Replika GP500 Paling Ekstrim, Suzuki RG500 Gamma!

Sejak awal era 70-an, Suzuki menjadi salah satu pabrikan pencetus ide-ide gila untuk motor berperforma tinggi. Di tahun 1971 mereka menghadirkan GT750 dengan mesin 2-Tak inline triple berkapasitas 750cc buat melawan superbike 4-tak Honda dan pabrikan Eropa.

Suzuki RE5 & GT750

Nggak mau berhenti, mereka kembali merilis motor gokil selanjutnya. Kali ini RE5 yang datang di tahun 1973 dengan mesin wankel rotary enginenya yang ikonik sekaligus super kompleks dimasanya. Sayangnya, gara-gara krisis energi di era tersebut, GT750 sama RE5 harus pensiun dini karena mesin keduanya terlalu boros, konsep overall motornya disebut aneh, dan teknologinya juga dinilai terlalu kompleks buat orang awam.

Hmm, mungkin dari sini ya awal mula motor Suzuki itu sering dapat julukan melampaui jaman.

Setelah RE5, praktis Suzuki mulai kelihatan konservatif. Hingga memasuki awal 80-an, mereka fokus ke produk yang memang logis secara spek, plus punya target pasar cukup tinggi. Sampai akhirnya semuanya dalam sekejap berubah sewaktu Yamaha memperkenalkan RD500 di pameran Milan Motor Show tahun 1983. Dan langsung laris manis juga!

Nah, melihat kesuksesan RD500 tadi, Suzuki langsung mengumpulkan engineer terbaik mereka. Kemudian, sebuah proposal pun dibuat yang isinya adalah development Motor Replika GP500 kebanggaan mereka: Suzuki RG500.

Targetnya? Well, para engineer Suzuki itu dikasih satu goal, yaitu semua aspek di replika RG500 versi jalanan ini harus lebih baik dari kompetitor. Itu artinya, motor ini harus punya power yang lebih gede, teknologi lebih bagus, sasis lebih mumpuni, dan segalanya pokoknya harus lebih bagus dari RD500 punya Yamaha. Buset, targetnya sih simpel, tapi eksekusinya dijamin lieur.

Tapi kerennya, they did.

Gimme A Gamma

Di musim 1984, Barry Sheene menunggangi XR45 versi musim lalu dengan support dari sponsor

Di penghujung musim 1983, Suzuki secara mengejutkan memutuskan untuk mundur dari kelas GP500. Well, nggak mundur total sih, mereka masih bikin mesin buat tim privat, tapi support factory nya distop pada musim tadi. Loh, kenapa kang? Bukannya musim 1982 yang Juara Dunia itu Suzuki ya?

Ya, memang benar. Tapi ada beberapa faktor yang bikin Suzuki memutuskan buat mundur. Yang pertama dan faktor yang paling utama, mereka itu sadar, bagaimanapun cara mereka mengoprek mesin Square Four RG500, mesin ini mulai terasa ketinggalan jaman dibanding V-Engine generasi terbaru dari Yamaha & Honda. So, buat memfokuskan diri mendevelop generasi terbaru RG500, mereka pilih mundur buat sementara.

Faktor yang kedua, Suzuki juga sadar ancaman Yamaha & Honda di segmen motor produksi masal. Dan untuk bisa mengimbangi kegokilan duo raksasa Jepang tadi, Suzuki dipaksa harus melakukan R&D secara intensif untuk produk baru mereka – khususnya dikelas yang kompetitif kayak moge 750cc sampai 1 liter. Sayangnya, karena Suzuki nggak punya sumber daya masif kayak kedua kompetitor tadi, Suzuki terpaksa harus mengorbankan program GrandPrix mereka.

Dan yang terakhir, pada awal tahun 1983, mata-mata Suzuki mengendus pergerakan Yamaha yang menyiapkan motor replika GP500 versi produksi masal… Which is nantinya jadi RD500 yang sudah kita bahas disini. Dan buat mengcounter pergerakan Yamaha tadi, Suzuki membutuhkan bantuan dari engineer program GP mereka buat mendevelop motor replika RG500 versi jalanan. Dan karena fokusnya jadi terbagi – buat bisa sukses – otomatis jalan terbaiknya harus ada salah satu yang dikorbankan. Dan akhirnya kalian tahu deh program mana yang jadi korban.

Sketsa awal Replika GP500 Suzuki

Karena target Suzuki buat motor Replika GP500 itu simpel tapi eksekusinya susah. Mereka mengutus Etsuo Yokouchi sebagai penanggung jawab program replika RG500. Kalau kalian setia pantengin rubrik History Lesson disini, pastinya sudah nggak asing deh sama nama ini. Yap, Etsuo ini juga yang sebelumnya mendesain mesin Inline-triple GT750, dan salah satu orang yang berada dibalik kesuksesan RG500 dibalapan GrandPrix.

Jadi kalau Suzuki mau bikin proyek replika motor balap versi jalanan, Etsuo inilah yang paling cocok buat mimpin proyek nya. Ya gimana nggak cocok, lah wong dia yang bikin RG500 original!

Karena nggak mau ketinggalan jauh dari Yamaha, Suzuki langsung memulai proyek replika GP500 ini pada pertengahan tahun 1983. Tapi ada satu problem, gimana caranya bikin motor yang lebih segala-galanya dari RD500? Nah, Etsuo Yokouchi punya sebuah jawaban simpel buat masalah ini. Menurut doi, kenapa nggak bikin RG500 original aja terus dikasih lampu, spion, sama perlengkapan road-legal lain. Kan dijamin tuh pasti bakal jauh lebih edan dari RD500.

Franco Uncini – Suzuki XR45 – 1983

Masalahnya, waktu itu Suzuki RG500 XR45 masih berlomba dibalapan GrandPrix ditangan Franco Uncini dkk. Jadi kalau misalnya mereka bikin ke versi jalanan, otomatis teknologi Suzuki bakal rawan banget dipelajari sama pabrikan lain. Yang model begini rahasia pabrik bro, nggak ada harganya.

Nah, untungnya, Suzuki memutuskan mundur dari GP500 di tahun yang sama. So, nggak ada salahnya kan bikin XR45 versi jalanannya? Lagian habis ini juga Suzuki bakal comeback pakai motor baru. Istilahnya, daripada mubazir, mending XR45 nya dibikin ke versi road legal. Iya nggak?

Dan dari sinilah project XR45 versi jalanan dimulai.

41 comments

  1. gils banget, 156 kilo doang, lebih berat ninin fi :D,
    gimana ya kalo suzuki bikin 2 tak 1000cc 250hp nyampe kali ya

  2. Lebih dikenal dengan mesin V dempet alias sudut sempit yah. Terkenal bgt tuh….. Dan masih pakai sistem rotary di dkt intake manifold bukan reed valve, jd enak diputaran atas. Sama kayak kawasaki AR125. Keren masbro..

Silahkan Berikan Komentar Brosist yaa ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s