Foggy Petronas FP1, Kreasi Malaysia Bernasib Duka

Petronas SIC Racing Team bukan ‘produk’ Malaysia pertama yang menghebohkan jagad balap motor ASEAN dengan ikutan balap motor sejagad… Sebelumnya, kita sudah kenal Modenas & Proton sebagai supplier motor ke ajang balap GP500 di awal 2000-an silam. Dan masih ada lagi lho! Namun berbeda dengan 2 yang disebutkan sebelumnya, yang satu ini jarang diketahui orang banyak – bahkan oleh kebanyakan orang Malaysia sendiri. Ini dia: Foggy Petronas FP1!

Foggy-Petronas-FP1

Kalau Brosist ngaku pecinta dunia balap motor, pastinya bakal kenal motor yang satu ini deh! Tapi kalau belum kenal pun bukan masalah, karena level “fans” & “enthusiast” yang dibutuhkan untuk mengenal Foggy Petronas FP1 memang jauh lebih ekstrim dari Modenas KR3 yang lebih familiar.

 

Foggy Petronas FP1 – Behind The Scene

 

Foggy-Petronas-FP1
Carl Fogarty & Tim Petronas Malaysia

Bicara sejarah dibaliknya, Foggy Petronas FP1 awalnya adalah sebuah rencana besar dari Tim Sauber-Petronas Formula 1 untuk membuat sebuah prototype motor balap MotoGP 990cc musim 2002 – bernama GP1. Raksasa Minyak Malaysia, Petronas bahkan menginvestasikan (USD) 30 juta dollar demi proyek ini.

Kalau dihitung lewat inflasi, ini artinya Petronas sendiri invest sebesar 45 juta dollar di era MotoGP modern. Budget yang saya yakin nggak kalah dari Repsol  S.A. (Honda) sekalipun! Dan ingat, ini belum ditambah dana tambahan dari sponsor lain lho. Ebuset…! Pantesan kuat banget sponsorin Mercedes-AMG F1.

Tapi (gosipnya), setelah sadar biaya yang dibutuhkan untuk riset MotoGP dari NOL, mereka akhirnya menyerah dan mengalihkan tujuannya ke WSBK. Petronas kemudian menunjuk Carl Fogarty sebagai kepala tim – Arena balap motor yang tentunya sudah nggak asing untuk Foggy, sapaan akrab Fogarty… Dan voila! Akhirnya muncullah proyek motor yang saat ini kita kenal sebagai Foggy Petronas FP1.

Foggy-Petronas-FP1

Mendengar perubahan keputusan ini, Carl Fogarty – Legenda WSBK pemegang 4 gelar juara dunia Superbike – memutuskan untuk menggaet Suter Racing Technology (Swiss) untuk mendevelop mesin yang bakal digunakan. Sementara itu, untuk memenuhi regulasi motor homologasi yang harus diproduksi (150 unit), Foggy menunjuk MSX International sebagai produsen Foggy Petronas FP1 dengan jumlah 75 unit… Dan sisanya bakal diproduksi di pabrik Modenas di Malaysia.

Saking optimisnya, Fogarty bahkan berseloroh bakal memproduksi Petronas FP1 dengan spek standar plus part kombinasi lokal (Made in Malaysia) sebanyak 10.000 unit lho Brosist! Ajegile kan?

Foggy-Petronas-FP1
Backfire yang keluar dari knalpot carbon Foggy Petronas FP1 – Kurang efisien dalam penggunaan BBM? Tenang, sponsornya tukang jualan bensin kok!

Karena saat itu (2002) regulasi WSBK mengharuskan mesin 4 silinder 750cc, atau 3 silinder 900cc, atau 2 silinder 1000cc – akhirnya dipilihlah konfigurasi mesin Inline-Triple 899cc sebagai jantung pacu sang motor. Secara teori, pemilihan mesin nampak sangat menjanjikan! Mesin Triple (3-silinder) tentu memiliki “balance” yang lebih baik dalam hal Power & Torque… Berbeda dengan mesin 4 Silinder yang amat mendewakan power besar, ataupun mesin Twin (2-silinder) yang mengandalkan ledakan torsi badak.

Teorinya sih demikian, bagaimana dengan kenyataannya dilapangan?

 

Ill-Fated Foggy Petronas FP1

Foggy-Petronas-FP1
Buangkeeee, desainnya cakep poll!!!!

Kenyataannya dilapangan, bukan hanya sisi teknis – bahkan nasib buruk pun berperan jadi penyebab Foggy Petronas FP1 ini gagal bersinar. Saat Petronas FP1 diikutsertakan di kejuaraan WSBK 2003, FIM merubah regulasi dengan memperbolehkan motor berkapasitas 1000cc untuk kategori 2, 3, ataupun 4 silinder.

Karena sudah terlanjur riset dan menghabiskan banyak biaya development mesin 899cc 3 Silinder (termasuk versi produksi) – serta waktu yang sudah mepet – akhirnya Superbike Malaysia rasa Eropa ini pun dipaksa melawan raksasa Jepang & Eropa lain yang jauh lebih superior.

Foggy-Petronas-FP1
Foggy Petronas FP1 – Troy Corser & James Haydon

Hasilnya bisa ditebak, meskipun Foggy Petronas FP1 punya muntahan power yang sangat impresif untuk ukuran Superbike 900cc 3 Silinder (189 HP), serta dibekali seabrek part eksotis besutan Magnetti Marelli, Ohlins, Brembo, serta nama-nama vendor papan atas lain… Namun hal tersebut tak cukup untuk membuatnya kompetitif di ajang balap motor produksi nomor 1 dunia tersebut.

Eh, ngomong-ngomong soal motor produksi, gimana tuh nasib motor homologasinya Kang Eno?

 

Foggy-Petronas-FP1
Versi Produksi Petronas FP1 – lihat spion & lampu-lampunya, pertanda motor ini berstatus road-legal

 

Karena kegagalan Foggy Petronas FP1 di ajang WSBK, motor produksinya pun seketika berubah laiknya harta karun Fir’aun… Ada, tapi entah dimana bendanya. MSX International berhasil memproduksi 75 unit Proton FP1 dengan spek yang sedikit lebih rendah dari motor yang diikutkan di ajang WSBK. Powernya diturunkan dari 180-an HP ke 129 HP, Sistem elektronik lebih sederhana, Cakram depan menggunakan kaliper Axial besutan Brembo, Suspensi Ohlins dengan tipe lebih rendah, serta Lampu-lampu & Kaca spion sebagai standar motor jalanan.

Jujur, model desainnya poster-wannabe banget lho! Cuaakkeeepp polll! Jauh lebih eksotik dari Ducati 999, Honda Fireblade, ataupun Yamaha R1 dari generasi yang sama.

Namun karena FIM mengharuskan motor homologasi punya banyak kesamaan spek dengan versi WSBK, seperti yang bisa ditebak, banyak part mesin dan framenya yang sama dengan tipe motor balap… Meski merupakan jaminan handling dan power yang mantap, tapi sayangnya ini juga jadi problem tersendiri bagi Petronas FP1. Yup, Reliability! Setidaknya itu yang dilaporkan berbagai majalah kenamaan dunia yang telah mencoba motor ini.

Foggy-Petronas-FP1
Problem yang menyandung Petronas membuat Superbike ini berakhir sebagai Harta Karun (Pic: MCN)

Problem tak lantas berhenti disana… Kegagalan Petronas memasarkan motor ini jadi inspirasi bagi Momoto, untuk membrandingnya dengan merk sendiri. Namun setelah berhasil mendapatkan unitnya, Momoto & Petronas Malaysia dikabarkan tersandung masalah pajak dan biaya terkait proses produksi & komplain konsumen terhadap Petronas FP1. Proses hukum berlanjut hingga unit Petronas FP1 terpaksa jadi penunggu gudang karena kasus sengketa.

Ditambah dengan gencarnya raksasa Jepang & Eropa memperkenalkan Superbike terbaru ke pasaran, efeknya, motor ini dalam sekejap langsung hilang ditelan bumi! Motorcyclenews (MCN) pernah membuat artikel yang berisi penemuan unit Petronas FP1 masih tersimpan rapi di area pabrik produksinya di Essex, Inggris, tahun 2011 lalu. Berapa unit yang terjual dan berapa unit yang masih tersimpan sebagai harta karun? Hanya Tuhan dan Petronas yang tahu….

 

Spesifikasi Foggy Petronas FP1

 

Manufaktur : MSX International & Modenas Malaysia

Model : Petronas FP1

Tahun Pembuatan : 2003 – 2006

Class : Road-Legal (Homologation Racing)

 

Engine : 4-Tak, Inline-Triple (3 Silinder), DOHC 12 Valves, Liquid-Cooled

Bore x Stroke : 88 x 49,3 mm

Kapasitas Silinder : 899 cc

Rasio Kompresi : 14.0 : 1

Sistem Penyuplai BBM : Magnetti-Marelli Electronic Fuel Injection

Transmisi : 6-Speed

Max Power : 129 HP @ 10.000 RPM

Max Torsi : 92 N.m @ 9.700 RPM

 

 

Dimensi P x L x T : 2.050 x 680 x 1.135 mm

Jarak Sumbu Roda : 1.420 mm

Tinggi Jok : 800 mm

Kapasitas Tangki BBM : 18 Liter

Berat Kosong : 181 Kg

 

Frame : Aluminium Twinspar Frame

Suspensi Depan : Ohlins 43mm Upside-Down Fork, Multi Adjustable

Suspensi Belakang : Ohlins Monoshock Full Adjustable, Aero Xylan coated Swingarm

Rem Depan : 2 x Cakram Hidrolik, 320 mm Full Floating Disc, Kaliper Brembo 4 Piston

Rem Belakang : Cakram Hidrolik, Disc 220 mm, Kaliper Brembo 2 Piston

Ban Depan : 120/70 – ZR17

Ban Belakang : 190/50 – ZR17

 

 

Troy Corser, WSBK Assen 2004 - SUPERPOLE
Troy Corser, WSBK Assen 2004 – SUPERPOLE

Mendulang 3 podium dari 4 musim keikutsertaannya di ajang balap WSBK, tenyu bukan sesuatu yang diinginkan… Apalagi bagi legenda WSBK sekelas Carl Fogarty – pemegang 4 titel Juara Dunia. Meskipun demikian, dari Petronas FP1 ini kita bisa ambil pelajaran, ternyata mendevelop dan membuat sebuah motor balap yang kompetitif tak semudah jualan bensin di Indonesia dalam waktu 7 tahun. Dan yang dibahas disini WSBK, bukan MotoGP yang jadi target awal mereka.

Saat aspek penting seperti spek, teknis, dan homologasi mampu diwujudkan – ternyata masih ada hal lain yang ikut berpengaruh: Waktu & Nasib.

5 comments

  1. Good work kang, jujur setelah membaca artikel ini sy baru tau mengenai Petronas FP1. Meskipun mereka (petronas) gagal setidaknya mereka mempunyai “big dream”, “try-ing” (mencoba & berusaha) dan “Move On”. Kegagalan bukanlah ” game over”, melalui kegagalan setidaknya mereka mendapatkan pengalaman yg sangat berharga, dan pengalaman ini akan dijadikan pondasi untuk menyusun planing kedepannya. Hari ini kita bisa menyaksikan bagaimana kiprah mereka di F-One & Moto Gp, dua grand prix terbesar sejagat otomotif.
    Seingat sy:
    Di F-One mereka memulai dari minor sponsor BMW-Sauber, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi major sponsor di Mercedes-Amg.
    Di Moto Gp mereka memulai dari kelas moto3 & moto2 bersama pembalap lokal mereka sebelum akhirnya naik ke Moto Gp.
    Dari 2 contoh diatas mereka memulai dari ke-cil – ke-be-sar, sangat berbeda dgn proyek Petronas F1 yg langsung membangun dari 0. Sekali lagi pengalaman itu sangat penting dan tak ternilai, hal ini yg tidak bisa dipahami oleh pejabat/politisi dinegara ini berkaca dari kasus Rio Haryanto, saking mirisnya dia(Rio) bahkan tidak diberikan kesempatan untuk menuntaskan 1 musim penuh ditahun pertamanya. Sejak itu sy pribadi berhenti menonton F1.
    Maaf oot Kang, salam 🙂

  2. “Saat Petronas FP1 diikutsertakan di kejuaraan WSBK 2003, FIM merubah regulasi dengan memperbolehkan motor berkapasitas 1000cc untuk kategori 2, 3, ataupun 4 silinder.”

    “Karena sudah terlanjur riset dan menghabiskan banyak biaya development mesin 899cc 3 Silinder (termasuk versi produksi) – serta waktu yang sudah mepet – akhirnya Superbike Malaysia rasa Eropa ini pun dipaksa melawan raksasa Jepang & Eropa lain yang jauh lebih superior.”

    Tidak terdengar sebagai sebuah kebetulan (ato kesialan), tapi sepertinya ada unsur kesengajaan. Sepertinya ada pihak2 tertentu yg merasa takut akan kehadiran FP1, lalu melobi FIM utk merubah regulasi.

    Entahlah…

    • AFAIK, bukannya memang waktu itu banyak banget protes dari jepang soal regulasi mesin 2-Cyl (Ducati) ya? Makanya regulasinya diubah, sesuai lobi tim waktu2 itu. Nah, si FP1 ini kebagian ampas sialnya aja kayaknya.

      • Seandainya FIM menunda keputusannya paling tidak setahun, mungkin aja FP1 bisa lebih beruntung, paling tidak untuk semusim.

Silahkan Berikan Komentar Brosist yaa ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s