi motor idola tim private di akhir era 70-an.

Dan lagi, ini bukan kata saya lho ya, tapi kata Jeremy Burgess, mekanik & chief mastermind rider dewa seperti Wayne Gardner, Mick Doohan & Valentino Rossi. Sebagai salah satu konsumen RG500 dari Factory Suzuki, Jeremy melabeli motor ini sebagai motor privateer terbaik selama berkarir di kancah GP.

Barry Sheene – World Champion 1976

Barry Sheene tanpa kesulitan memenangkan 3 seri awal, ditambah 2 seri lainnya. In fact, satu-satunya lawan Barry Sheene hanyalah rider tim private Suzuki yang mulai mendevelop secara mandiri RG500 di pertengahan musim. Ini sempat membuat Barry Sheene sempat bersitegang dengan Suzuki, tapi pada akhirnya, tim Factory tetap mendapatkan update paling mutakhir. Musim 1976 jadi milik kombo Barry Sheene & Suzuki RG500.

So, kemana MV Agusta? Kemana Agostini? Well, sepeninggal tim factory Yamaha, Giacomo Agostini justru memilih untuk menjadi salah satu konsumen RG500. Tapi di 2 seri akhir, Agostini kembali ke MV Agusta sebagai penghormatan dan tuntutan sponsor. Hasilnya? Motor paling canggih MV Agusta pun sama sekali nggak mampu bersaing.

Barry Sheene – Suzuki RG500 XR22

Jangankan dengan tim factory, bahkan sama tim private Suzuki pun MV Agusta ketinggalan sekebon. Tapi untuk mempermanis cerita, Agostini sukses menjuarai salah satu sirkuit paling berbahaya di dunia, Nurburgring Nordscleife, dalam kondisi hujan deras.

Ini adalah kemenangan terakhir motor balap bermesin 4-Tak dikelas GP500. Setelah kalian baca paragraf ini, seluruh balapan dikelas para raja dimenangkan oleh motor 2-Tak – sampai format GP500 distop tahun 2002 dan digantikan MotoGP. Di musim 1977, MV Agusta menyetop keikutsertaan mereka di balapan GP500 – sementara Suzuki kembali merajai kelas paling elite ini dengan merebut Juara Dunia bareng kreasi terbarunya, RG500 XR22. Tapi dibalik layar, Yamaha punya jagoan baru yang bakal merubah peta persaingan GP500 2-Tak.

Suzuki RG500 XR22

2-Stroke, 494cc, Square Four

Rotary Disc Valve, Liquid Cooled

Chromoly Steel Frame, Casting Wheels

120 HP @ 11.000 RPM – 132 Kg

4 comments

  1. Bangkit lagi artikelnya kang. Tetep semangat ditengah pandemi.
    kumaha kabar proyek2nya? Pernah liat di respon komen youtube kalo gak salah ingat.

  2. Kiarin artikel nya cuma satu halaman pas baca kok kayak nge gantung, ehh ternyata masih ada halaman lain wkwkw

Silahkan Berikan Komentar Brosist yaa ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s